Pierre Tendean: Biografi, Kisah Cinta dan Pengorbanan

4 min read

biografi pierre tendean

Dikenal sebagai perwira muda yang tampan dengan karir militer yang cemerlang, Kapten Pierre Tendean memiliki kisah sejarah bak ksatria yang gugur di usia muda. Sebagai salah satu dari pahlawan revolusi yang gugur pada tragedi G30S PKI, nama Pierre Tendean telah banyak mengundang banyak perhatian berkat jasanya. Bagaimana kisah sejarahnya? Munus akan membahas dengan lengkap dibawah ini.

Biografi Pierre Tendean

Pierre Tendean lahir pada 21 Februari 1939 di Kota Batavia, Hindia Belanda dengan nama lengkap Pierre Andries Tendean. Lahir dari perkawinan seorang wanita asal Belanda yang berdarah Perancis, Maria Elizabeth Cornet dan Pria keturunan Minahasa yang berprofesi sebagai dokter spesialis kejiwaan, Aurelius Lammart Tendean,  Pierre merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

keluarga pierre tendean
Pierre Tendean Bersama Keluarga, Foto oleh jateng.idntimes.com

Sejak masih kecil, Pierre terbiasa nomaden atau hidup berpindah-pindah karena pekerjaan sang ayah bersama kedua saudara perempuannya. Kakak Pierre bernama Rooswidiati sedangkan adiknya bernama Mitzi Farredan. Kedua orang tuanya telah menanamkan kedisiplinan serta jiwa patriotisme yang tinggi kepada Pierre dan kedua saudaranya. Dari situlah, Pierre kecil memiliki cita-cita untuk menjadi Tentara Nasional Indonesia dan mengabdi pada negara.

Latar Belakang Pendidikan

Dengan membawa ambisi cita-citanya untuk menjadi seorang TNI, Pierre Tendean bertekad mendaftarkan diri ke Akademi TNI Angkatan Darat. Niat ini sempat mendapat pertentangan dari orang tuanya, pasalnya sang ibu menginginkan Pierre untuk meneruskan pendidikan ke fakultas teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menjadi insinyur, sedangkan sang ayah menghendaki bahwa Pierre meneruskan pendidikannya ke fakultas kedokteran Universitas Indonesia (UI) untuk mengikuti jejaknya sebagai dokter.

Namun, besarnya tekad tidak menggoyahkannya sehingga ia mnegabaikan permintaan kedua orang tuanya. Alhasil, pada Agustus 1958 ia mengikuti serangkaian tes masuk Akademi TNI Angkatan Darat yang kemudian berganti menjadi Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) satu tahun kemudian. Pierre akhirnya berhasil lolos seleksi tahap akhir sebagai calon Taruna bersama 155 pemuda dari seluruh Indonesia.

Dikenal sebagai pemuda yang tampan dan berparas bule membuatnya seringkali mendapatkan gangguan dari teman-temannya dengan sebutan “Londo” yang berarti julukan kepada orang-orang Belanda. Disisi lain, ia mendapatkan banyak perhatian dari banyak perempuan karena ketampanannya, namun Pierre mengacuhkannya.

Selain terkenal dari parasnya, Pierre juga merupakan sosok taruna yang berprestasi. Ia sempat ditunjuk menjadi komandan Batalyon korps taruna remaja dengan pangkat sersan mayor karena jiwa kepemimpinan dan patriotismenya yang tinggi. Ia juga mahir dalam bidang olahraga yang membuatnya terkenal menjadi bintang lapangan.

Karier Militer Pierre Tendean

Saat masih berstatus menjadi taruna ATEKAD, pada tahun 1958 Pierre Tendean mendapatkan tugas pertamanya untuk pergi ke medan tempur. Bersama para taruna lainnya, ia terlibat dalam operasi pemberantasan PRRI di Sumatera Barat. Pada tahun 1962 Pierre Tendean telah lulus dari ATEKAD setelah tiga tahun lebih menempuh pendidikan dan dilantik menjadi perwira muda pangkat letnan dua.

kapten pierre tendean
Kapten Pierre Tendean, Foto oleh nasional.okezone.com

Setelah kelulusannya, Pierre Tendean diangkat menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur Daerah Militer II Bukit Barisan yang bertugas di Medan. Setahun kemudian, Pierre menempuh pendidikan di sekolah intelijen di Bogor yang membawanya ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) setelah kelulusannya untuk menjadi mata-mata ke Malaysia dalam rangka operasi Dwikora. Dalam satu tahun ia telah menyusup ke Malaysia selama tiga kali. Pernah sekali ia ditugaskan untuk mengawal menteri pembantu presiden Oei Tjoe Tat yang saat itu menyamar sebagai pedagang Tiong Hoa untuk masuk ke Malaysia.

