Kerajaan Mataram Islam | Sejarah Lengkap, Nama Raja, & Peninggalan

6 min read

wilayah lokasi kerajaan mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam atau Kesultanan Mataram merupakan salah satu kerajaan islam yang pernah berjaya di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Kerajaan yang berdiri sejak abad ke-16 ini berperan penting dalam penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa.

Banyak tokoh Islam berpengaruh yang berasal dari kerajaan tersebut, salah satunya adalah Panembahan Senapati, raja kedua kerajaan Islam berpengaruh pada masa itu.

Masa kejayaan kerajaan terjadi saat berhasil menyatukan Pulau Jawa (kecuali Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon) dan Madura. Uniknya, kerajaan tersebut berbasis agraris atau pertanian, tidak seperti kerajaan besar lainnya yang berbasis maritim.

Sehingga kerajaan tersebut termasuk kerajaan yang subur dengan hasil pertanian yang melimpah. Dari itulah kerajaan Islam ini pantas memiliki tempat sebagai kerajaan berpengaruh yang pernah berkuasa di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. 

Sejarah Kerajaan Mataram Islam 

Sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam berawal dari pemberian sebuah hutan bernama Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pamanahan oleh Sultan Hadiwijaya, raja pertama Kerajaan Pajang.

Pemberian hutan tersebut dalam rangka jasa Ki Ageng Pamanahan dalam menaklukkan Arya Panangsang asal Jipang Panolan. Pada 1584, Ki Ageng Pamanahan yang merupakan bupati Mataram wafat dan digantikan oleh anaknya, Danang Sutawijaya. 

Baca juga: Sejarah Kerajaan Tertua Nusantara, Kerajaan Samudra Pasai

Sejarah Kerajaan Mataram Islam berlanjut ketika Danang Sutawijaya berhasil merebut wilayah Pajang sehingga naik tahta dan mendapat gelar Panembahan Senapati.

Dalam merebut wilayah Pajang tersebut terdapat banyak halangan dan rintangan yang harus dilewati Sutawijaya. Keinginan Sutawijaya untuk memperkuat sistem pertahanan wilayah Mataram mendapat respon negatif dari Sultan Hadiwijaya. Sehingga Sultan Hadiwijaya mengirim pasukan kerajaannya untuk menyerang Mataram. 

Sebagai bupati Mataram saat itu, Sutawijaya berusaha mempertahankan wilayah sekaligus keinginannya demi pemerintahannya. Kedua kerajaan berperang dengan sengit, hingga akhirnya pasukan Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang mengakui kekalahan diakibatkan badai letusan Gunung Merapi dan wafatnya Sultan Hadiwijaya dikarenakan penyakit yang dideritanya. Namun terdapat perselisihan di antara bangsawan Pajang untuk merebut kekuasaan Kerajaan Mataram. 

Sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun berlanjut. Menantu Sultan Hadiwijaya yang sekaligus Bupati Demak pada saat itu bernama Pangeran Pangiri berniat merebut tahta kerajaan. Tetapi tindakan Pangeran Pangiri mendapat pertentangan dari para bangsawan Pajang karena mereka beranggapan bahwa Kerajaan Mataram sudah seharusnya berada di bawah kekuasaan Sutawijaya.

Mendapat respon negatif dari para bangsawan, Pangeran Pangiri harus rela dipukul mundur dalam perebutan kekuasaan di Pajang. Sehingga para bangsawan bisa memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Pajang ke Mataram pada 1588 dan Kerajaan Mataram resmi berdiri yang dipimpin oleh Panembahan Senapati sebagai raja pertamanya.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Masa Jaya hingga Peninggalannya

Keraton dan pusat pemerintahannya saat itu berada di Kotagede, yang sebelumnya berada di wilayah Banguntapan. Seiring berjalannya waktu, Panembahan Senopati wafat dan dimakamkan di Kotagede. Tahta kerajaan diturunkan kepada putranya yang bernama Raden Mas Jolang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati. 

Hanya saja sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Hanyakrawati tidak berlangsung lama. Diakibatkan wafatnya Hanyakrawati karena kecelakaan saat berburu di sekitar Hutan Krapyak. Tahta kerajaan dilanjutkan oleh putra keempat Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati yang bernama Raden Mas Wuryah bergelar Adipati Martapura.

