Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Kapitan Pattimura: Akhir Perjuangan di Tiang Gantungan

3 min read

gambar-kapitan-pattimura-tirto,id

Kapitan Pattimura adalah salah satu tokoh yang dianugerahi sebagai pahlawan kemerdekaan. Kita pasti sering melihat gambarnya karena terpatri dalam uang kertas pecahan seribuan. Meskipun telah sering dilihat, namun banyak orang masih tidak mengetahui sejarah perjuangan dari tokoh pahlawan kemerdekaan itu. Untuk itu, pada pembahasan di bawah ini Munus telah meringkas beberapa informasi mengenai pahlawan kemerdekaan ini mulai dari sejarah, biografi, sampai pada perjuangannya.

Biografi Kapitan Pattimura

Nama asli Kapitan Pattimura adalah Thomas Matulessy. Ia lahir pada tanggal 8 Juni 1783. Ia lahir di kampung halamannya di Maluku Tengah tepatnya di wilayah yang bernama Haria di daerah Saparua. Ayahnya bernama Frans Matulessy dan sang ibu bernama Fransina Tilahoi.

Dikabarkan bahwasanya Pattimura sendiri merupakan keturunan bangsawan dan berasal dari Nusa Inam (Seram). Garis keturunan sebagai bangsawan itu ia dapatkan dari sang ayah yang merupakan putra raja Sahulau. Sahulau adalah nama orang yang hidup dan berada di sebuah teluk di Seram.

Sejarah Kapitan Pattimura

gambar-kapitan-pattimura-tanyajawab,idntimes,com
Kapitan Pattimura, Foto Oleh Tanyajawab.idntimes. com

Kapitan Pattimura adalah seorang pahlawan pra kemerdekaan yang berasal dari daerah timur Indonesia, tepatnya daerah Maluku. Sepak terjang kehidupannya sangat luar biasa dimana mulai dari masa kecilnya ia sudah merasakan bagaimana pahitnya kehidupan. Pada masa kanak-kanak ia senasib dengan yang lainnya hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

Kekurangan yang dirasakan diakibatkan oleh monopoli yang dilakukan kompeni Belanda dalam segala bidang. Di zaman tersebut, kompeni Belanda menerapkan kerja rodi kepada masyarakat Indonesia timur yang apabila mereka menolak atau tidak melaksanakannya maka hukuman gantung dan cambuk akan menantinya. Dalam kondisi kehidupan yang begitu keras itulah seorang Pattimura tumbuh menjadi dewasa.

Semasa ia tumbuh, Inggris pernah merebut tampuk kekuasaan di Maluku dari kompeni Belanda. Rakyat Maluku menyambut pemerintahan Inggris dengan sangat senang karena banyak terjadi perkembangan yang signifikan dan bahkan kerja rodi ditiadakan. Ketika Inggris menduduki Maluku inilah perlahan terbentuk seorang Thomas Matulessy yang berpikiran lebih matang.

Pada masa itu Inggris mengeluarkan pengumuman untuk para pemuda yang berkeinginan untuk dilatih menjadi tentara Inggris. Mendengar hal tersebut, Pattimura bersama teman-temannya tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mendaftarkan dirinya. Tak diragukan lagi, ia termasuk salah satu dari 500 orang yang berhasil masuk seleksi tersebut yang kemudian dilatih bagaimana layaknya seorang tentara.

Sebagai seorang yang berhasil masuk sebagai tentara Inggris, ia pun diberikan seragam dan dipersenjatai. Selain itu, ia beserta tentara lainnya diberi pelatihan mengenai tata cara menyerang dan bertahan. Tanpa kenal lelah ia pun terus berlatih hingga seiring berjalannya waktu kemampuannya berhasil melampaui  rekan-rekannya dalam hal keterampilan dan jiwa kepemimpinannya. Oleh karena itu ia diangkat oleh Inggris sehingga menyandang jabatan sebagai Sersan Mayor.

