1. Biografi
  2. Tokoh

Pierre Tendean: Biografi, Kisah Cinta dan Pengorbanan

Dikenal sebagai perwira muda yang tampan dengan karir militer yang cemerlang, Kapten Pierre Tendean memiliki kisah sejarah bak ksatria yang gugur di usia muda. Sebagai salah satu dari pahlawan revolusi yang gugur pada tragedi G30S PKI, nama Pierre Tendean telah banyak mengundang banyak perhatian berkat jasanya. Bagaimana kisah sejarahnya? Munus akan membahas dengan lengkap dibawah ini.

Biografi Pierre Tendean

Pierre Tendean lahir pada 21 Februari 1939 di Kota Batavia, Hindia Belanda dengan nama lengkap Pierre Andries Tendean. Lahir dari perkawinan seorang wanita asal Belanda yang berdarah Perancis, Maria Elizabeth Cornet dan Pria keturunan Minahasa yang berprofesi sebagai dokter spesialis kejiwaan, Aurelius Lammart Tendean,  Pierre merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

keluarga pierre tendean
Pierre Tendean Bersama Keluarga, Foto oleh jatengntimes

Sejak masih kecil, Pierre terbiasa nomaden atau hidup berpindah-pindah karena pekerjaan sang ayah bersama kedua saudara perempuannya. Kakak Pierre bernama Rooswidiati sedangkan adiknya bernama Mitzi Farredan. Kedua orang tuanya telah menanamkan kedisiplinan serta jiwa patriotisme yang tinggi kepada Pierre dan kedua saudaranya. Dari situlah, Pierre kecil memiliki cita-cita untuk menjadi Tentara Nasional Indonesia dan mengabdi pada negara.

Latar Belakang Pendidikan

Dengan membawa ambisi cita-citanya untuk menjadi seorang TNI, Pierre Tendean bertekad mendaftarkan diri ke Akademi TNI Angkatan Darat. Niat ini sempat mendapat pertentangan dari orang tuanya, pasalnya sang ibu menginginkan Pierre untuk meneruskan pendidikan ke fakultas teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menjadi insinyur, sedangkan sang ayah menghendaki bahwa Pierre meneruskan pendidikannya ke fakultas kedokteran Universitas Indonesia (UI) untuk mengikuti jejaknya sebagai dokter.

Artikel Terkait

  • Kitab Weda: Pedoman Utama Umat Hindu
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on Mei 10, 2024 at 12:32 am

    Kitab Weda adalah kitab suci utama yang menjadi pedoman hidup bagi umat Hindu, yang dipercaya berasal dari sekitar 1500-500 SM. Kata “Weda” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “pengetahuan” atau “kebijaksanaan”. Pada kitab Weda isinya, mengenai doa, pujian, dan ajaran yang menjadi pedoman utama dalam bertindak. Selengkapnya, mengenai Kitab Weda bisa kamu baca penjelasannya dibawah Artikel Kitab Weda: Pedoman Utama Umat Hindu pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • 5 Fungsi Musik dalam Senam Irama adalah Untuk
    by Amanda R Putri (Sma Studioliterasi) on Mei 8, 2024 at 2:12 pm

    Salah satu aspek yang terdapat pada senam irama, yakni musik. Fungsinya, tidak lain agar lebih semangat saat senam, dan pastinya untuk menambah kesan keindahan. Eits, masih ada fungsi lainnya, lho! Selengkapnya, bisa kamu simak penjelasannya dibawah ini! Fungsi Musik dalam Senam Irama  Fungsi musik dalam senam irama tak hanya sebatas pengiring saja, namun memiliki peran The post 5 Fungsi Musik dalam Senam Irama adalah Untuk appeared first on Sma Studioliterasi.

  • 8 Cara Belajar Tenses dengan Mudah & Bikin Cepat Mengerti!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on Mei 2, 2024 at 6:00 am

    Tenses masih menjadi penghambat utama saat belajar Bahasa Inggris. Pasalnya kita dituntut untuk menguasai berbagai jenis tenses dan masing-masing memiliki fungsinya berdasarkan waktu kamu melakukan kegiatan. Karena kalau salah, maka dapat mempengaruhi susunan atau lanjutan kalimat berikutnya.  Bahkan bisa terjadinya misscom lantaran hanya kesalahan dalam memakai tenses. Tapi tenang, sebenarnya masih ada beberapa cara mudah Artikel 8 Cara Belajar Tenses dengan Mudah & Bikin Cepat Mengerti! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Mari Ketahui, 9 Sifat-Sifat Gelombang Bunyi!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on Mei 2, 2024 at 5:30 am

