1. Biografi
  2. Tokoh

Pangeran Diponegoro: Biografi Sang Pemimpin Perang

Pangeran Harya Dipanegara atau lebih dikenal dengan pangeran Diponegoro merupakan salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia yang berasal dari Yogyakarta. Pria yang lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta pada 11 November 1785 ini, adalah putra sulung dari R.A Mangkarawati yang merupakan selir dari Gusti Raden Mas Suraja atau Hamengkubuwana III.

Diponegoro memiliki nama kecil bernama Raden Mas Antawirya, namun ketika beranjak dewasa berganti nama menjadi Pangeran Diponegoro. Ia dikenal sebagai pahlawan nasional yang memimpin Perang Diponegoro yang selama periode tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang ini dikenal sebagai perang yang paling banyak memakan korban, yakni sebanyak 8.000 korban serdadu Hindia Belanda, 7.000 pribumi, dan 200 ribu orang jawa serta kerugian materi 25 juta Gulden.

Kehidupan Pribadi Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang menyukai sirih dan rokok sigaret Jawa yang dilinting khusus menggunakan tangan, mengoleksi emas, serta berkebun. Ia juga menyukai roti bakar, kentang Belanda dengan campuran sambal, dan keripik singkong.

Diponegoro mulai menikah pada usia 27 tahun dan ia dikenal sebagai pria yang romantis. Ia setidaknya pernah menikah beberapa kali. Beberapa istri yang pernah dinikahi Diponegoro seperti : 

Artikel Terkait

  • Annelida: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi & Peranannya
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 19, 2024 at 4:59 am

    Mempelajari makhluk hidup memang tidak ada habisnya ya guys. Dengan mempelajarinya kalian jadi tahu apa jenis-jenis hewan yang ada di muka bumi ini. Salah satu jenis hewan yang sering kita temui adalah cacing. Hewan yang bikin geli ini dan sering muncul saat musim hujan ini adalah hewan yang akan kita bahas kali ini.  Nah, kalau The post Annelida: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi & Peranannya appeared first on Sma Studioliterasi.

  • Mengenal Hukum Ohm: Definisi, Bunyi dan Soal Pembahasan
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 19, 2024 at 3:48 am

    Halo kawan literasi, bagaimana kabar kalian? aku harap baik-baik saja, ya. Pada pembahasan artikel fisika ini masih berhubungan dengan kelistrikan yaitu hukum ohm. Nah, pasti kalian sedikit banyak mengenal hukum fisika tersebut. Ternyata dalam rangkaian listrik, harus mempunyai hambatan dengan besar tertentu, lho. Mau tau kenapa?  Daripada penasaran, ayo kita belajar hukum fisika ini mulai The post Mengenal Hukum Ohm: Definisi, Bunyi dan Soal Pembahasan appeared first on Sma Studioliterasi.

  • Mengenal Alat Pembayaran Beserta Jenis-Jenisnya
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 16, 2024 at 7:42 am

    Kegiatan transaksi sangat berkaitan dengan alat pembayaran. Semakin bertambahnya zaman, teknologi dan informasi di bidang ekonomi dan perbankan semakin berkembang. Analogi sederhananya adalah keadaan dahulu semaju sekarang, alat pembayaran hanya menggunakan uang logam dan uang kertas.  Ternyata, manusia menemukan beberapa keterbatasan dalam melakukan pembayaran. Jadi, muncullah beberapa metode atau alat pembayaran yang efektif dan efisien The post Mengenal Alat Pembayaran Beserta Jenis-Jenisnya appeared first on Sma Studioliterasi.

  • Mengenal Alat Optik & Jenis-Jenisnya yang Harus Kalian Ketahui
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 15, 2024 at 5:17 am

    Salah satu alat optik yang paling dipakai oleh orang-orang yang di sekitar adalah kacamata. Seperti yang kita tahu, kacamata adalah alat bantu penglihatan untuk melihat objek dengan jelas. Nah, kawan literasi apakah kalian menyadari bahwa kacamata memiliki sistem khusus untuk memudahkan mata melihat benda dari jarak dekat maupun jauh?  Atau sesederhana kamera yang sering kita The post Mengenal Alat Optik & Jenis-Jenisnya yang Harus Kalian Ketahui appeared first on Sma Studioliterasi.

