1. Candi
  2. Kerajaan

Candi Penataran: Candi Termegah dan Terluas di Jawa Timur

Candi Penataran adalah salah satu candi yang bercorak Hindu. Lokasi candi ini berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kediri. Kompleks Candi Penataran dapat dibilang sebagai yang terluas dan termegah di wilayah Jawa Timur. Nama Penataran sendiri diambil dari nama desa tempat candi tersebut ditemukan. Namun, nama asli bangunan ini adalah Candi Palah. Munus telah menyajikan sejarah dan asal – usul dari candi penataran dalam artikel ini. Yuk, intip lebih lanjut!

Sejarah Candi Penataran

Sejarah candi ini dapat dilihat dari berbagai sumber. Salah satunya yaitu prasasti palah yang mengatakan bahwa candi ini dibangun oleh raja Raja Srengga pada 1194 M. Pada saat itu, Raja Srengga memiliki gelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa. Beliau meupakan raja Kediri pada periode 1190 sampai 1200 M. 

Dulunya, tempat ini dibangun sebagai tempat upacara pemujaan agama Hindu. Ritual dan upacara tersebut bertujuan untuk menangkal bahaya dari Gunung Kelud yang pada masa itu masih sering meletus. Kemudian, pada tahun 1286, Candi Naga dibangun di dalam satu kompleks yang sama dengan Candi Penataran. Candi ini memiliki keunikan yaitu terdapat relief 9 orang yang menyangga naga. Naga merupakan lambang dari Candrasengkala (tahun 1208 Saka).

Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) menjelaskan bahwa Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pernah mengunjungi Candi Penataran (dalam kunjungannya ke wilayah Jawa Timur). Sang Raja berkunjung untuk melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapat yang merupakan wujud dari Dewa Siwa sebagai Raja Penguasa gunung.

Artikel Terkait

  • Kitab Weda: Pedoman Utama Umat Hindu
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on Mei 10, 2024 at 12:32 am

    Kitab Weda adalah kitab suci utama yang menjadi pedoman hidup bagi umat Hindu, yang dipercaya berasal dari sekitar 1500-500 SM. Kata “Weda” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “pengetahuan” atau “kebijaksanaan”. Pada kitab Weda isinya, mengenai doa, pujian, dan ajaran yang menjadi pedoman utama dalam bertindak. Selengkapnya, mengenai Kitab Weda bisa kamu baca penjelasannya dibawah Artikel Kitab Weda: Pedoman Utama Umat Hindu pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • 5 Fungsi Musik dalam Senam Irama adalah Untuk
    by Amanda R Putri (Sma Studioliterasi) on Mei 8, 2024 at 2:12 pm

    Salah satu aspek yang terdapat pada senam irama, yakni musik. Fungsinya, tidak lain agar lebih semangat saat senam, dan pastinya untuk menambah kesan keindahan. Eits, masih ada fungsi lainnya, lho! Selengkapnya, bisa kamu simak penjelasannya dibawah ini! Fungsi Musik dalam Senam Irama  Fungsi musik dalam senam irama tak hanya sebatas pengiring saja, namun memiliki peran The post 5 Fungsi Musik dalam Senam Irama adalah Untuk appeared first on Sma Studioliterasi.

  • 8 Cara Belajar Tenses dengan Mudah & Bikin Cepat Mengerti!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on Mei 2, 2024 at 6:00 am

    Tenses masih menjadi penghambat utama saat belajar Bahasa Inggris. Pasalnya kita dituntut untuk menguasai berbagai jenis tenses dan masing-masing memiliki fungsinya berdasarkan waktu kamu melakukan kegiatan. Karena kalau salah, maka dapat mempengaruhi susunan atau lanjutan kalimat berikutnya.  Bahkan bisa terjadinya misscom lantaran hanya kesalahan dalam memakai tenses. Tapi tenang, sebenarnya masih ada beberapa cara mudah Artikel 8 Cara Belajar Tenses dengan Mudah & Bikin Cepat Mengerti! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Mari Ketahui, 9 Sifat-Sifat Gelombang Bunyi!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on Mei 2, 2024 at 5:30 am

