Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

RA Kartini: Pendekar Emansipasi Perempuan Pribumi

4 min read

ra kartini

RA Kartini merupakan seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia yang berjuang memerdekakan kaum perempuan dari pengekangan. Meskipun tidak mengangkat senjata, namun kegigihannya dalam memperjuangkan emansipasi wanita patut kita hormati hingga saat ini. Dari jasanyalah kita para wanita sekarang ini bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan kekuatan untuk terus berkarya tanpa batas.  Yuk simak pembahasan Munus mengenai sejarah R.A Kartini serta kisah perjuangannya.

Sejarah RA Kartini Singkat

Tanggal 21 April merupakan salah satu hari bersejarah di Indonesia karena merupakan hari kelahiran dari seorang pahlawan emansipasi wanita Indonesia, Raden Adjeng Kartini. Hari tersebut ditetapkan menjadi hari bersejarah setelah 2 Mei 1964, ketika Presiden Soekarno mengeluarkan surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Dalam surat tersebut, R.A Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan hari kelahirannya juga ditetapkan sebagai Hari Kartini yang setiap tahunnya kita rayakan bersama.

Biografi RA Kartini

ra kartini
R.A Kartini dan Suami, Foto Oleh Steemit.com

Penjelasan mengenai biografi R.A Kartini mulai dari kelahiran hingga kehidupan pernikahannya dapat kamu simak dibawah ini.

Biografi RA Kartini – Kelahiran

Raden Adjeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Pendekar kaum perempuan ini merupakan keturunan priyayi atau bangsawan Jawa.

Biografi RA Kartini – Riwayat Keluarga

Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara dan menjadi anak perempuan tertua. Ia adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Beliau merupakan seorang keturunan bangsawan yang silsilahnya dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI bahkan sampai ke Kerajaan Majapahit. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga biasa bernama M.A Ngasirah. M. A Ngasirah merupakan anak dari seorang guru agama di Jepara, Kyai Haji Madirono dan istrinya bernama Nyai Haji Siti Aminah. 

Sesaat setelah Kartini lahir, ayahnya berencana untuk menjabat sebagai Bupati. Namun, peraturan pada kala itu mengharuskan bahwa seorang Bupati harus beristrikan seorang bangsawan. Dikarenakan ibunya M.A Ngasirah merupakan orang biasa, alhasil ayahnya menikah lagi dengan seorang bangsawan bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Setelah pernikahan itu, ayahnya berhasil diangkat menjadi Bupati di Jepara.

Selain sebagai keluarga bangsawan, Keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga yang cerdas dan kritis. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV merupakan seorang bupati yang diangkat pada usia muda, 25 tahun.

Biografi RA Kartini – Pendidikan

Sang kakek adalah salah satu bupati pertama yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya. Arena itu, keluarganya dikenal memiliki intelektual yang tinggi. Kakanya, Sosrokartono merupakan sosok yang pintar dalam bidang bahasa.

Kartini disekolahkan di Europe Lagere School (ELS) hingga ia berusia 12 tahun. Selama menjalani pendidikan tersebut, ia banyak belajar menguasai bahasa Belanda.

Ia berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya di Belanda atau masuk ke sekolah kedokteran di Betawi, namun sang ayah tidak mengizinkannya. Meskipun begitu, ia akhirnya diizinkan untuk belajar menjadi guru di Betawi.

Biografi RA Kartini – Kehidupan Pernikahan

Setelah umurnya 12 tahun, ia tidak diperbolehkan meneruskan pendidikannya karena harus segera dipingit dan dinikahan. Ia menikah dengan seorang Bupati Rembang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang pada saat itu telah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903 di usia 24 tahun. Setelah menikah ia mengganti gelarnya yang sebelumnya Raden Adjeng menjadi Raden Ayu sesuai dengan tradisi Jawa.

Dari pernikahan tersebut, ia dikarunia seorang putra bernama Soesalit Sjojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904.

Perjuangan RA Kartini bagi Bangsa Indonesia

Perjuangan R.A Kartini melalui sikap kritisnya terhadap perlakuan yang tidak adil kepada kaum perempuan dimulai ketika ia dipaksa meninggalkan sekolahnya dan harus menikah di usia yang sangat muda. Apalagi ia juga merupakan sosok yang gemar membaca, ia banyak membaca mengenai isu dan kebudayaan Eropa melalui surat kabar dan majalah.

ra kartini
Foto Keluarga R.A Kartini, Foto Oleh Kumparan.com

Ia juga sempat membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden dan Augusta de Witt. Ia juga membaca buku beraliran feminis yang berjudul Max Havelaar karya Multatuli.

