Gajah Mada: Pemersatu Nusantara Dalam Ikatan Sumpah

2 min read

Gambar-gajah-mada

Pada zaman kerajaan Majapahit terdapat seseorang yang sangat berjasa terhadap kemajuan kerajaan Majapahit, ia dikenal dengan nama Gajah Mada. Setiap menyebut kata Majapahit, namanya pasti akan selalu disandingkan dengan masa keemasan dari pemerintahan Majapahit. Upaya-upayanya dalam mempersatukan Nusantara ia kukuhkan dalam sumpah palapa. Seperti apa sejarah lengkap perjuangan pahlawan Majapahit ini telah Munus rangkum sebagai berikut.

Sejarah Mahapatih Gajah Mada

Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1290. Sedari kecil ia sudah belajar bela diri dan menguasainya dengan baik. Berkat kepiawaiannya dalam menguasai beladiri membuahkan hasil dirinya dapat menyelamatkan seorang raja Majapahit bernama Prabu Jayanegara pada usianya yang masih terbilang cukup muda, yaitu 19 tahun. Ia adalah seseorang yang dikenal sebagai pemuda yang sangat cinta akan tanah airnya sehingga siap untuk berjuang dalam memajukan Majapahit.

Sebagai seorang yang cinta akan tanah air, ia kemudian membuktikan dirinya dengan cara mengabdikan dirinya kepada kerajaan Majapahit. Hingga pada tahun 1319, ia diangkat menjadi Patih Kahuripan. Dan dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1321 ia kembali diangkat sebagai seorang patih, kali ini sebagai Patih Kediri. 

Dikarenakan kepemimpinan dan tanggung jawabnya menjadi seorang Patih, ia sempat ditawarkan oleh Aryo Tadah, yang saat itu menjabat sebagai patih, untuk menggantikan dirinya menjadi Patih Majapahit. Namun, tawaran tersebut tidak ia terima lantaran ia merasa belum pantas dan ingin membuktikan kemampuan diri terlebih dahulu dengan cara menertibkan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi. 

Tahun 1334, pahlawan Majapahit ini dinobatkan sebagai Patih Majapahit setelah berhasil menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Jayanegara. Saat penobatan itulah Patih Gajah Mada kemudian mengucapkan sumpah yang sangat terkenal yaitu Sumpah Palapa.

Sumpah Palapa tersebut berisi tentang niatan Mahapatih dari kerajaan Majapahit ini untuk mempersatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sebelum hal tersebut direalisasikan, maka Patih Gajah Mada akan berpuasa dengan tidak memakan buah palapa sampai dia berhasil mewujudkan cita-citanya. 

Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk

Gambar-gajah-mada
Gambar Gajah Mada, Foto Oleh Jawatimuran.wordpress. com

Setelah pengucapan Amukti Palapa tersebut, Patih Gajah Mada memulai perjuangannya untuk menjadikan Majapahit sebagai kerajaan terbesar yang menyatukan beberapa daerah menjadi satu kesatuan sebagai Nusantara. Bentuk realisasi dari Sumpah Palapa tersebut terjadi pada pemerintahan raja keempat Majapahit, yakni Hayam Wuruk. 

Masa pemerintahan Hayam Wuruk adalah masa keemasan dari Majapahit berkat jasa perjuangan Mahapatih Gajah Mada. Hal ini dapat dibuktikan dengan meluasnya wilayah kekuasaan Majapahit mulai dari Melayu (Sumatera), Tanjungpura (Kalimantan), Semenanjung Melayu (Malaka), sebelah Timur Jawa dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Irian Barat, dan Jawa (kecuali Kerajaan Sunda Galuh dan Sunda Pakuan). Berkat kesuksesan yang diraih oleh Patih Amangkubumi Gajah Mada itu kemudian berimbas pada pengaruhnya di Majapahit yang dapat dikatakan bahwa ia memiliki pengaruh yang lebih besar daripada Raja Hayam Wuruk.

Baca juga: Kerajaan Majapahit: Sejarah, Raja, dan Peninggalan

Amanat Mahapatih Gajah Mada

Gambar-gajah-mada
Gambar Gajah Mada, Foto Oleh Borobudurnews. com

Keberhasilan yang dicapai oleh Mahapatih Majapahit ini tentunya tidak lepas dari peran para prajurit yang membersamainya. Kekuatan prajurit Majapahit sangat disegani oleh kerajaan lain sehingga tidak ingin berurusan ataupun mencari masalah dengan mereka. Pasukan yang dinamai sebagai bhayangkara ini diresmikan oleh Mahapatih dari Majapahit itu sendiri yang tidak lain adalah Mahapatih Gajah Mada.

Ketika melantik para anggota dari pasukan bhayangkara, Mahapatih Majapahit ini memberikan amanat kepada mereka. Total amanat yang ia sampaikan untuk menjadi seorang bhayangkara yang baik ada empat. Keempat poin yang disampaikan tersebut adalah panduan bagi tiap-tiap anggota untuk menjadi seorang prajurit bhayangkara sejati. Berikut adalah ulasan mengenai amanat yang disampaikan kepada para prajurit bhayangkara.

Trisna, tan satrisna

Kata trisna, tan satrisna memiliki arti tidak pilih kasih. Maksud dari tidak pilih kasih di sini adalah tidak berat sebelah ketika menilai atau memutuskan sesuatu.  Kata lain dari tidak berat sebelah adalah objektif, yaitu memandang segala sesuatu berdasarkan fakta dan tidak boleh hanya berdasar kecondongan pribadi.   Dengan begitu, sebagai prajurit bhayangkara sejati mereka telah menerapkan berlaku adil dalam kehidupan sehari-hari.

Haniakan musuh

Arti dari haniakan musuh adalah enyahkan atau musnahkan musuh. Maksudnya adalah ketika menghadapi musuh janganlah kita berkrompomi untuk berlaku lemah terhadap mereka, namun tetap lah pada tujuan awal yaitu menaklukkan musuh bersama. Dengan begitu ketegasan sebagai seorang prajurit dapat terbukti dan akan semakin disegani oleh musuh.

Satya haprabu

Taat kepada pembesar merupakan arti dari kata satya haprabu. Pembesar di sini merujuk pada raja dan juga kerajaan majapahit itu sendiri. Sebagai seorang prajurit yang membela negara maka sudah sepatutnya memiliki rasa taat yang besar kepada pimpinan terutama cinta kepada tanah air. Dengan begitu akan didapat jiwa perjuangan yang akan membangkitkan semangat perjuangan melindungi tanah air bagi seorang prajurit.

Ginong Pratidina 

Memiliki arti tekun dalam menegakkan kebenaran, ginong pratidina mencerminkan sikap tekun dalam menghasilkan sesuatu dengan tujuan yang baik. Watak tekun harus dimiliki oleh seorang prajurit seperti contoh pada saat berlatih mereka haruslah tetap sabar dan tekun agar senantiasa memperoleh hasil yang memuaskan khususnya dalam kemampuan bertarung. 

Kesimpulan

Sebagai seorang Mahapatih di kerajaan Majapahit, Gajah Mada telah membuktikan kemampuan dirinya dalam menyatukan beberapa wilayah menjadi satu wilayah bernama Nusantara di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit. Berkat jasanya dalam memperluas wilayah pemerintahan Majapahit, ia dianugerahi sebagai Mahapatih yaitu kekuasaan tertinggi setelah raja.

Baca juga: Yuk Intip Situs Majapahit di Museum Trowulan Mojokerto!

Last Updated on Desember 22, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up