Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Tari Sekapur Sirih: Sejarah, Makna, Pola Lantai dan Properti

3 min read

tari sekapur sirih

Tari Sekapur Sirih merupakan tarian adat yang berasal dari Provinsi Jambi, namun seiring waktu meluas ke beberapa daerah seperti Riau dan Kepulauan Riau. Sesuai fungsinya, nama “sekapur sirih” dalam bahasa melayu diartikan sebagai penyambutan atau penerimaan tamu. Tarian ini sebagai simbol kebiasaan masyarakat Jambi dalam tata cara penyambutan tamu. Berikut ini Munus akan membahas mengenai Tari Sekapur Sirih. 

Sejarah Tari Sekapur Sirih

Tari Sekapur Sirih diciptakan oleh seorang seniman sekaligus putra daerah Firdaus Chatap. Pada awal diciptakan, tari ini hanya meliputi gerakan-gerakan sederhana, meski begitu tari ini memiliki makna tersendiri yang cukup dalam. Tarian ini kemudian mulai populer dan dikenal oleh masyarakat sekitar tahun 1962. Setelah itu, tari ini mulai dikembangkan dan disempurnakan oleh beberapa seniman sehingga tarian ini terasa lebih megah.

tari sekapur sirih
Tari Sekapur Sirih. Foto oleh cintaindonesia.web.id

Di tahun 1967 gerakan dalam tarian ini dikreasikan ulang oleh OK Hendrik BBA, dan iringan musiknya ditata lagi oleh Taralamsyah Saragih dengan memasukkan musik-musik lokal dari Jambi, salah satunya adalah lagu “Jeruk Purut” yang sususan liriknya dibantu oleh Marzuki Lazim. Semua ide tersebut berasal dari R.A Rachman.

Tarian ini mulai banyak diperagakan oleh masyarakat Jambi, namun pada tahun 1981 gerakan pada tarian ini mengalami perubahan lagi karena dianggap kurang cocok dengan budaya masyarakat Jambi, sehingga OK Hendrik menghilangkan  beberapa gerakannya seperti gerak memakai stagen, memakai kalung dan merapikan sanggul kemudian diganti dengan gerakan baru. 

Makna Tari Sekapur Sirih

Tarian ini merupakan simbol dari masyarakat Jambi atas keterbukaan mereka menerima dan menyambut tamu. Tari ini menyimbolkan sambutan yang putih, muka yang jernih dan keramahan dalam setiap gerakannya yang lembut dan halus. Dan hingga saat ini, tarian ini masih menjadi andalan masyarakat Jambi sebagai ucapan selamat datang kepada tamu.

Selain itu, tarian ini juga dimaknai sebagai rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat Jambi ketika sedang menerima tamu.

Pelajari Juga Tarian Daerah Lainnya

Pertunjukan Tari Sekapur Sirih

tari sekapur sirih
Tari Sekapur Sirih. Foto oleh gpswisataindonesia.info

Dalam sebuah pertunjukan tari, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah penari, gerakan, busana serta properti lain penunjang tari. 

Jumlah Penari

Tari tradisional ini biasanya ditarikan oleh wanita secara berkelompok karena gerakannya yang didominasi oleh gerakan yang lembut dan elegan. Namun, tidak menutup kemungkinan penari pria juga akan dilibatkan dalam tarian ini untuk menambah keindahan ketika pentas. Biasanya akan dibawakan oleh 9 orang wanita yang melambangkan motto Kota Jambi yaitu “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” yang berarti kesatuan, dan juga 3 orang pria yang berperan sebagai pembawa payung dan pengawal.

Gerakan Tari Sekapur Sirih

Gerakan dalam tarian ini menggambarkan para gadis yang bersolek dengan suka cita. Tari ini memiliki gerakan ciri khas yaitu penyerahan sekapur sirih kepada tamu sebagai simbol selamat datang di akhir tarian. 

Pada Tari Sekapur Sirih, terdapat tiga gerakan terstruktur yang dibagi menjadi gerak awal, gerak inti, dan gerak akhir. Penjelasannya sebagai berikut:

Gerak Awal

Gerak awal digambarkan dengan suasana para gadis Jambi sedang bersolek agar terlihat menawan di hadapan para tamu. Gerakan ini bermakna bahwa masyarakat Jambi siap menyambut tamu dengan berdandan rapi.

Gerak Inti

Gerak inti merupakan gerak utama dalam tarian ini, digambarkan dengan gerakan lemah lembut, sopan santun dan hormat kepada tamu. Gerakan ini bermakna bahwa masyarakat Jambi akan melayani tamu dengan sopan santun.