    Sifat-sifat gelombang bunyi merupakan salah satu dari sekian materi yang termasuk dalam kelompok IPA. Bahkan, kita sudah mulai mendapatkannya sejak berada level Sekolah Dasar (SD). Pas banget, Studio Literasi menuliskan artikel ini khusus tentang sifat-sifat gelombang bunyi buat yang sedang atau akan mempelajarinya. Yuk, persiapkan dirimu dengan menambah pengetahuan ilmu tersebut dengan membacanya! Gelombang Bunyi Artikel Mari Ketahui, 9 Sifat-Sifat Gelombang Bunyi! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

Namun, besarnya tekad tidak menggoyahkannya sehingga ia mnegabaikan permintaan kedua orang tuanya. Alhasil, pada Agustus 1958 ia mengikuti serangkaian tes masuk Akademi TNI Angkatan Darat yang kemudian berganti menjadi Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) satu tahun kemudian. Pierre akhirnya berhasil lolos seleksi tahap akhir sebagai calon Taruna bersama 155 pemuda dari seluruh Indonesia.

Dikenal sebagai pemuda yang tampan dan berparas bule membuatnya seringkali mendapatkan gangguan dari teman-temannya dengan sebutan “Londo” yang berarti julukan kepada orang-orang Belanda. Disisi lain, ia mendapatkan banyak perhatian dari banyak perempuan karena ketampanannya, namun Pierre mengacuhkannya.

Selain terkenal dari parasnya, Pierre juga merupakan sosok taruna yang berprestasi. Ia sempat ditunjuk menjadi komandan Batalyon korps taruna remaja dengan pangkat sersan mayor karena jiwa kepemimpinan dan patriotismenya yang tinggi. Ia juga mahir dalam bidang olahraga yang membuatnya terkenal menjadi bintang lapangan.

Karier Militer Pierre Tendean

Saat masih berstatus menjadi taruna ATEKAD, pada tahun 1958 Pierre Tendean mendapatkan tugas pertamanya untuk pergi ke medan tempur. Bersama para taruna lainnya, ia terlibat dalam operasi pemberantasan PRRI di Sumatera Barat. Pada tahun 1962 Pierre Tendean telah lulus dari ATEKAD setelah tiga tahun lebih menempuh pendidikan dan dilantik menjadi perwira muda pangkat letnan dua.

kapten pierre tendean
Kapten Pierre Tendean, Foto oleh nasional.okezone

Setelah kelulusannya, Pierre Tendean diangkat menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur Daerah Militer II Bukit Barisan yang bertugas di Medan. Setahun kemudian, Pierre menempuh pendidikan di sekolah intelijen di Bogor yang membawanya ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) setelah kelulusannya untuk menjadi mata-mata ke Malaysia dalam rangka operasi Dwikora. Dalam satu tahun ia telah menyusup ke Malaysia selama tiga kali. Pernah sekali ia ditugaskan untuk mengawal menteri pembantu presiden Oei Tjoe Tat yang saat itu menyamar sebagai pedagang Tiong Hoa untuk masuk ke Malaysia.

Baca Juga: Ahmad Yani: Biografi lengkap dan Penyebab Kematiannya

Menjadi Ajudan Jenderal A.H Nasution

Buah dari prestasi hebatnya dalam operasi Dwikora, Pierre Tendean sempat diperebutkan oleh tiga perwira tinggi untuk menjadi ajudannya, mereka adalah Jenderal Kadarsan, Jenderal Hartawan dan Jenderal A.H Nasution. Karena A.H Nasution sangat menginginkannya, maka Pierre menjadi ajudan Jenderal A.H Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia.

Selama menjadi ajudan, Pierre dikenal sebagai sosok yang ramah dan akrab dengan keluarga Nasution termasuk dengan kedua putri Nasution, Ade Irma Nasution dan Hendrianti Sahara Nasution. Tak jarang ia juga bertukar pikiran dengan Ibu Johanna Nasution, istri Jenderal Nasution.

Kisah Cinta dengan Rukmini

Kisah ini dimulai saat Pierre Tendean bersama rekan tarunanya ditugaskan dalam satuan Batalyon Zeni Tempur di Medan, Sumatera Utara. Ia bertemu dengan Rukmini Chaimin, putri sulung keluarga Chaimin. Sosok gadis manis berambut hitam ikal tersebut telah mampu meruntuhkan pertahanan hati Pierre. Pada mulanya, ia dikenalkan dengan Rukmini oleh rekan-rekannya dan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan mereka berdua di hari setelahnya.

rukmini chaimin
Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin, Foto oleh Tribunnews

Bisa dibilang bahwa Rukmini merupakan perempuan pertama yang berhasil mengambil hati Pierre, tidak terhitung berapa banyak wanita yang sebelumnya tertarik dengan Pierre karena ketampanannya namun tidak digubris. Bahkan ia juga tidak terlihat pernah menjalin hubungan sebelum dengan Rukmini. 

