Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Hayam Wuruk: Silsilah, Kepemimpinan Hingga Wafatnya

3 min read

patung hayam wuruk

Terkenal dengan kejayaannya memimpin Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk merupakan sosok raja yang tegas, pemberani serta disegani oleh kerajaan lain. Namun, pada masa itu pula terjadi tragedi Perang Bubat yang masuk dalam peperangan terbesar dalam sejarah. Kisahnya dengan Dyah Pitaloka masih menjadi senter hingga saat ini. Dibawah ini Munus akan membahas kisah raja bergelar Sri Rajasanegara tersebut.

Silsilah Hayam Wuruk

Hayam Wuruk merupakan raja yang paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Majapahit karena kejayaanya. Beliau lahir pada tahun 1334 Masehi dan merupakan putra sulung dari Sri Kertawardhana, seorang penguasa di Singhasari dan Tribhuwana Tunggadewi, ratu Kerajaan Majapahit pada saat itu.

Fakta uniknya, kelahiran Hayam Wuruk di awal dengan meletusnya Gunung Kelud di Kediri dan terjadinya gempa bumi di Pabanyu Pindah. Di tahun itu pula Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Namanya sendiri diambil dari kata Hayam dan Wuruk dimana dalam bahasa jawa Wuruk berarti “belajar”, sehingga jika digabungkan berarti “ayam yang terpelajar.”

Hayam Wuruk
Ilustrasi Raja Hayam Wuruk. Foto oleh en.wikipedia.org

Hayam Wuruk memiliki dua adik perempuan yaitu Dyah Nertaja yang merupakan adik kandungnya dan Indudewi yang merupakan adik angkat. Indudewi adalah anak dari adik dari sang ratu Tribhuwana Tunggadewi, Rajadewi.

Saat menjadi raja, beliau didampingi oleh permaisuri bernama Sri Sudewi yang bergelar Paduka Sor putri dari Wijayarajasa yang merupakan Bhre Wengker. Dari pernikahannya ini, keduanya dikaruniai seorang putri bernama Kusumawardhani. Beliau juga mempunyai seorang putra, Bhre Wirabhumi dari seorang selir. Bhre Wirabhumi kemudian menikah dengan Nagarawardahni putri dari Bhre Lasem. Sedangkan Kusumawardhani menikah dengan Wikramawardhana putra dari Bhre Pajang.

Sosok Sri Rajasanegara dikenal sebagai Raja yang pemberani dan tegas. Keahliannya dalam bidang pemerintahan sudah tidak diragukan lagi. Faktor ini juga yang membawa kejayaan bagi Majapahit saat di berada dalam kepemimpinannya. Kisahnya juga telah tertulis dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. 

Baca juga: Kerajaan Majapahit: Sejarah, Raja, dan Peninggalan

Kepemimpinan Hayam Wuruk

Kerajaan Majapahit berada dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk pada tahun 1350 hingga 1389 Masehi. Raja dengan gelar Sri Rajasanegara itu naik tahta pada usia 16 tahun setelah kematian Sri Rajapatni di tahun 1350 M. Beliau  merupakan raja keempat Kerajaan Majapahit, Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya yang sekaligus menjadi raja pertama di Kerjaan Majapahit.

Dalam masa kepemimpinannnya, Sri Rajasanegara didampingi oleh Patih Gajah Mada, Adityawarman dan Mpu Nala. Kerajaan Majapahit berkembang sebagai kerajaan maritim  sekaligus kerajaan agraris dengan kekuasaan wilayahnya yang meliputi hampir seluruh wilayah nusantara ditambah dengan sebagian wilayah yang saat ini menjadi Negara Singapura, Malaysia, Filipina dan Brunei Darussalam.

Sri Rajasanegara selain tegas dan pemberani juga merupakan raja yang karismatik sehingga membuatnya menjadi sosok yang disegani dan dihormati oleh kerajaan lain. Raja Hayam Wuruk juga memliki pengaruh yang sangat kuat.