    Sifat-sifat gelombang bunyi merupakan salah satu dari sekian materi yang termasuk dalam kelompok IPA. Bahkan, kita sudah mulai mendapatkannya sejak berada level Sekolah Dasar (SD). Pas banget, Studio Literasi menuliskan artikel ini khusus tentang sifat-sifat gelombang bunyi buat yang sedang atau akan mempelajarinya. Yuk, persiapkan dirimu dengan menambah pengetahuan ilmu tersebut dengan membacanya! Gelombang Bunyi Artikel Mari Ketahui, 9 Sifat-Sifat Gelombang Bunyi! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

Sumber lain mengatakan bahwa Candi Penataran digunakan sebagai tempat untuk belajar agama dan tempat ziarah yang ramai pengunjungnya. Kronik dari Bada XV ini menjelaskan mengenai kisah perjalanan seorang bangsawan yang berasal dari kerajaan Sunda bernama Rabut Palah ke Candi Penataran.

Letak Candi Penataran dan Cerita ditemukannya kembali

Berdasarkan catatan dari seorang penjelajah Inggris bernama Sir Thomas Stamford Raffles, Candi Penataran ditemukan kembali pada tahun 1815. Pada masa itu Candi Penataran masih belum terawat dan bahkan cenderung diabaikan. Sehingga pada tahun 1995, Candi Penataran diajukan sebagai calon situs warisan dunia UNESCO dari Indonesia. Candi ini sudah pernah mengalami proses pemugaran.

Arsitektur Candi Penataran

Sebagai candi terluas dan termegah yang ada di Jawa Timur, kompleks candi ini memiliki total luas 12,946 m2. Bangunan tersebar dan terletak mulai dari barat laut hingga tenggara kompleks.  Di bagian belakang candi utama, terdapat sungai yang memiliki hulu di Gunung Kelud. Sedangkan di depan candi utama terdapat beberapa candi perwara dan balai pendopo.

Arsitektur yang dimiliki Candi Penataran berbeda dengan candi-candi yang berada di Jawa Tengah. Susunan candi di Jawa Timur cenderung linier dan tak beraturan. Kompleks candi ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian halaman depan, halaman tengah dan halaman belakang. 

Halaman Depan

Pada bagian halaman depan kompleks candi, anak nusantara akan melihat dua buah arca yang bernama Arca Dwarapala. Arca Dwarapala adalah arca yang dikenal sebagai penjaga pintu gerbang utama. Letaknya berada di sebelah kanan dan kirim pintu gerbang. Masyarakat setempat menyebut Arca tersebut dengan sebutan Reco Pentung. Dalam patung tersebut terdapat pahatan tahun yang bertuliskan 1242 saka atau 1320 M. Terdapat pula sisa pintu gerbang, pendopo teras, bale agung dan Candi Angka Tahun di area ini.

Pintu gerbang utama letaknya berada di halaman depan sebelah barat laut. Selain itu, juga ditemukan sisa pintu gerbang kompleks candi yang terbuat dari batu bata. Sisa pintu tersebut ditemukan di sebelah timur arca Dwarapala.

Bale Agung berada di kawasan halaman depan candi penataran yang luasnya 37 m x 18,84 m x 1,44 m. Lokasi dari Bale agung ini menjorok ke depan di sisi barat laut halaman depan. Bale Agung ini dibangun dengan material batu dengan dinding yang polos dan terdapat dua tangga di sebelah tenggara. Biasanya bangunan ini digunakan sebagai sarana musyawarah bagi para pendeta. 

Pendopo teras terletak di sebelah tenggara Bale Agung. Pendopo ini berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar 29,05 m x 9,22 m x 1,5 m. Bangunan ini dibangun sebagai tempat untuk meletakkan sesaji pada acara upacara keagamaan. Selain itu pendopo teras juga dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat bagi para raja maupun bangsawan dari kerajaan lainnya.