Dari pengetahuannya tersebut, ia mulai membandingkan kehidupan antara perempuan Eropa dan pribumi. Perempuan di Eropa memiliki pola pikir yang lebih bebas. Terinspirasi dari hal tersebut, ia memiliki cita-cita untuk memajukan kedudukan perempuan pribumi yang masih tertinggal jauh dan memiliki status sosial yang rendah dibandingkan laki-laki.

Cita-cita besar tersebut tidak lekang ia perjuangkan bahkan saat ia masih lajang sampai ia menikah bahkan hingga akhir hayatnya. Menurutnya kala itu, seorang wanita berhak mendapatkan kedudukan yang sama dan pendidikan yang setara seperti yang sudah kita rasakan saat ini.

Berjuang Melalui Surat

Salah satu bentuk perjuangan R.A Kartini terhadap emansipasi wanita dengan melalui surat. Kemampuannya dalam berbahasa Belanda membuatnya sering berbalas surat dengan teman-teman Belandanya. 

Ia memiliki seorang teman yang selalu mendukung pemikiran-pemikirannya yaitu Rosa Abendanon

Surat-surat yang ia tulis banyak membicarakan mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan pribumi khususnya di Jawa. Adat-adat Jawa dinilai mengekang dan membatasi gerak para perempuan karena adanya paksaan nikah muda dan larangan menempuh pendidikan. 

Dalam surat-surat tersebut juga tertuang banyak gagasan dan pemikiran barunya mengenai emansipasi wanita pribumi. Surat tersebut juga menjadi cerminan kehidupannya sebagai seorang putri dari bupati Jawa.

Surat tersebut juga berisikan tentang pemikirannya yang berdasarkan ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan serta peri kemanusiaan dan nasionalisme.

Sejarah perjuangan R.A Kartini yang tercatat dalam surat-suratnya kemudian dikumpulkan oleh J.H Abendonan dan disatukan menjadi sebuah buku dengan judul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911.

Pada tahun 1922, buku tersebut diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka dalam bahasa melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Dan di tahun 1938, buku tersebut diterbitkan lagi namun dengan versi lain dari seorangs astrawan Pujannga Baru bernama Armijn Pane.

Surat-surat tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa inggris oleh Agnes L. Symmers.

Buku yang memuat surat-surat Kartini tersebut cukup menarik perhatian warga Belanda. Dengan buku tersebut, Kartini telah mampu mengubah pandangan masyarakat Eropa terhadap para perempuan Jawa. Salah satunya adalah tokoh politik etis Belanda yang terkesan dengan buku tersebut adalah Van Deventer

Van Deventer merasa bahwa gagasan dan cita-cita Kartini sesuai dengan apa yang ia cita-citakan yaitu memajukan bangsa pribumi dan memperjuangkan emansipasi mereka. Karena itu, Van Deventer menulis sebuah resensi untuk menyebarluaskan cita-cita tersebut.

Mendirikan Sekolah Perempuan

Setelah menikah, Kartini justru merasa bahwa pemikirannya dapat berkembang.  Banyak hal-hal baru yang ia ketahui setelah ia mencoba berbagi pikiran dengan sang suami. Karena itu, ia menyampaikan keinginannya kepada sang suami untuk mendirikan sekolah perempuan. Sang suami yang menjadi Bupati Rembang pada saat itu mendukung keinginannya bahkan memberinya kebebasan untuk itu.

Sekolah perempuan pertama itu didirikan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. 

Perjuangan R.A Kartini tersebut diteruskan oleh istri dari Van Deventer. Pada Tahun 1915 istri Van Deventer mendirikan Yayasan Kartini untuk membuka sekolah bagi para perempuan pribumi. Hingga pada akhirnya, ribuan murid perempuan masuk dan bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

RA Kartini Wafat

R.A Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904 tepat empat hari setelah ia melahirkan anak pertamanya pada usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Kumpulan Quotes RA Kartini

quote ra kartini
Quotes RA Kartini
quote ra kartini
Quote RA Kartini
quote ra kartini
Quote RA Kartini

Kesimpulan

RA Kartini merupakan seorang wanita keturunan bangsawan yang memiliki pemikiran kritis dan maju kedepan. Kegemarannya dalam membaca membuatnya paham dengan perkembangan di negara Eropa. Kebebasan pola pikir yang dimiliki oleh para perempuan di negeri tersebut membuatnya terinspirasi untuk terus mengusahakan perubahan di Indonesia. Perjuangan itu ia lakukan dengan segala upaya mulai dari saling berbalas surat mengenai keluh kesah perempuan pribumi hingga mendirikan sekolah perempuan pertama. Sejarah R.A Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita telah terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Baca juga: Dewi Sartika: Pelopor Pendidikan bagi Wanita Pribumi

Last Updated on Maret 23, 2021

Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up