Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Alat Musik Tifa: Produk Asli Kebudayaan Indonesia Timur

3 min read

gambar-alat-musik-tifa-felderfans,com

Budaya kesenian tradisional sangat beragam di Indonesia, salah satu cabangnya yaitu pada bidang musik. Musik tersebut dimainkan menggunakan alat musik tradisional yang menjadi identitas dari suatu daerah. Satu diantara alat musik tradisional yang ada di Indonesia adalah Tifa. Kali ini Munus akan membahas mengenai sejarah hingga cara memainkan Alat Musik Tifa.

Sejarah Alat Musik Tifa

Alat musik Tifa berasal dari Indonesia Timur, yaitu daerah Papua dan Maluku. Banyak versi sejarah dari ditemukannya alat musik Tifa. Sejarah tersebut beragam tergantung dari tiap daerahnya. Namun, terdapat satu sejarah ditemukannya Tifa yang sangat terkenal, yaitu di daerah Biak. Berbentuk seperti cerita rakyat yang masih erat kaitannya dengan mitos, cerita tersebut dipercaya oleh masyarakat setempat.

Diceritakan di suatu daerah bernama Maryendi hidup dua orang lelaki bersaudara. Dua bersaudara tersebut bernama Fraimun dan Sarenbeyar. Nama-nama tersebut memiliki arti yang sangat bagus. Fraimun memiliki arti perangkat perang yang gagangnya dapat membunuh, sedangkan Sarenbeyar yang terdiri dari dua kata yaitu Saren yang berarti busur dan Beyar yang bermakna anak panah yang terpasang pada busur. 

gambar-alat-musik-tifa-travel.detik,com
Gambar Alat Musik Tifa, foto oleh Travel.detik. com

Fraimun dan Sarenbeyar pergi dari daerah asalnya, Maryendi, dikarenakan desa tersebut telah tenggelam. Mereka kemudian berkelana untuk mencari daerah baru yang dapat ditinggali hingga kemudian menemukan suatu daerah di Biak Utara bernama Wampember. Mereka kemudian tinggal dan menetap di sana. 

Pada saat mereka berburu di malam hari, mereka melihat sebatang pohon bernama opsur. Pohon ini adalah pohon yang mengeluarkan bunyi di tengah hutan. Dikarenakan sudah sangat larut, dua bersaudara ini pulang dan kembali ke tempat yang sama di keesokan harinya. Ketika sampai di titik yang sama dimana opsur itu berada, mereka menemukan bahwasanya terdapat beberapa hewan yang tinggal di sana seperti lebah madu, soa-soa, biawak, dan hewan lainnya.

Karena penasaran, dua lelaki tersebut pun menebang pohon itu kemudian mengeruk bagian dalam dari kayu hingga bolong berbentuk seperti pipa. Alat yang digunakan untuk mengeruk adalah nibong, yaitu semacam besi panjang yang ujungnya sangat tajam. Setelah selesai dikeruk, bagian tengahnya dibakar dengan tujuan agar lebih apik.

gambar-alat-musik-tifa-taldebrooklyn,com
Gambar Alat Musik Tifa, foto oleh Taldebrooklyn. com

Sesudah kayu berbentuk tabung tersebut yang apik, Fraimun dan Sarenbeyar berniat menutupi salah satu lubang dengan menggunakan kulit paha sang kakak. Akan tetapi, karena dirasa akan sangat menyakitkan, maka niatan tersebut diurungkan. Mereka kemudian berunding dan menemukan ide untuk menggunakan kulit hewan sebagai penutupnya.

Kulit hewan yang digunakan yaitu soa-soa. Mereka memanggil soa-soa tersebut menggunakan bahasa Biak yang berbunyi “Hei, Napiro Bo..” secara berulang-ulang hingga mereka merasa bahwa hewan tersebut mengerti apa yang mereka bicarakan. Soa-soa itu kemudian pasrah dan menyerahkan diri hingga akhirnya dikuliti. Kulit tersebut pada akhirnya dipasang pada salah satu lubang dengan menggunakan rotan sebagai pengikatnya. 