Namun diketahui Adipati Martapura menderita penyakit saraf yang mengharuskannya untuk lengser. Tahta dilanjutkan oleh putra sulung Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati bernama Raden Mas Rangsang bergelar Sri Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma.

Pada masa pemerintahan Raden Mas Rangsang itulah kerajaan mengalami masa kejayaannya dan menjadi cerita sejarah Kerajaan Mataram Islam yang berkesan di persejarahan kerajaan Indonesia.

Raja-raja Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Islam ini pernah dipimpin oleh raja-raja terkenal dengan masing-masing pencapaian yang berperan penting untuk kerajaan. Berikut nama raja-raja Kerajaan Mataram Islam yang ditampilkan dalam silsilah Kerajaan Mataram Islam yang penting untuk Anak Nusantara ketahui. Berikut adalah nama-nama raja Kerajaan Mataram Islam:

1. Raja Kerajaan Mataram Islam: Ki Ageng Pamanahan

Ki Ageng Pamanahan belum bisa dibilang sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam. Lebih tepatnya beliau berperan dalam berdirinya kerajaan Islam terkuat saat itu. Ki Ageng Pamanahan merupakan pendiri Desa Mataram pada 1556. 

Berkat hadiah berupa hutan dari Sultan Hadiwijaya, beliau dapat mendirikan pemukiman penduduk sekaligus pemerintahan di bawah kekuasaannya. Ki Ageng Pamanahan harus menghembuskan nafas terakhirnya pada 1584 dan dimakamkan di Kotagede. Sehingga tahta kekuasaannya diturunkan kepada anaknya yang bernama Raden Mas Danang Sutawijaya, dimana ia merupakan raja sekaligus pendiri kerajaan Islam paling berpengaruh.

2. Raja Kerajaan Mataram Islam:Raden Mas Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati)

Pemerintahan Mataram dilanjutkan oleh putra Ki Ageng Pamanahan, Sutawijaya. Lahir pada 1530, Sutawijaya mempunyai peran besar dalam berdirinya Kerajaan Mataram. Hal ini dikarenakan kerajaan tersebut didirikan oleh beliau.

Sejak wafatnya Ki Ageng Pamanahan, Sutawijaya naik tahta menjadi bupati Mataram pada 1584. Peran serta beliau sangat diagungkan karena beliau merupakan raja sekaligus pendiri kerajaan dengan gelar Panembahan Senapati. Beliau memerintah kerajaan selama 14 tahun dari 1587 sampai 1601.

3. Raja Kerajaan Mataram Islam: Raden Mas Jolang (Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati)

Sepeninggal Sutawijaya, kerajaan dipimpin oleh Raden Mas Jolang yang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati. Beliau menjadi raja kedua selama 12 tahun dari 1601 sampai 1613.

Tidak seperti pendahulunya, kerajaan di bawah kekuasaannya sering mengalami peperangan yang disebabkan adanya penaklukan wilayah sekaligus mempertahankan wilayah kerajaan. Raden Mas Jolang wafat pada 1613 diakibatkan kecelakaan yang menimpanya saat berburu di sekitar Hutan Krapyak dan dimakamkan di makam agung Kotagede.

4. Raja Kerajaan Mataram Islam: Raden Mas Wuryah (Adipati Martapura)

Sejarah Kerajaan Mataram Islam juga menyimpan cerita menarik. Ada salah satu raja yang hanya menjabat selama 1 hari, yaitu Adipati Martapura. Beliau merupakan putra keempat dari Raden Mas Jolang. Alasan jabatan rajanya hanya sehari dikarenakan diketahui beliau menderita penyakit saraf yang mengharuskannya untuk lengser. Sehingga pada 1613 adalah hari pertama dan terakhir beliau naik tahta sebagai raja Kerajaan Mataram.

5. Raja Kerajaan Mataram Islam: Raden Mas Rangsang (Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrakusuma)

Dikarenakan masalah kesehatan yang mengharuskan Adipati Martapura lengser dari tahtanya dalam sehari, kerajaan harus berpindah tangan ke putra sulung Raden Mas Jolang bernama Raden Mas Rangsang dengan gelar Sri Susuhunan Hadi Hanyakrakusuma.

