Cut Nyak Dien: Ksatria Perang Wanita Pemberani dari Aceh

3 min read

cut nyak dien

Tjoet Nja’ Dhien atau biasa kita kenal dengan Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional berasal dari Aceh. Semasa hidupnya, beliau menghabiskan waktunya untuk  melawan penjajah Belanda.

Kisah hidupnya penuh dengan perjuangan yang patut kita teladani. Kali ini,  Munus telah merangkum biografi secara lengkap di artikel ini.

Biografi Cut Nyak Dien

NamaCut Nyak Dien / Tjoet Nja’ Dhien
Lahir  Aceh Besar, 1848
Orang TuaTeuku Nanta Seutia 
Suami Teuku Cek Ibrahim Lamnga (Suami pertama), Teuku Umar (Suami ke dua)
AnakCut Gambang 
Wafat Sumedang, Jawa Barat 
Biografi Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien: Kelahiran dan Masa Kecil 

Menurut informasi yang dimuat pada situs resmi Provinsi Aceh, Tjoet Nja’ Dhien  lahir pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan taat beragama di Wilayah IV Mukim, Aceh Besar.  Tepatnya di daerah Lampadang.

Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia. Ia merupakan seorang Uleebalang VI Mukim. Beliau masih keturunan dari Machmoed Sati, perantau dari daerah Sumatera Barat. Sedangkan ibunya adalah putri dari  Uleebalang Lampagar atau kepala daerah bagian di wilayah Lampagar.  

Pada masa kecilnya, Dien mendapat pendidikan agama dari orang tua dan guru di sekolah. Ia  juga mendapat pendidikan karakter yang kuat berkaitan dengan rumah tangga, seperti memasak, melayani suami, dan kehidupan sehari-hari, dari orang tuanya. 

Selain anak pandai dan berilmu, Dien juga sosok yang cantik. Hal ini membuat banyak lelaki tertarik dengannya. Saat usianya menginjak 12 tahun, ia dinikahkan kedua orang tuanya dengan putra tunggal dari Uleebalang Lamnga XIII, bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga, di tahun 1862.

Perjuangan dan Perjalanan Hidup Cut Nyak Dien

Perjuangannya diawali ketika meletusnya perang Aceh pada tanggal 26 Maret 1873. Perang ini disebabkan oleh Belanda yang menyatakan perang perang dan mulai menembakkan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel Van Antwerpen.  

Perang pertama, terjadi di tahun 1873 sampai tahun 1874. Pasukan dari Aceh dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah dan Panglima Polim melawan pasukan Belanda sebanyak 3.198 prajurit. Pihak Belanda dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf Kohler. 

Kemudian, pada tanggal 8 April 1873, di bawah kepemimpinan Kohler, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen dan langsung menguasai serta membakar Masjid Raya Baiturrahman. Mengetahui hal itu, Dien, berseru kepada masyarakat Aceh, beliau mengatakan:

“Lihatlah Rakyat Aceh! Tempat ibadah kita dibakar!  Mereka telah menantang Allah! Jangan sampai kita memaafkan Belanda! “

Berkat semangat pasukan Kesultanan Aceh, akhirnya pada perang pertama, mereka dapat mengalahkan pasukan Belanda. Ibrahim Lamnga bersorak atas kemenangan, sedangkan Kohler tewas akibat tembakan pada April 1873.

Berbeda di tahun selanjutnya, Belanda berhasil menduduki daerah VI Mukim di bawah kepemimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Keraton Sultan juga jatuh pada tahun 1874. Karena kondisi semakin tidak aman, akhirnya pada tanggal 24 Desember 1875, Dien membawa bayinya untuk mengungsi bersama rombongan ibu-ibu. 

Suaminya tetap di wilayah semula untuk merebut kembali daerah IV Mukim. Namun pada tanggal 29 Juni 1875, Ibrahim Lamnga  tewas ketika bertempur di Gle Tarum. Mengetahui berita itu, Tjoet Nja’ Dhien  marah besar dan bersumpah akan membalas kekejaman Belanda.

Menikah Kembali

Sepeninggalan suami yang pertama, beliau dilamar oleh Teuku Umar. Awalnya beliau menolak, namun karena Teuku Umar memperbolehkan ikut berperang, akhirnya ia menerima. Dien menikah untuk kedua kali  dengan Teuku umar.

