Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Sejarah Bahasa Indonesia: Asal-usul dan Pemicunya

2 min read

gambar-sejarah-bahasa-indonesia-tans7,c,id

Sebagai negara besar yang memiliki keberagaman suku, Indonesia terdiri dari banyak bahasa daerah. Dari sekian banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia, Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Maksud dari bahasa persatuan di sini adalah bahasa yang menghubungkan antara suku yang satu dengan suku lainnya yang memiliki bahasa yang berbeda. Bagaimana Sejarah Bahasa Indonesia mulai digunakan telah Munus rangkum sebagai berikut.

Sejarah Bahasa Indonesia Singkat

Terdapat beberapa fase yang dilewati hingga Bahasa pemersatu Indonesia ini menjadi bahasa negara seperti sekarang. Jika dicermati, bahasa pemersatu Indonesia memiliki kemiripan yang sangat besar dengan bahasa Melayu karena asal muasalnya yang memang bersumber dari bahasa Melayu. Bahkan, bahasa ini pun sudah dipakai dari masa kerajaan seperti pada kerajaan Sriwijaya dan membentuk sejarah Bahasa Indonesia. 

Masa Kerajaan Sriwijaya

gambar-sejarah-bahasa-indonesia-tibunnews,com
Gambar Sejarah Bahasa Indonesia, Foto Oleh Tribunnews. com

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa bahasa Melayu yang merupakan sumber terciptanya Bahasa nasional Indonesia telah digunakan sejak abad ke 7 khususnya di kawasan Asia Tenggara. Pada waktu itu kerajaan yang berkuasa di kawasan Asia Tenggara adalah kerajaan Sriwijaya yang juga telah menggunakan bahasa Melayu di kehidupan bermasyarakatnya. Pernyataan tersebut didasarkan pada temuan prasasti-prasasti yang memperkuat dugaan tersebut diantaranya yaitu prasasti di Kedukan Bukit bertuliskan angka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo bertuliskan angka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur tertulis angka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). 

Dari semua prasasti di atas menggunakan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Pada masa kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa kebudayaan berupa bahasa yang dipakai dalam kitab pelajaran Agama Buddha. Selain itu, bahasa ini juga digunakan dengan tujuan perdagangan yaitu penghubung antar pedagang baik yang berasal dari dalam dan luar Nusantara. Menurut I-Tsing, seorang yang belajar agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya, di Kerajaan Sriwijaya. sendiri terdapat bahasa yang bernama Koen-Iuen yang dikenal dengan bahasa Melayu pada sekarang ini.

Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional: Perjuangan Melalui Pemikiran

Masa Kerajaan Islam

Pada peninggalan kerajaan Islam, perkembangan bahasa Melayu semakin terlihat jelas. Pasalnya, baik peninggalan berupa batu prasasti maupun karya kesusasteraan semuanya menggunakan bahasa Melayu. Seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh yang bertuliskan angka 1380 M dan juga karya sastra abad ke 16 dan 17 M seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Syair Hamzah Fansuri, dan lain sebagainya.

Bersamaan dengan menyebarnya agama Islam, begitu pula dengan bahasa Melayu juga ikut menyebar luas. Dikarenakan termasuk bahasa yang mudah dipahami, bahasa Melayu diterima masyarakat dengan baik. Bahasa ini menyerap kosakata dari berbagai bahasa lain seperti halnya bahasa Persia, bahasa Arab, bahasa-bahasa Eropa, dan bahasa Sanskerta pada utamanya. Oleh karena banyaknya sumber bahasa serapan dari berbagai bahasa, maka dalam perkembangannya pun juga muncul berbagai macam variasi serta dialek.

Bahasa Melayu yang telah berkembang begitu pesat tentu saja memberikan pengaruh positif terhadap rakyat Indonesia, khususnya para pemuda. Hal itu memicu eratnya rasa persaudaraan dan kesatuan yang dimiliki oleh para pemuda Indonesia tersebut. Dari sinilah awal mula dikenalnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Bangsa.

Ikrar Para Pemuda Indonesia

gambar-sejarah-bahasa-indonesia-liputan6,com
Gambar Sejarah Bahasa Indonesia, Foto Oleh Liputan6. com

Sejarah Bahasa Indonesia pertama kali muncul pada saat ikrar sumpah pemuda. Sumpah pemuda sendiri merupakan ikrar yang dilakukan oleh perkumpulan pemuda dari berbagai daerah di Nusantara pada suatu agenda rapat. Ikrar yang lebih dikenal dengan sebutan sumpah pemuda ini dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928. Isi sumpah tersebut mencakup tiga poin yang nantinya akan sangat berpengaruh pada sejarah Bahasa Indonesia.

Poin pertama dari sumpah pemuda adalah mengakui bahwa para pemuda tersebut bertumpah darah yang satu yakni tanah air Indonesia. Untuk bagian kedua para pemuda dari berbagai daerah itu menyatakan kebangsaan yang satu yaitu bangsa Indonesia. Poin ketiga sekaligus poin terakhir dari ikrar sumpah pemuda ini adalah menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dari poin ketiga inilah awal mula dikenalnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Peresmian dari bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dilakukan sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan. Pengumuman peresmian tersebut bertepatan pada tanggal 18 Agustus 1945. Di hari yang sama pula lah hal tersebut dituangkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 36 yang menyebutkan bahwa bahasa negara ialah Bahasa Indonesia. Meskipun demikian, berbagai macam bahasa daerah yang berkembang di Indonesia tidak musnah dan diabaikan begitu saja. Para penduduk Republik Indonesia masih tetap mempertahankan bahasa daerah masing-masing.

Penggunaan bahasa nasional Indonesia sendiri biasanya dipakai pada saat dua suku atau lebih ingin berkomunikasi satu sama lain. Yakni sesuai dengan fungsinya yang berguna untuk menjembatani komunikasi dari bermacam suku yang berbeda. Selain itu, Bahasa nasional Indonesia biasanya digunakan dalam konteks yang lebih formal seperti pada saat diskusi ilmiah, di sekolah, kantor, dan lain sebagainya.

Kesimpulan 

Sejarah Bahasa Indonesia dimulai bertepatan dengan pengucapan ikrar sumpah pemuda oleh beberapa pemuda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahasa nasional Indonesia yang merupakan bahasa adaptasi dari bahasa Melayu memegang fungsi sebagai bahasa pemersatu. Dari yang awal mulanya tidak mengerti pembicaraan satu sama lain, maka dengan Bahasa pemersatu di Indonesia hal tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai anak Nusantara merasa bangga atas bahasa nasional Indonesia dan melestarikannya.

Baca juga: Peristiwa Sumpah Pemuda

Last Updated on Januari 8, 2021

Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up