Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Kujang: Senjata Tradisional Spiritual dari Jawa Barat

3 min read

kujang

Sebelumnya kita telah membahas mengenai keris. Kali ini Munus akan membahas mengenai senjata tradisional Indonesia lainnya, yaitu kujang. Kujang adalah sebuah senjata tajam yang sarat dengan kekuatan spiritual. Kujang berasal dari Jawa Barat. Senjata ini memiliki filosofi serta nilai luhur yang tinggi dalam sejarah masyarakat Sunda. Dibawah ini Munus telah mengupas secara lengkap terkait sejarah kujang.

Senjata Tradisional Kujang

Kujang adalah salah satu senjata tradisional Indonesia yang masih ada hingga saat ini. Kujang berasal dari tanah Sunda, Jawa Barat. Kata kujang berasal dari istilah kudihyang, kudi dalam bahasa Sunda Kuno memiliki arti sebagai senjata sakti dengan kekuatan ghaib, sedangkan hyang memiliki arti sebagai Dewa/Dewi. Maka jika diartikan secara umum, senjata kujang adalah sebuah pusaka sakti yang memiliki kekuatan ghaib yang berasal dari para Dewa.

kujang
Gambar Kujang, Foto Oleh Steemit.com

Karena berasal dari Sunda, senjata ini juga sering kali disebut dengan kujang Sunda. Kujang Sunda menjadi sebuah pusaka yang memiliki nilai-nilai filosofis tertentu bagi masyarakat Sunda. Oleh sebab itu, kujang Sunda kerap kali dijadikan sebagai simbol atau logo bahkan nama oleh berbagai organisasi dan pemerintah. Salah satunya adalah dengan menjadi logo Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Kita juga dapat melihat tugu kujang Sunda berdiri kokoh di Jawa Barat. Hal itu menunjukkan bahwa senjata kujang menjadi budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sunda.

Sejarah Senjata Kujang

Senjata ini dipercaya telah ada dari abad ke-8 sampai ke-9 Masehi. Dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) pada mulanya senjata ini hanya digunakan oleh masyarakat Jawa Barat sebagai perlengkapan dalam bertani.

Ketika memasuki masa Kerajaan Padjajaran Makukuhan dan Panjalu, senjata kujang mengalami perkembangan fungsi. Dari yang sebelumnya hanya menjadi perlengkapan bertani, seiring waktu senjata ini menjadi sebuah pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kewibawaan seorang raja atau bangsawan. Dan sejak saat itu pula, pusaka ini mengalami perubahan bentuk.

Kala itu, Kerajaan Padjajaran dipimpin oleh Prabu Kudo Lalean. Prabu Kudo Lalean juga dikenal sebagai seorang Batara Guru yang sering melakukan pertapaan. Ketika sang prabu tengah melakukan pertapaan, ia mendapatkan ilham untuk mengubah atau merancang ulang desain senjata tersebut.

Dalam penglihatan Prabu Kudo Lalean, desain baru tersebut berbentuk seperti Pulau Jawa. Setelah mendapatkan ilham, Prabu Kudo Lalean segera mengutus seorang pandai besi bernama Mpu Windu Supo untuk membuat senjata kujang dengan bentuk yang sama seperti yang ada dalam penglihatannya. 

Dalam beberapa waktu, Mpu Windo Supo berhasil menciptakan sebuah pusaka yang memiliki bentuk layaknya Pulau Jawa dan memiliki tiga lubang pada mata pisaunya dengan nilai-nilai spiritual yang magis. Tiga lubang tersebut sebagai simbol Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa). Sedangkan Pulau Jawa menjadi simbol keinginan Prabu Kudo Lalean untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa di bawah pimpinan Kerajaan Padjajaran.

Tidak hanya sampai disitu, saat pengaruh Islam mulai tumbuh di tanah Pasundan, senjata ini mengalami perubahan bentuk atas upaya dari Prabu Kiang Santang. Bentuk kujang dirubah menjadi seperti huruf Arab “Syin” dan yang sebelumnya tiga lubang ditambahkan menjadi lima lubang. Huruf “Syin” merupakan huruf pertama dalam kalimat Syahadat, sedangkan lima lubang merupakan simbol rukun Islam. Upaya tersebut bertujuan agar masyarakat selalu mengingat Tuhan ketika sedang menggunakan kujang.