Baca Juga: Ahmad Yani: Biografi lengkap dan Penyebab Kematiannya

Menjadi Ajudan Jenderal A.H Nasution

Buah dari prestasi hebatnya dalam operasi Dwikora, Pierre Tendean sempat diperebutkan oleh tiga perwira tinggi untuk menjadi ajudannya, mereka adalah Jenderal Kadarsan, Jenderal Hartawan dan Jenderal A.H Nasution. Karena A.H Nasution sangat menginginkannya, maka Pierre menjadi ajudan Jenderal A.H Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia.

Selama menjadi ajudan, Pierre dikenal sebagai sosok yang ramah dan akrab dengan keluarga Nasution termasuk dengan kedua putri Nasution, Ade Irma Nasution dan Hendrianti Sahara Nasution. Tak jarang ia juga bertukar pikiran dengan Ibu Johanna Nasution, istri Jenderal Nasution.

Kisah Cinta dengan Rukmini

Kisah ini dimulai saat Pierre Tendean bersama rekan tarunanya ditugaskan dalam satuan Batalyon Zeni Tempur di Medan, Sumatera Utara. Ia bertemu dengan Rukmini Chaimin, putri sulung keluarga Chaimin. Sosok gadis manis berambut hitam ikal tersebut telah mampu meruntuhkan pertahanan hati Pierre. Pada mulanya, ia dikenalkan dengan Rukmini oleh rekan-rekannya dan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan mereka berdua di hari setelahnya.

rukmini chaimin
Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin, Foto oleh Tribunnews.com

Bisa dibilang bahwa Rukmini merupakan perempuan pertama yang berhasil mengambil hati Pierre, tidak terhitung berapa banyak wanita yang sebelumnya tertarik dengan Pierre karena ketampanannya namun tidak digubris. Bahkan ia juga tidak terlihat pernah menjalin hubungan sebelum dengan Rukmini. 

Setelah dari Medan, Pierre ditugaskan ke Malaysia yang membuatnya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan sang kekasih. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan cinta mereka hingga pada akhirnya Pierre memiliki niat untuk meminang sang pujaan hati saat menjabat sebagai ajudan Jenderal Nasution. Dia mengirimkan surat kepada keluarganya untuk meminta restu menikah. 

Pada 31 Juli 1965, saat Jenderal Nasution bertugas ke Medan, saat itu pula Pierre memantapkan hatinya untuk secara resmi melamar Rukmini di kediamannya. Pada hari itu pula telah disepakati bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan di bulan november di tahun itu

Siapa sangka bahwa hari bahagia tersebut merupakan pertemuan terakhir Rukmini dan Pierre Tendean.

Gugurnya Pierre Tendean

pierre tendean
Pierre Tendean, Foto oleh id.wikipedia.org

Pierre Tendean gugur saat masih menjabat sebagai ajudan Jenderal Nasution di umur 26 tahun. Dini hari sebelum peristiwa lubang buaya, tepatnya 1 Oktober 1965 terjadi kegaduhan di depan rumah Jenderal Nasution. Johanna Nasution terbangun untuk memeriksa sumber kegaduhan, setelah diketahui bahwa suara itu berasal dari pasukan Cakrabirawa, ia langsung menutup pintu rumah.

Kedua putrinya juga terbangun, naasnya Ade Irma tertembak oleh peluru yang dilepaskan anggota pasukan Cakrabirawa. Karena panik, Yanti Nasution keluar rumah untuk membangunkan Pierre yang tertidur di paviliun ajudan.

Pierre Tendean langsung bergegas memeriksa keadaan, begitu menghadapi pasukan Cakrabirawa ia tidak mencoba melarikan diri, ia tidak mengelak saat pasukan Cakrabirawa membawanya karena mengira bahwa ia adalah AH Nasution. Pada akhirnya, AH Nasution beserta istri dan satu putrinya selamat..

Berkorban untuk Jenderal dan Negara

Setelah tertangkap oleh pasukan Cakrabirawa, Pierre Tendean dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pierre diperintah untuk berjongkok dan ditembak empat kali dari belakang. 

Pierre Tendean gugur dalam penculikan tersebut dengan mengorbankan dirinya agar AH Nasution bisa selamat. Pengorbanan ini ia lakukan demi bangsa dan negara yang selalu dibelanya.

Tiga hari kemudian jenazahnya ditemukan bersama keenam perwira di sumur lubang buaya, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Berkat pengorbanannya demi bangsa dan negara, Pierre Tendean dianugerahi kenaikan pangkat satu tingkat secara anumerta menjadi kapten dan dinobatkan menjadi pahlawan revolusi bersama sembilan perwira lainnya.

Kesimpulan

Kapten Tendean merupakan seorang pahlawan revolusi yang memiliki jiwa patriotisme tinggi serta tekad kuat untuk membela negara. Ia juga merupakan sosok yang setia, tidak hanya bagi keluarganya namun juga kepada kekasih sehidup sematinya dan sang Jenderal serta Negara Indonesia.

Baca Juga: Lubang Buaya: Saksi Bisu Peristiwa Sejarah G30SPKI

Last Updated on Februari 16, 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up