Pernikahan ini membuat semangat Aceh melawan Belanda meningkat. Pasukan Aceh melanjutkan perang secara gerilya dan mengobarkan perang fi’sabilillah. 

Teuku Umar mulai mengatur siasat dengan mendekati Belanda.  Beliau berpura-pura menyerahkan diri beserta 250 pasukannya ke Belanda. Belanda gembira karena musuhnya bersedia membantu mereka. Sehingga Teuku Umar diberi gelar oleh belanda menjadi Teuku Umar Johan Pahlawan, beliau juga dijadikan komandan unit bagian pasukan Belanda.

Selama menjadi komandan, Teuku umar mempelajari taktik Belanda. Beliau mengganti bagian-bagian pasukannya dengan orang Aceh. Ketika kuota pasukan telah terpenuhi, Teuku Umar mengatakan kepada Belanda bahwa ia memiliki rencana untuk menyerang basis Aceh. 

Namun, itu hanyalah siasat. Teuku Umar dan Dien  pergi bersama seluruh pasukan beserta seluruh perlengkapan senjata Belanda, dan tidak pernah kembali. Dalam sejarah, pengkhianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar.

Merasa dikhianati, Belanda marah dan merencanakan penyerangan untuk menangkap kembali Dien dan suaminya.  

Belanda menyerbu pasukan  Dien dan Umar secara mendadak di Meulaboh. Penyerangan ini menyebabkan Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1889.  

Melanjutkan Perlawanan Kepada Belanda

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai masa meninggalnya suami yang kedua. Ia melanjutkan perlawanan kepada Belanda. Beliau menganggap perlawanan ini tidak hanya milik Teuku Umar, Teuku Ibrahim Lamnga, maupun ayahnya.  Melainkan milik seluruh rakyat Aceh. Itulah yang menjadi pondasinya, sehingga ia melanjutkan untuk mengorganisir serangan yang dilakukan kepada Belanda.

Selama bertahun – tahun beliau menghabiskan seluruh tenaga dan pikirannya untuk melawan penjajah Belanda. Semua dilakukan secara gerilya, berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Semakin lama keadaan semakin terpuruk, kondisi kesehatan dan pasukannya sama-sama semakin rapuh. 

Hingga pada tanggal 16 November 1905, Belanda berhasil menyerbu  tempat persembunyiannya. Pasukan Dien akhirnya kalah. Kondisi dirinya yang sudah menua  serta pasukan kecilnya tidak bisa berbuat banyak. Beliau ditangkap dan dibawa ke Kutaraja, Banda Aceh. 

Diasingkan ke Sumedang

Meskipun berhasil menangkap Tjoet Nja’ Dhien, Belanda masih ketakutan jika kehadirannya memunculkan semangat perlawanan, ditambah lagi beliau masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tunduk. Akhirnya Dien Diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Tjoet Nja’ Dhien diasingkan ke Sumedang bersama tahanan politik Aceh lain. Disana ia mendapat perhatian dari Bupati Suriaatmaja. Tahanan laki-laki juga turut perhatian kepada beliau. 

Selama di pengasingan, Dien diserahkan kepada Bupati Sumedang, dan dirawat oleh KH. Ilyas. Disana beliau tinggal  bersama dua penjaganya di sebuah rumah. 

Cut Nyak Dien Wafat

KH. Ilyas menyadari bahwa Dien adalah sosok yang ahli dalam agama Islam. Beliau diajak untuk mengajar warga Sumedang mempelajari agama Islam. Sampai oleh warga dijuluki sebagai “Ibu Perbu” karena kepiawaiannya mengajarkan Al-qur’an. 

Setelah dua tahun di pengasingan, pada tanggal 6 November 1908, Dien Wafat di usianya  yang ke 60 tahun. Sampai akhir hayatnya masyarakat Sumedang tidak mengetahui bahwa “Ibu Perbu”nya selama ini adalah seorang pahlawan kemerdekaan. Informasi ini baru diketahui setelah Pemda Aceh melakukan penelusuran sejarah pada tahun 1960.

Dien dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Hingga kini, makamnya sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Peziarah memberikan doa dan sekaligus belajar kisah perjuangan Dien dalam melawan penjajah.

Baca juga: Pangeran Diponegoro: Biografi Sang Pemimpin Perang

Last Updated on Oktober 15, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up