Kejayaan Kerajaan Majapahit

Surya Kerajaan Majapahit
Surya Majapahit. Foto oleh id.m.wikipedia.org

Telah tertulis dalam sejarah bahwa Kerajaan Majapahit berada pada puncak kejayaan saat dipimpin oleh Hayam Wuruk. Kehidupan politik pada saat itu sangat tenang, tentram dan aman. Kerajaan Majapahit sukses menguasai hampir seluruh Nusantara hingga diberi julukan sebagai Mandala Raksasa yang terbentang dari ujung barat sampai timur Nusantara.

Beberapa candi yang masih ada sampai saat ini menjadi bukti bahwa di masa kepemimpinannya, bidang kebudayaan di Nusantara semakin berkembang. Candi-candi tersebut antara lain Candi Sawentar, Candi Sumberjati, Candi Surwana, Candi Tikus, dan Candi Jabung dan yang paling terkenal adalah candi Penataran yang berada di Blitar. Candi penataran merupakan candi bercorak Hindu yang memiliki kompleks paling luas di Jawa Timur.

Tragedi Perang Bubat

Sangat disayangkan pernikahan ini tidak berjalan mulus. Perang Bubat terjadi di tahun 1357 M, tepat setelah 7 tahun kepemimpinan Hayam Wuruk. Tragedi ini dimulai dari kisah Hayam wuruk dan Dyah Pitaloka, sang raja ingin meminang Dyah Pitaloka putri Kerajaan Sunda. Pada mulanya, pinangan ini tulus darinya karena ia jatuh hati pada Dyah Pitaloka.

Situasi yang dilema mulai muncul saat Patih Gajah Mada melihat bahwa pernikahan ini akan menjadi kesempatan untuk menaklukan Kerajaan Sunda. Dari sekian wilayah di Jawa, hanya wilayah Sunda yang saat itu belum dikuasai oleh Majapahit. Gajah Mada ingin membuat pernikahan ini menjadi tanda bahwa Kerajaan Sunda telah menyerahkan diri dan mendesak Raja untuk menyetujui niatnya tersebut. Niat tersebut terdengar oleh Maharaja Lingga Buana dan menolak mentah-mentah untuk menyerahkan diri dan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai persembahan. 

perang bubat
Patung Perang Bubat. Foto oleh tirto.id

Puncaknya, terjadi lah peperangan antar dua Kerajaan setelah Maharaja Lingga Buana menolak mentah-mentah pernyataan tersebut. Gajah Mada kemudian mengutus pasukannya ke Pesanggrahan Bubat. Kerajaan Sunda yang tidak siap tentu kekurangan pasukan, sehingga peperangan ini dimenangkan oleh Gajah Mada. Maharaja Lingga Buana gugur dalam peperangan ini, disusul oleh Dyah Pitaloka yang melakukan tindakan bela pati atau bunuh diri.

Tragedi ini pula yang sampai saat ini menjadi penyebab munculnya mitos bahwa orang Sunda dilarang untuk menikah dengan orang Jawa karena akan terjadi hal buruk pada mereka.

Baca juga: Gajah Mada: Pemersatu Nusantara Dalam Ikatan Sumpah

Wafatnya Hayam Wuruk

Masa keemasan Majapahit benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Nusantara. Tidak hanya fokus di bidang pemerintahan, Hayam Wuruk juga memperhatikan bidang kebudayaan dan sastra dibuktikan dengan ditulisnya karya besar seperti Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular di tahun 1365 M.

Setelah Gajah Mada wafat di tahun 1364 M, Raja Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 M di umur 55 tahun dan dimakamkan di Tanjung kemudian kekuasaan diturunkan pada menantunya Wikramawardhana.

Kesimpulan

Sebagai seorang raja yang tergolong muda saat naik tahta, Raja Hayam Wuruk mampu memimpin Kerajaan Majapahit hingga menjadi kerajaan terbesar pada masanya. Keberanian serta ketegasannya juga membuatnya disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Bersama dengan Patih Gajah Mada, beliau berhasil menyatukan Nusantara sesuai dengan janji Gajah Mada dalam sumpah palapanya. 

Baca juga: Candi Penataran: Candi Termegah dan Terluas di Jawa Timur

Last Updated on Februari 24, 2021

Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up