Beliau bertahta sebagai raja selama 32 tahun dari 1613 sampai 1645. Masa kejayaan kerajaan Islam tersebut dapat diraih pada pemerintahannya hingga bisa menguasai hampir seluruh wilayah Pulau Jawa. 

Berkat perannya yang begitu besar untuk kejayaan kerajaan, beliau memiliki gelar besar bernama Sri Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma atau akrab dipanggil Sultan Agung.

Beliau tak hanya gentar dalam penaklukan wilayah, melainkan juga gigih dalam melawan VOC yang saat itu ingin menguasai Nusantara. Berkat perannya pula Kerajaan Mataram memiliki kekuatan di bidang agraris atau pertanian. Sultan Ageng wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.

6. Raja Kerajaan Mataram Islam: Amangkurat I (Sri Susuhunan Hadi Prabu Hamangkurat I)

Tahta kerajaan dilanjutkan oleh putra Sultan Agung yang bernama Hamangkurat atau Sultan Amangkurat. Beliau menjadi raja Kerajaan Mataram Islam selama 31 tahun dari 1646 sampai 1677.

Setahun jabatannya sebagai raja, beliau memindahkan pusat kerajinan budaya kerajaan yang awalnya di Kotagede ke Keraton Plered. Tidak seperti nenek moyangnya, Sultan Amangkurat malah bersekutu dengan VOC sehingga memicu keruntuhan Kerajaan Mataram Islam. Beliau wafat pada 10 Juli 1677 dan dimakamkan di Telagawangi, Kota Tegal.

7. Raja Kerajaan Mataram Islam: Amangkurat II (Raden Mas Rahmat)

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Sultan Amangkurat meninggalkan pesan untuk kerajaan bahwa sepeninggal dirinya kerajaan akan dipimpin oleh Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II atau Sultan Mataram.

Diketahui bahwa Sultan Mataram merupakan raja sekaligus pendiri Kasunanan Kartasura yang merupakan kelanjutan Kerajaan Mataram yang runtuh akibat ayahnya sendiri, Sultan Amangkurat. Beliau menjadi raja selama 26 tahun dari 1677 sampai 1703. Tercatat dalam sejarah Kerajaan Mataram Islam, Amangkurat II adalah raja pertama yang menggunakan pakaian dinas bernuansa Eropa.

Letak Kerajaan Mataram Islam

wilayah lokasi kerajaan mataram Islam
Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, ilustrasi oleh MuseumNusantara

Kerajaan Islam ini dipercaya berada di pusat kawasan Kotagede, yang kini menjadi Kota Yogyakarta. Wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Kerajaan Pajang yang saat ini menjadi Provinsi Jawa Tengah. Berkat pemerintahan Sultan Agung periode 1613 – 1645, wilayah kekuasaan kerajaan diperluas hingga ke Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur seperti Surabaya, Lasem, Pasuruan, Tuban, dan Madura.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

Puncak kejayaan kerajaan terjadi setelah Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung naik tahta menjadi raja terkenal Kerajaan Mataram Islam selama tahun 1612 – 1645. Selama pemerintahannya beliau berekspansi ke hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa yang juga dilatarbelakangi untuk kepentingan kerajaan.

Usaha tidak mengkhianati hasil, dalam sejarah tertulis bahwa pada masa kepemimpinannya lah puncak kejayaan kerajaan dapat diraih dengan sukses. Beliau mampu memperluas kekuasaan Mataram mulai dari sebagian besar wilayah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, serta Madura. 

Selain itu Sultan Agung berani melawan VOC saat VOC menyerang wilayah kekuasaannya yang diakibatkan permasalahan perdagangan. Dengan bantuan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon, Kerajaan Mataram dapat berperang melawan balik VOC. 

Keruntuhan Kerajaan Mataram Islam

Cerita runtuhnya Kerajaan Mataram Islam dimulai pada saat kerajaan berada di bawah kekuasaan Sri Susuhunan Hadi Prabu Hamangkurat I atau Amangkurat I. Diketahui bahwa kerajaan di bawah kekuasaannya berada di posisi yang kurang stabil karena banyaknya respon ketidakpuasan masyarakat dengan pemerintahannya sehingga banyak terjadi pemberontakan.

