Museum Tsunami Aceh: Mengenang Tragedi 26 Desember 2004

2 min read

Penampakan Museum Tsunami aceh dari kejauhan

Last Updated on November 6, 2020 by magang cmlabs

Halo anak nusantara! Apakah kalian pernah mendengar berita tentang tsunami aceh tahun 2004? Wah mengerikan sekali bencana alam itu. Gempa yang terjadi di Aceh kemudian disusul tsunami pada tahun tersebut menghebohkan seluruh dunia. Bagaimana tidak? Tsunami yang berpusat di Aceh tak hanya memporak-porandakan Aceh, tetapi juga negara tetangga seperti India, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan lainnya. Tercatat ada 14 negara yang mengalami kerugian akibat bencana yang terjadi. Ratusan ribu nyawa juga menjadi korban pada tragedi tersebut. Kali ini munus akan membahas tentang Museum Tsunami Aceh yang didirikan untuk mengenang peristiwa bencana dahsyat tersebut.

Sejarah Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami diresmikan pada tahun 2009 oleh Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden Indonesia saat itu. Museum ini memiliki lahan seluas 2.500 meter persegi. Berlatar belakang bencana tsunami yang menimpa Aceh, museum ini dibangun dengan konsep Rumoh Aceh on escape hill. Pembangunan museum menghabiskan dana sebesar 140 Miliar. Museum ini telah direncanakan sejak lama sebagai warisan dunia dalam mengingat tragedi tsunami Aceh. Lalu, ada Ikatan Arsitek Indonesia yang membantu mengadakan sayembara untuk perancangan museum.

Arsitektur Museum Tsunami Aceh 

Arsitek Museum Tsunami Aceh adalah Ridwan Kamil. Ridwan Kamil adalah seorang dosen arsitek Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia memenangkan sayembara  yang diadakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD dan Ikatan Arsitek Indonesia. Sayembara tersebut merupakan ajang tingkat internasional.

Konsep yang dirancang oleh arsitek Museum Tsunami Aceh ini sangat mengagumkan. Desain yang diterapkan memadukan rumah tradisional Aceh dan bencana alam yang terjadi. Terlihat juga bangunan ini memiliki dua perspektif. Dilihat dari bagian atas, bangunan ini tampak seperti gelombang tsunami. Namun jika dilihat dari tampak depan, bangunan ini seperti kapal besar dengan geladak yang luas. Atap bangunan dibuat terbuka yang bisa digunakan sebagai tempat evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana serupa. Jadi, selain untuk wisata, museum ini juga digunakan sebagai titik evakuasi dari bencana alam.

Konsep Bangunan Museum Tsunami Aceh

Bangunan ini terdiri pada 4 ruangan. Lantai 1 adalah ruang terbuka, mirip dengan rumah Aceh. selain digunakan sebagai ruangan terbuka untuk publik, jika terjadi tsunami kembali laju air tidak lagi terhalang oleh bangunan sehingga bangunan dapat kokoh dan cocok untuk tempat evakuasi.

Memasuki museum, terdapat ruangan yang disebut sebagai ruang renungan. Ruang renungan berupa lorong sempit dengan penerangan yang remang. Di sisi dinding lorong terdapat air mengalir di sisi kanan dan kiri, suara air itu diibaratkan sebagai suara gemuruh tsunami. Kemudian ada ruangan kaca yang disebut “Memorial Hill”. Ruangan ini dilengkapi dengan monitor yang menayangkan foto-foto kondisi Aceh yang hancur setelah tsunami berakhir.

Setelah lorong, ruangan berikutnya adalah ruangan berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya ke atas dengan tulisan lafadz Allah di atasnya. Ruangan yang disebut sebagai “The Light of God” ini berisi nama-nama korban yang meninggal dunia pada bencana tsunami. Selanjutnya ada ruang yang disebut Jembatan Harapan, jalannya memutar yang diibaratkan sebagai perjuangan warga Aceh untuk selamat dari bencana tsunami. Di ruangan ini juga terdapat 25 bendera negara yang telah membantu memulihkan Aceh pasca tsunami.

Kemudian di lantai berikutnya tersedia beberapa fasilitas, seperti perpustakaan, ruang geologi, mushola, dan tempat souvenir. Lalu di lantai paling atas museum, terdapat bukit dengan tanaman yang difungsikan sebagai tempat penyelamatan darurat. Tempat ini disebut dengan escape building. Lantai ini tidak dibuka untuk publik untuk menjaga kesterilan tempat agar dapat dipakai sewaktu waktu keadaan darurat. 

Alamat Museum

Untuk menuju museum ini, jalan yang ditempuh cukup mudah. Museum ini terletak di pusat kota Aceh, tepat nya di Jalan Iskandar Muda. Posisi nya sangat dekat dengan Masjid Baiturrohman dan Lapangan Blang Padang. 

Penampakan Museum Tsunami Aceh dari kejauhan
Museum Tsunami Aceh, foto oleh ksmtour,com

Harga Tiket Masuk

Untuk berkunjung ke tempat wisata ini, tidak perlu khawatir biaya yang dikenakan akan mahal. Ada beberapa tarif yang berlaku, untuk anak anak, pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya sebesar 2000 rupiah. Untuk orang dewasa dikenakan biaya sebesar 3000 rupiah. Lalu untuk turis mancanegara, dikenakan biaya sebesar 10.000 rupiah. Bagaimana? Murah bukan. Museum ini juga buka setiap hari, dari jam 09.00 sampai 16.00

Nabila Rasyidah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up