  1. Raden Ayu Retno Madubroto
  2. Raden Ajeng Supadmi
  3. R.A. Retnadewi
  4. Raden Ayu Citrawati
  5. Raden Ayu Maduretno
  6. Raden Ayu Retnoningrum
  7. Raden Ayu Retnaningsih
  8. R.A. Retnakumala
  9. Syarifah Fathimah Wajo

Istri pertama dan ketiganya meninggal ketika Diponegoro masih tinggal di Tegalrejo. Ia juga bercerai dengan istri keduanya setelah tiga tahun menikah. Sedangkan, istri keempatnya yaitu Raden Ayu Citrawati meninggal tidak lama setelah melahirkan bayinya. Bayi tersebut akhirnya diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh dan diberi nama Singlon atau yang terkenal dengan nama Raden Mas Singlon. Ia pun menikah kembali untuk kelima kalinya. Istrinya kelimanya diangkat sebagai permaisuri dengan gelar Kanjeng Ratu Kedaton I, sedangkan Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdul Hamid pada 18 Februari 1828. Setelah itu, ia menikah kembali dengan Raden Ayu Retnoningrum, Raden Ayu Retnaningsih, R.A. Retnakumala, dan terakhir Syarifah Fathimah Wajo. 

Dari seluruh pernikahannya, ia dianugerahi anak sebanyak 12 orang putra dan 5 orang putri yang saat ini keturunannya tersebut tersebar di berbagai penjuru dunia, seperti  Jawa, Madura, Sulawesi, Maluku, Australia, Serbia, Jerman, Belanda, dan Arab Saudi.

Perang Diponegoro

Awal penyebab terjadinya Perang Diponegoro yaitu ketika pemerintah Belanda memasang patok di tanah milik Pangeran Diponegoro yang ada di desa Tegalrejo. Sikapnya yang secara terbuka menentang Belanda mendapatkan simpati dan dukungan dari rakyat. Kemudian, atas saran pamannya, yaitu GPH Mangkubumi, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan mempersiapkan perang untuk melawan Belanda. Dalam masa melawan Belanda, ia menggunakan strategi gerilya dan memusatkan perlawanannya di Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya merupakan perang sabil, yaitu perlawanan melawan kaum kafir.

Semangat perang yang dikumandangkan oleh Diponegoro kemudian pengaruhnya mulai menyebar ke berbagai daerah seperti Pacitan dan Kedu. Bahkan, salah satu tokoh agama di Surakarta, yaitu Kyai Madja, mulai ikut bergabung dengan pasukannya. Ia tertarik untuk berjuang bersama karena Pangeran Diponegoro ingin mendirikan kerajaan yang berlandaskan Islam. Kekeluargaan antara keduanya mulai erat setelah Kyai Madja menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman dari Diponegoro. Selain Kyai Madja, perjuangan Diponegoro juga mendapat dukungan dari Sunan Pakubuwana VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya Bupati Gagatan. 

Pada puncak peperangan, Belanda yang mulai kewalahan menghadapi peperangan mengerahkan lebih dari 23.000 pasukannya. Belanda berhasil menangkap Kyai Madja serta membuat Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya yaitu Sentot Ali Basya menyerahkan diri pada tahun 1827 dengan menggunakan strategi banteng yang mereka gunakan. Kemudian, pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal de Kock berhasil mengepung pasukan Diponegoro di Magelang. Disana, Pangeran Diponegoro menyatakan bahwa ia akan menyerahkan diri dengan syarat sisa pasukannya di lepaskan. Hingga akhirnya ia ditangkap dan diasingkan ke Manado.

Wafatnya Pangeran Diponegoro

Saat ditangkap dan akan diasingkan ke Manado, kondisi Pangeran Diponegoro sudah dalam keadaan lemah, muntah-muntah akibat mabuk laut, dan terkena sakit malaria. Ia beserta rombongannya, yaitu istri, dua anaknya, dan 23 pengikutnya tiba di Manado pada 12 Juni 1830.

Pangeran Diponegoro, Sang Pemimpin Perang, foto oleh dunialukisan-javadesindo,blogspot

Pada awalnya, ia akan ditempatkan di Tondano, namun akhirnya dipindahkan ke Benteng Manado untuk sementara waktu agar tidak bertemu dengan Kyai Madja yang berada di Tondano. Diponegoro beserta rombongannya berada di Benteng Manado sejak Juni 1830 hingga Juni 1833. Lalu, ia dipindahkan ke Makassar secara diam-diam pada tahun 1833 dan ditempatkan di benteng Fort Rotterdam selama sebelas tahun. Ia menghabiskan  akhir hayatnya di Makassar dan meninggal pada 8 Januari 1955 pada usia 69 tahun.