Setelah dari Medan, Pierre ditugaskan ke Malaysia yang membuatnya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan sang kekasih. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan cinta mereka hingga pada akhirnya Pierre memiliki niat untuk meminang sang pujaan hati saat menjabat sebagai ajudan Jenderal Nasution. Dia mengirimkan surat kepada keluarganya untuk meminta restu menikah. 

Pada 31 Juli 1965, saat Jenderal Nasution bertugas ke Medan, saat itu pula Pierre memantapkan hatinya untuk secara resmi melamar Rukmini di kediamannya. Pada hari itu pula telah disepakati bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan di bulan november di tahun itu

Siapa sangka bahwa hari bahagia tersebut merupakan pertemuan terakhir Rukmini dan Pierre Tendean.

Gugurnya Pierre Tendean

pierre tendean
Pierre Tendean, Foto oleh id.wikipedia.org

Pierre Tendean gugur saat masih menjabat sebagai ajudan Jenderal Nasution di umur 26 tahun. Dini hari sebelum peristiwa lubang buaya, tepatnya 1 Oktober 1965 terjadi kegaduhan di depan rumah Jenderal Nasution. Johanna Nasution terbangun untuk memeriksa sumber kegaduhan, setelah diketahui bahwa suara itu berasal dari pasukan Cakrabirawa, ia langsung menutup pintu rumah.

Kedua putrinya juga terbangun, naasnya Ade Irma tertembak oleh peluru yang dilepaskan anggota pasukan Cakrabirawa. Karena panik, Yanti Nasution keluar rumah untuk membangunkan Pierre yang tertidur di paviliun ajudan.

Pierre Tendean langsung bergegas memeriksa keadaan, begitu menghadapi pasukan Cakrabirawa ia tidak mencoba melarikan diri, ia tidak mengelak saat pasukan Cakrabirawa membawanya karena mengira bahwa ia adalah AH Nasution. Pada akhirnya, AH Nasution beserta istri dan satu putrinya selamat..

Berkorban untuk Jenderal dan Negara

Setelah tertangkap oleh pasukan Cakrabirawa, Pierre Tendean dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pierre diperintah untuk berjongkok dan ditembak empat kali dari belakang. 

Pierre Tendean gugur dalam penculikan tersebut dengan mengorbankan dirinya agar AH Nasution bisa selamat. Pengorbanan ini ia lakukan demi bangsa dan negara yang selalu dibelanya.

Tiga hari kemudian jenazahnya ditemukan bersama keenam perwira di sumur lubang buaya, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Berkat pengorbanannya demi bangsa dan negara, Pierre Tendean dianugerahi kenaikan pangkat satu tingkat secara anumerta menjadi kapten dan dinobatkan menjadi pahlawan revolusi bersama sembilan perwira lainnya.

Kesimpulan

Kapten Tendean merupakan seorang pahlawan revolusi yang memiliki jiwa patriotisme tinggi serta tekad kuat untuk membela negara. Ia juga merupakan sosok yang setia, tidak hanya bagi keluarganya namun juga kepada kekasih sehidup sematinya dan sang Jenderal serta Negara Indonesia.

Baca Juga: Lubang Buaya: Saksi Bisu Peristiwa Sejarah G30SPKI

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Pierre Tendean: Biografi, Kisah Cinta dan Pengorbanan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]
    Alat musik gambus adalah salah satu alat musik tradisional Riau yang dimainkan dengan cara dipetik. Menurut sejarah, musik tradisional ini lekat dengan budaya islam. Bentuknya memang sekilas mirip dengan gitar, namun cara memainkan gambus ini sedikit berbeda, Anak Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat musik gambus dan cara memainkannya, simak artikel Museum Nusantara kali […]

    Trending

    Apapun yang terkait dengan fashion, terlebih kalau menyangkut kekeluargaan kerajaan pasti menarik untuk diketahui. Termasuk, pakaian kerajaan pada masa lalu yang tentu mengandung nilai bersejarah penting.  Kali ini kami akan mengajak kalian membahas pakaian putri Kerajaan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan berjaya di Nusantara antara abad ke-13 dan ke-16. Penasaran dengan pakaian putri khas […]
    Nekara dan moko ialah contoh artefak perunggu yang terkenal dari zaman prasejarah di Indonesia, tepatnya pada zaman logam. Memang kalau sekilas kita lihat memiliki beberapa kesamaan. Bahkan pada beberapa sumber sering kali menyebutkan kalau moko merupakan nama lain dari nekara. Ternyata, keduanya tidak sama dan terdapat perbedaan. Artikel ini bakal mengulas perbedaan yang signifikan pada […]