Arsitektur pada pendopo teras sangatlah unik. Terdapat pilar bangunan yang terlilit oleh ular dengan kepala menyembul diantaranya. Relief yang menceritakan tentang kisah Bubhuksah dan gagang aking, Sri Tanjung dan Sang Setyawan juga terukir di tembok pendopo. 

Candi Angka Tahun memiliki nama lain Candi Brawijaya dan Candi Ganesha. Candi ini menjadi salah satu candi yang terkenal di kawasan Candi Penataran. Pada candi ini tertulis angka tahun 1291 saka atau 1369 M. Di dalam candi Angka Tahun, anak nusantara bisa melihat Arca Ganesha yang terbuat dari batu. Arca Ganesha ini dibuat sedang duduk di Padmasana. Selain itu, terdapat pahatan relief Surya Majapahit yang terletak di atas batu penutup cungkup candi.

Halaman Tengah 

Memasuki halaman tengah, anak nusantara akan melihat 2 Arca Dwarapala dan 6 sisi bangunan. Terdapat pula Candi Naga dan pondasi bata yang berada di sebelah timur halaman tengah. 

Arca Dwarapala juga berada di halaman tengah dengan jumlah yang sama yaitu dua. Namun yang membedakan adalah ukurannya yang lebih kecil dari yang ada di halaman depan. Arca yang berada di halaman tengah memiliki usia yang lebih tua dari yang di depan. Tertulis arca tersebut dibuat pada tahun 1214 Saka atau 1319 M. 

Selain itu, terdapat sisa – sisa bangunan yang terbuat dari batu dan bata pada halaman tengah. Bangunan tersebut berjumlah 6 yang antara lain berupa candi tanpa penutup atas, batur dan sisa-sisa pondasi yang terbuat dari bata.

Di kawasan halaman tengah juga terdapat Candi Naga. Nama ini berasal dari arsitektur bangunan candi yang dililit oleh naga di sekelilingnya. Uniknya, pada candi ini juga terdapat penyangga berbentuk tokoh-tokoh yang berkostum raja yang terletak di sudut bangunan, tengah dinding dan sebelah kiri dan kanan pintu masuk. Luas candi Naga sekitar 6,57 m x 4,83 m x 4,7 m.

Pondasi bata terletak di sisi timur candi dengan arah menghadap barat daya. Pondasi ini menjadi bagian dari kompleks candi penataran yang berada pada bagian halaman tengah yang merupakan sisa-sisa dari bangunan. Luas tiap pondasi bata ini sekitar 10m x 20m.

Halaman Belakang

Berlokasi di dataran yang lebih tinggi, menjadikan bagian dari kompleks candi penataran ini menjadi halaman belakang (terakhir). Saat memasuki kawasan ini, anak nusantara akan disuguhi pemandangan bangunan yang terlihat sangat tak beraturan. Sedikitnya ada 9 bangunan bekas di kawasan tersebut. Terdapat pula prasasti Palah yang berupa linggapala dan sisa bangunan lainnya.

Selain itu, bangunan candi utama dari kompleks Candi Penataran ini berada di halaman belakang. Sebelum memasuki halaman belakang, anak nusantara akan melewati pintu gerbang paduraksa yang dijaga oleh arca dwarapala.

Candi utama ini memiliki tiga buah teras yang tingginya masing-masing 7,19m. Terdapat Arca Mahakala di sisi tangga candi utama yang terpahat angka tahun 1269 saka (1347 M). Pada teras pertama, terdapat relief cerita Ramayana yang terpahat di sekeliling dinding candi utama. Jika anak nusantara ingin membaca relief ini, kalian harus mengikuti arah prasawijaya yang dimulai dari sisi barat lain. Selanjutnya, terdapat relief dengan cerita Krçnayana pada teras kedua. Berbeda dengan relief Ramayana, cara membaca relief ini dilakukan dengan cara pradaksina yakni dibaca searah jarum jam. Terakhir, di teras ketiga kalian  bisa melihat relief dengan gambar naga dan singa bersayap. Teras ketiga ini memiliki bentuk bangunan bujur sangkar.