Keris Pangeran Diponegoro

Keris milik Pangeran Diponegoro yaitu keris Kyai Naga Siluman yang sempat hilang 150 tahun yang lalu telah di temukan di Belanda dan resmi diserahkan ke Museum Nasional Indonesia yang ada di Jakarta. 

Pada awalnya Diponegoro memberikan keris ini kepada utusan Jenderal de Kock, Kolonel Jan-Baptist Cleerens saat setelah ia ditangkap pada 28 Maret 1830. Keris itu akhirnya dihadiahkan oleh Cleerens kepada Raja Willem I pada 1831. Yang kemudian, disimpan di Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKZ) atau koleksi khusus kabinet Kerajaan Belanda.

Koleksi yang ada disana tersebar ke sejumlah museum saat setelah KKZ dibubarkan. Namun banyak informasi tersebar tentang hilangnya beberapa koleksi, termasuk Keris Kyai Naga Siluman yang ada di Museum Volkenkunde di Leiden. 

Pencarian pun dimulai pada 1984 oleh Peter Pott, kurator Museum Volkenkunde yang akhirnya menjabat sebagai direktur museum. Namun, penelitiannya akhirnya terhenti. Pencarian mulai  kembali dilakukan oleh Johanna Leihjfeldt (2017) dan Tom Quist (2019).

Hingga akhirnya ditemukannya Keris Kyai Naga Siluman di Belanda. Hal itu dibuktikan dari tiga dokumen penting. Yang pertama yaitu korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van het department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies. Dalam korespondensi tersebut disebutkan bahwa Kolonel Cleerens menawarkan kepada Raja Belanda Willem I sebuah keris dari Diponegoro. Kedua yaitu kesaksian Sentot Prawirodirjo yang ditulis dalam bahasa Jawa yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Belanda. Surat itu berisi tentang pernyataan bahwa Sentot melihat sendiri Diponegoro menyerahkan Keris Kyai Naga Siluman kepada Kolonel Cleerens. Dan yang ketiga adalah catatan Raden Saleh yang ditulis di bagian sisi kanan surat kesaksian Sentot Prawirodirjo. Catatan itu berisi tentang Raden Saleh yang telah melihat dengan mata kepalanya sendiri keris itu di Belanda dan menjelaskan makna Keris Kyai Naga Siluman serta ciri-ciri fisik keris itu.

Namun demikian, diantara pusaka-pusaka milik Pangeran Diponegoro, keris Kyai Ageng Bondoyudo masih diakui sebagai yang paling utama. Selain karena memiliki “isian” sebagai penguasa semua roh di Cilacap, keris itu pula yang menemani Diponegoro ketika dimakamkan di Makassar, saat wafatnya pada 8 Januari 1855.

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Pangeran Diponegoro: Biografi Sang Pemimpin Perang

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Busur panah telah menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia selama berabad-abad. Seni memanah telah diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap menjadi bagian dari budaya dan tradisi bangsa. Artikel ini akan mengenalkan Anda pada berbagai bentuk busur panah yang ada di Indonesia, serta memberikan wawasan tentang pentingnya seni memanah dalam masyarakat Indonesia. Apa Itu Busur […]

    Trending

    Terdapat ragam seni pertunjukan yang terkenal di Bali, salah satunya adalah tari Topeng Sidakarya yang merupakan bagian penting dari upacara keagamaan Hindu. Tari Topeng Sidakarya adalah salah satu seni pertunjukan di Bali yang dipentaskan dari generasi ke generasi. Biasanya, seni pertunjukan ini ditampilkan sebagai bagian dari upacara sakral kaum Hindu, yaitu upacara Yadnya. Seni tari […]
    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]
    Alat musik gambus adalah salah satu alat musik tradisional Riau yang dimainkan dengan cara dipetik. Menurut sejarah, musik tradisional ini lekat dengan budaya islam. Bentuknya memang sekilas mirip dengan gitar, namun cara memainkan gambus ini sedikit berbeda, Anak Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat musik gambus dan cara memainkannya, simak artikel Museum Nusantara kali […]
    Selama berabad-abad, Indonesia telah menjadi rumah bagi keberagaman budaya yang kaya, termasuk seni tari tradisional yang memukau. Tari tradisional Indonesia bukan hanya sekadar gerakan-gerakan artistik yang menakjubkan, tetapi juga mewakili identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat di berbagai daerah. Tari Sirih Kuning adalah salah satu jenis tarian tradisional yang memiliki akar budaya kuat bagi masyarakat Betawi. […]