Pemberontakan terjadi karena adanya desakan dari pasukan Trunajaya agar Amangkurat I bersekutu dengan VOC. 

Keruntuhan Kerajaan Mataram Islam terasa semakin dekat semenjak tahta kerajaan yang diteruskan kepada Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II yang merupakan putra dari Amangkurat I. Amangkurat II ternyata malah lebih patuh terhadap VOC yang membuat bangsawan kerajaan semakin geram.

Keluhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan kerajaan tidak terelakkan. Kekacauan pemerintahan kerajaan baru bisa teratasi saat Pakubuwana III naik tahta menjadi raja Kerajaan Mataram Islam. Beliau membagi kerajaan menjadi dua wilayah yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada 13 Februari 1755 yang tercantum dalam Perjanjian Giyanti. Dengan disepakatinya perjanjian tersebut, berakhirlah kerajaan Islam paling berpengaruh pada masanya. 

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Seiring dengan megahnya kerajaan Islam yang paling berpengaruh pada masa itu, peninggalan Kerajaan Mataram Islam juga banyak tersebar di penjuru Pulau Jawa. Berbagai jenis peninggalan ditemukan sebagai bukti kejayaan kerajaan yang masih bisa Anak Nusantara lihat sampai sekarang. Berikut Munus bagikan informasi beberapa peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam: Pasar Kotagede

Pasar yang sudah berdiri sejak pemerintahan Panembahan Senopati ini masih bisa anda kunjungi. Disana menyimpan cerita sejarah kerajaan dengan filosofi menyerupai tata kota kerajaan di Jawa dimana keraton, pasar, dan alun-alun diposisikan menurut poros utara-selatan.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam: Kompleks Makam Kerajaan Imogiri

Kompleks pemakaman yang dikhususkan untuk para pendiri Kerajaan Mataram Islam. Makan tersebut hingga kini masih terus dijaga oleh para abdi dalem selama 24 jam.

  1. Puing-puing candi di sekitar aliran Sungai Opak dan Sungai Progo.
  2. Batu Datar, berlokasi di barat daya Kota Yogyakarta.
  3. Masjid Agung Negara, masjid yang dibangun oleh Pakubuwana III pada tahun 1763.
  4. Masjid Jami Pakuncen, masjid yang dibangun oleh Amangkurat I.
  5. Gapura Makam Kotagede

Terletak di Kompleks Makam Kerajaan Imogiri yang memiliki arsitektur campuran budaya Hindu dan Islam.

  1. Masjid Makam Kotagede
  2. Makam raja-raja Kerajaan Mataram Islam
  3. Gerbang Makam Kotagede
  4. Pertapaan Kembang Lampir

Merupakan tempat Ki Ageng Pamanahan bertapa.

  1. Kampung Matraman di Jakarta
  2. Sastra Gendhing karya Sultan Agung
  3. Kerajinan perak
  4. Kalang Obong

Sebuah tradisi untuk kematian seseorang dengan membakar beberapa barang peninggalan orang yang telah meninggal.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam: Kue Kipo

Makanan tradisional yang dipercaya telah ada sejak kerajaan pertama kali didirikan.

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam: Segara Wana dan Syuh Brata

Meriam-meriam dari Belanda sebagai hadiah perjanjian kerajaan dengan Belanda pada masa kepemimpinan Sultan Agung.

  1. Pakaian Kiai Gundil atau Kiai Antakusuma
  2. Bangsal Duda
  3. Rumah Kalang
  4. Tahun Saka
  5. Tulisan Carakan dalam literatur Bahasa Sunda

Nah bagaimana, sekarang Anak Nusantara kembali ingat kan sejarah kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, yang peninggalannya pun sebagian masih eksis hingga sekarang.

Yuk, baca juga sejarah kerajaan Banten, lengkap dengan nama-nama raja, peninggalan, masa jaya, hingga keruntuhannya.

Last Updated on Oktober 15, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up