Sejak mengalami beberapa kali perubahan bentuk, senjata ini bukan hanya sebuah senjata biasa untuk bertani, namun merupakan pusaka yang kental dengan kekuatan spiritual dan ghaib yang dipercaya memberikan kekuatan tertentu bagi pemiliknya.

Bagian, Fungsi dan Jenis Kujang

kujang
Gambar Kujang, Foto Oleh Kebudayaan.kemdikbud.go.id

Berikut penjelasan mengenai bagian, bentuk, fungsi serta jenis kujang: 

Bagian-Bagian

Bagian-bagian dari senjata ini terdiri dari papatuk/congo, eluk/silih, tadah dan mata. papatuk/congo adalah bagian ujung kujang yang mirip seperti panah, eluk/silih merupakan lekukan di bagian punggung, tadah merupakan lengkungan yang menonjol di bagian tengah sedangkan mata merupakan lubang kecil yang tertutup logam perak atau emas.

Jenis Kujang

Jenis kujang dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan fungsinya dan berdasarkan bentuknya. Berikut masing-masing penjelasannya.

Berdasarkan Fungsi

Jenis kujang berdasarkan fungsinya dibagi menjadi empat, diantaranya:

  1. Pusaka: Difungsikan sebagai lambang keagungan dan perlindungan.
  2. Pangarak: difungsikan untuk berperang.
  3. Pakarang: difungsikan sebagai alat upacara adat.
  4. Pamangkas: Digunakan sebagai alat untuk bertani atau berladang.

Berdasarkan Bentuk

Jenis kujang berdasarkan bentuknya dibagi menjadi enam, diantaranya:

  1. Jago: Memiliki bentuk menyerupai ayam jantan.
  2. Ciung: Memiliki bentuk menyerupai burung ciung.
  3. Kuntul: Memiliki bentuk meyerupai burung kuntul atau bango
  4. Badak: Memiliki bentuk menyerupai badak.
  5. Naga: Memiliki bentuk menyerupai binatang naga yang sering kita lihat di film legenda.
  6. Bangkong: Memiliki bentuk menyerupai katak. 

Perkembangan dan Mitos Senjata Tradisional Kujang

Dalam perkembangannya hingga saat ini, senjata tradisional kujang tidak hanya dimiliki oleh para bangsawan atau raja, namun juga masyarakat biasa di Sunda. Sering kali masyarakat awam juga menggunakan senjata ini sebagai pajangan atau dekorasi rumah.

Eksistensinya juga diiringi dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Konon senjata ini memiliki pengaruh pada keberuntungan, perlindungan, kehormatan dan kewibawaan pemiliknya. Namun disisi lain, ada mitos yang melarang untuk memajangnya secara berpasangan dengan mata pisau tajam sebelah yang saling berhadapan karena diyakini sebagai hal yang tabu. Mitos lainnya adalah, seseorang dilarang mengambil foto di antara posisi kujang berpasangan tersebut karena akan membawa kematian dalam waktu satu tahun atau kurang dari itu.

Sudah menjadi suatu kebiasaan di Indonesia bahwa benda-benda yang kental dengan nilai spiritual selalu memiliki sebuah mitos atau pantangan. Namun, tergantung kita akan mempercayai hal tersebut atau tidak. Terlepas dari mitos tersebut, setiap budaya selalu memiliki keunikan tersendiri yang harus kita hormati.

Kesimpulan

Kujang adalah senjata tradisional khas Jawa Barat. Kujang berasal dari tanah Sunda dan masih dilestarikan bahkan digunakan hingga saat ini. Senjata tradisional kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai spiritual tinggi, untuk itu muncul mitos-mitos yang beredar di masyarakat mengenai senjata ini. Senjata ini telah berkembang sejak masa Kerajaan Padjajaran dan memiliki jenis yang beragam sesuai dengan fungsi dan bentuknya. Adanya senjata ini menambah daftar kekayaan budaya Indonesia yang patut kita syukuri.

Baca juga: Keris: Senjata Tradisional Nusantara dengan Kekuatan Sakral

Last Updated on Maret 23, 2021

Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up