Baca juga: 20 Tokoh Proklamasi: Pahlawan Dibalik Proklamasi Kemerdekaan RI

Perjuangan Kapitan Pattimura

gambar-kapitan-pattimura-tribunnewswiki,com
Kapitan Pattimura, Foto Oleh Tribunnewswiki. com

Perjuangan yang sebenarnya dari Kapitan Pattimura dimulai pada berakhirnya pemerintahan Inggris di Maluku. Pemerintahan Inggris di maluku berakhir pada tahun 1816 akibat perjanjian di benua Eropa yang mana Inggris harus menyerahkan kembali tampuk kekuasaan akan Maluku kepada Belanda. Akibatnya, banyak rakyat Maluku yang tidak senang dengan keputusan itu dan memilih untuk memberontak sebagai bentuk protesnya.

Pada pemberontakan tersebut, yang ditunjuk sebagai panglima perang oleh rakyat Maluku adalah Pattimura. Ia ditunjuk berkat kebolehannya dalam kemampuan berperang dan juga hebat dalam menyusun strategi. Tujuan utama dari strategi tersebut adalah untuk menyingkirkan Belanda dari benteng Duurstede. 

Sebagai panglima perang yang bertanggung jawab mengatur segala hal, ia merancang strategi dengan dibantu oleh pembantunya. Tak hanya itu, sebagai panglima perang ia juga berhasil memimpin dan mengkoordinir para raja dan patih agar bersedia untuk ikut andil dalam gerakan tersebut. Para raja dan patih juga ikut ambil peran khususnya pada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan seperti memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan, serta membangun benteng-benteng pertahanan.

Perang yang diberi nama Pattimura itu terjadi pada tanggal 16 Mei 1817 bertepatan dengan upaya kembalinya Belanda ke Maluku. Sebagai panglima perang, Pattimura diberi gelar kapitan sehingga ia disebut sebagai Kapitan Pattimura. Pertempuran luar biasa itu terjadi dengan dengan hasil akhir tewasnya semua tentara Belanda yang ada di benteng Duurstede termasuk Residen Van den Berg di bawah pimpinan perang Kapitan Pattimura. 

Pihak Belanda yang mendengar tewasnya seluruh tentaranya itu kembali mengirim pasukan untuk merebut kembali benteng dan menghancurkan pasukan tentara Pattimura. Pasukan kedua yang dikirim Belanda ini datang dengan persiapan yang cukup baik diantaranya persenjataan yang lebih modern dan jumlah pasukan yang lebih banyak. Akibatnya, pasukan panglima perang Pattimura kewalahan dalam menghadapi para tentara Belanda yang dipersenjatai dengan lengkap dan dalam jumlah yang besar itu.

Akhir Perjuangan Kapitan Pattimura

Kekalahan yang dialami oleh tentara Maluku ketika menghadapi Belanda berakhir dengan ditangkapnya Pattimura. Ia ditangkap di sebuah rumah di Siri Sori bersama beberapa anggota pasukannya hingga kemudian dibawa ke Ambon. Pada masa ia ditangkap itu, pihak Belanda menawarkan pembebasan dengan syarat ia bersedia untuk bekerjasama dengan pemerintah Belanda. 

Dengan keteguhan hati dan kecintaannya akan tanah air Indonesia, ia menolak mentah-mentah tawaran Belanda tersebut. Ia berujar kepada dirinya sendiri bahwa ia lebih baik mati secara terhormat daripada harus mengkhianati bangsa sendiri. Hingga pada akhirnya tokoh pejuang kemerdekaan ini mengakhiri masa perjuangannya di tiang gantungan pada 16 Desember 1817. Sebagai bentuk apresiasi akan kegigihannya dalam memperjuangkan kemerdekaan, kapitan Pattimura kemudian dikukuhkan sebagai “Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan” oleh pemerintah Republik Indonesia.

Kesimpulan

Kapitan Pattimura sebagai seorang pahlawan pra kemerdekaan yang berasal dari Maluku berjuang melawan kesewenangan pemerintahan kolonial Belanda. Ia bersama-sama merangkul rakyat Maluku untuk berjuang bersama meraih kemerdekaan, Perjuangan Kapitan Pattimura sangat patut untuk diperkenalkan kepada generasi muda sebagai acuan bagaimana seorang warga negara bersikap dan bertindak.

Baca juga: Tan Malaka – Bapak Republik Si Pemikir Kritis

Last Updated on Januari 14, 2021

Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up