Gerak Akhir

Gerak akhir menggambarkan suka cita ketika tamu datang ke Jambi bersamaan dengan penyerahan sekapur sirih sebagai tanda bahwa tamu telah diterima di Jambi.

Pola Lantai

Pola lantai yang digunakan dalam tarian ini tidak sulit namun berubah-ubah tergantung model tarian yang ditampilkan. Biasanya pola lantai Tari Sekapur Sirih menggunakan pola setengah lingkaran, sejajar atau campuran.

Tari ini disebut-sebut sebagai tarian yang memiliki gerakan maknawai karena setiap gerakan dalam tarian ini memiliki suatu makna yang sesuai dengan kebiasaan rakyat Jambi.

Baca juga: Tari Remo: Tarian Khas Jawa Timur Simbol Kegagahan

Properti Tari

Sebagian besar pertunjukan tari selalu membutuhkan properti sebagai penunjang performa penampilannya, berikut beberapa properti Tari Sekapur Sirih:

Cerano

Cerano merupakan atribut utama dalam tarian ini. Cerano berbentuk kotak dan digunkana sebagai tempat sekapur sirih yang akan diserahkan kepada tamu di akhir pementasan. Sekapur sirih ini nantinya akan dipersilahkan kepada tamu yang datang untuk dicicipi dan sebagai sarat bahwa ia telah datang ke Provinsi Jambi.

Payung 

Payung akan digunakan jika terdapat penari pria dalam pementasannya. Payung ini sebagai properti penari pria untuk mengawal penari wanita menuju panggung. Penari pria akan mengikuti langkah penari wanita sembari memayunginya menuju panggung pementasan sebagai sebuah bentuk perlindungan. Payung ini juga yang nantinya akan digunakan untuk memayungi tamu sebagai bentuk penyambutan.

Keris

Keris merupakan properti yang dipakai oleh penari pria. Penggunakan keris ini dimaksudkan untuk menambahkan kesan gagah dan berani untuk melindungi penari wanita.

Ikat Pinggang

Ikat pinggang yang digunakan dalam tarian ini berbahan dasar kulit dan dihiasi dengan beludru dan sulaman payet atau tenunan benang sutra berwarna emas. Dalam penggunaanya, ikat pinggang ini dilengkapi dengan pending.

Pending merupakan pengancing ikat pinggang dengan beragam motif. Pending berbentuk bujur,bulat atau segi empat. Setiap ornamen dalam tarian ini didominasi oleh warna emas yang mengkilau.

Busana Tarian

Tari Sekapur Sirih menggunakan baju kurung yang merupakan baju tradisional Jambi dan dilengkapi dengan kain songket asli. Terdapat dua jenis baju kurung diantaranya, baju kurung resmi untuk acara formal dan baju kurus yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Kedua baju tersebut memiliki perbedaan pada warna dan aksesoris.

Baju kurung yang digunakan oleh para penari adalah baju kurung khas dengan bahan beludru dihiasi dengan sulaman benang berwarna emas mengkilau. Rancangan baju tersebut longgar pada bagian lubang lengan sampai bagian dada dan perut serta tidak memiliki kancing. Karena itu, penari membutuhkan ikat pinggang.

Di bagian rambut penari wanita dihiasi sanggul lipat pandan, sunting beringin dan kembang goyang. Sedangkan untuk aksesoris lainnya biasanya terdiri sari teratai, pending, gelang, dan selendang.

Pelajari Juga Tarian Daerah Lainnya

Iringan Tari

Tarian ini diiringi dengan berbagi musik seperti gong, biola, akordion, gambus, gendang, dan rebana. Iringan ini didukung dengan syair-syair bahasa daerah Jambi sehingga memunculkan kesan sakral nan indah dalam penampilannya. Musik-musik yang digunakan adalah musik ceria dengan syair yang membahagiakan agar tamu yang datang ikut merasakan suasan bahagianya.

Kesimpulan

Tari Sekapur Sirih merupakan tari tradisional asal Jambi yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Tari ini difungsikan sebagai tarian penyambut tamu sekaligus sebagai simbol kebiasaan masyarakat Jambi. Irama serta syair yang ceria dapat menggugah persaan bahagia dari tamu yang berkunjung. Setiap gerakan pada tarian ini memiliki makna yang dalam, terdapat satu gerakan ciri khas dari tari ini yaitu penyerahan kapur sirih kepada tamu sebagai tanda bahwa tamu tersebut telah diterima.

Baca juga: Tari Perang: Tarian Magis dari Papua Barat yang Masih Dilestarikan

Last Updated on April 16, 2021

Lovely Fida Nurfaiziah Seorang mahasiswa yang gemar berkomunikasi tentang sejarah dan budaya Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up