Di sebelah barat daya candi utama, terdapat dua buah sisa banguan yang terdiri dari candi kecil terbuat dari batu. Jenis candi ini disebut dengan klein heligdom (bathara kecil). Terdapat juga sisa bangunan berbentuk pondasi dari bata. Kedua bangunan ini menghadap ke sisi barat daya candi.

Prasasti Palah juga berada di halaman belakang. Prasasti ini dibuat oleh raja srengga di tahun 1119 Saka (1197M). Prasasti ini memiliki fungsi sebagai sarana penyembahan Bathara Palah sebagaimana tertulis di Prasasti Palah. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Sri Maharaja senantiasa setiap hari berada di tempat Bathara Palah.

Relief Candi Penataran

Bangunan-bangunan yang terdapat di kompleks candi penataran memiliki relief dengan cerita-cerita yang unik dan jarang ditemukan di candi-candi lain yang ada di Indonesia. Yang pertama terdapat relief perahu yang berada di halaman terluar. Dalam cerita, Perahu ini digambarkan dengan begitu besar dengan tiang dan dayung, sekilas kapal ini mirip dengan perahu bangsa Viking. Sebenarnya tak ada yang salah dari relief tersebut, namun jika dilihat dari wilayah tempatnya, kawasan Blitar ini tidak berada di pinggir pantai dan hanya dialiri oleh sungai brantas. Walaupun cukup lebar, tidak memungkinkan juga untuk digunakan sebagai sarana transportasi karena kontur antara hulu dan hilir sungai yang curam.

Selain relief perahu, ada lagi relief yang dirasa tak lazim. Terdapat relief yang menggambarkan adegan perang dengan prajurit yang menggunakan kostum dengan rumbai di kepalanya. Rumbai ini mirip dengan yang dimiliki oleh Suku Maya. Banyak yang berspekulasi bahwa candi ini ada hubungannya dengan Suku Maya.

Terdapat pula relief cerita romantis mengenai kisah cinta Raden Panji dari Kerajaan Kahuripan dengan Putri Candra Kirana dari Kerajaan Kediri. Cerita cinta mengenai Raden Panji dan Candra Kirana ini memiliki jalan cerita yang berpisah, saling mencari, kemudian kembali bersatu. Relief yang menggambarkan betapa Raden Panji merindukan kekasihnya. Digambarkan Raden Panji menuliskan surat untuk Putri Candra Kirana dan menitipkannya kepada burung yang terbang melewati lautan untuk menyampaikan surat tersebut. Kisah cinta keduanya banyak diceritakan kembali dalam versi relief ataupun sastra karena bisa menyatukan dua kerajaan secara damai.

Baca juga: Candi Muara Takus: Peninggalan Kerajaan Budha di Riau

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Candi Penataran: Candi Termegah dan Terluas di Jawa Timur

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]
    Alat musik gambus adalah salah satu alat musik tradisional Riau yang dimainkan dengan cara dipetik. Menurut sejarah, musik tradisional ini lekat dengan budaya islam. Bentuknya memang sekilas mirip dengan gitar, namun cara memainkan gambus ini sedikit berbeda, Anak Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat musik gambus dan cara memainkannya, simak artikel Museum Nusantara kali […]

    Trending

    Apapun yang terkait dengan fashion, terlebih kalau menyangkut kekeluargaan kerajaan pasti menarik untuk diketahui. Termasuk, pakaian kerajaan pada masa lalu yang tentu mengandung nilai bersejarah penting.  Kali ini kami akan mengajak kalian membahas pakaian putri Kerajaan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan berjaya di Nusantara antara abad ke-13 dan ke-16. Penasaran dengan pakaian putri khas […]
    Nekara dan moko ialah contoh artefak perunggu yang terkenal dari zaman prasejarah di Indonesia, tepatnya pada zaman logam. Memang kalau sekilas kita lihat memiliki beberapa kesamaan. Bahkan pada beberapa sumber sering kali menyebutkan kalau moko merupakan nama lain dari nekara. Ternyata, keduanya tidak sama dan terdapat perbedaan. Artikel ini bakal mengulas perbedaan yang signifikan pada […]