Baca juga: Alat Musik Tradisional Sasando: Kebudayaan Asli NTT

Bahan Untuk Membuat Alat Musik Tifa

Tifa terbuat dari kayu berkualitas terbaik di daerah Papua, yaitu kayu lenggua. Kayu lenggua terkenal kuat dan tebal sehingga dikategorikan sebagai kayu nomor satu yang cocok digunakan untuk membuat instrumen musik. Kayu tersebut nantinya akan dikeruk bagian tengahnya sehingga menyerupai pipa.

Untuk menutupi salah satu bagian yang berlubang, bahan yang dipakai adalah kulit hewan. Hewan yang biasanya digunakan yaitu biawak, soa-soa, dan rusa. Sesudah kulit hewan tersebut dikuliti, maka dilanjutkan dengan menjemurnya hingga kering, semakin kering kulit tersebut maka suara yang dihasilkan juga semakin khas. Rotan dipakai untuk menyatukan antara kayu yang telah berbentuk tabung dengan kulit yang sudah kering. 

gambar-alat-musik-tifa-indonesiakaya,com
Gambar Alat Musik Tifa, foto oleh Indonesiakaya. com

Selain itu juga terdapat ukiran bermotif khas pada bagian kayu tersebut. Ukiran tersebut memiliki fungsi untuk menunjukkan hal-hal seputar kegiatan sehari-hari serta rasa syukur dari si pembuat. Selain itu, motif tersebut menunjukkan kedudukan apakah orang tersebut merupakan pakas anem (kepala suku) atau hanya masyarakat biasa.

Terdapat perbedaan mendasar pada Tifa yang berasal dari Papua dan Maluku. Tifa dari Papua memiliki pegangan di sisinya serta memiliki bentuk yang lebih ramping, sedangkan Tifa Maluku hanya terdapat tabung tanpa pegangan dan berukuran lebih lebar. Tifa sendiri memiliki beberapa jenis yang ditentukan oleh daerah asal dan juga bunyi yang dihasilkan, diantaranya Tifa Jekir, Tifa Potong, Tifa Dasar, serta Tifa Bas.

Fungsi Alat Musik Tifa

Tifa memiliki fungsi untuk dimainkan pada saat upacara-upacara besar dan peringatan tertentu. Selain itu, instrumen musik ini biasa dimainkan untuk mengiringi tarian-tarian tradisional seperti Tari Gatsi, Tari Asmat, dan tari tradisional yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan bentuk dan suara yang dihasilkan masih sangat tradisional dan cocok untuk kegiatan tradisional lainnya. Meski begitu, alat musik Tifa ini sudah terkenal ke penjuru tanah air bahkan hingga tingkat global.

Cara Memainkan Alat Musik Tifa

gambar-alat-musik-tifa-selam,ukm,ugm,ac,id
Gambar Alat Musik Tifa, foto oleh Selam.ukm.ugm.ac. id

Selayaknya gendang yang merupakan instrumen khas Jawa, Alat Musik Tifa dimainkan dengan cara dipukul / ditabuh. Karena memiliki bentuk yang lebih ramping dan tidak terlalu berat, suara yang dihasilkan oleh Tifa menjadi lebih ringan, tidak berat dan berdengung seperti gendang. Orang yang memainkan biasanya adalah seorang laki-laki dewasa dengan tangan kosong.

Kesimpulan

Alat musik Tifa yang berasal dari Indonesia Timur ini merupakan instrumen tradisional yang dipakai untuk kegiatan adat berupa upacara-upacara besar. Suara yang dihasilkan pun sangat cocok untuk mengiringi berbagai kegiatan adat dan memiliki bentuk yang merepresentasikan nilai adat suatu daerah. Kekayaan kebudayaan ini patut untuk dilestarikan sehingga akan bertahan lama hingga anak cucu kita nanti.

Baca juga: Alat Musik Angklung: Warisan Budaya Dunia Dari Sunda

Last Updated on Januari 4, 2021

Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up