Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Pakaian Adat Sumatera Barat: Simbolisasi Nilai Kebaikan

3 min read

pakaian-adat-sumatera-barat-bajukupopuler,blogspot,com

Sebuah provinsi di Indonesia yang penduduknya dikenal dengan Suku Minang ini menyimpan sejuta kekayaan budaya, mulai dari rumah adat, makanan, hingga pakaian adatnya. Kali ini Munus akan mengajak anak nusantara untuk membahas lebih dalam mengenai Pakaian Adat Sumatera Barat. Pakaian daerah ini juga merupakan identitas asli dari Suku Minang yang berdomisili di Sumatera Barat. Simak lebih lanjut hal-hal mengenai Pakaian Adat Sumatera Barat berikut.

Nama-Nama Pakaian Adat Sumatera Barat

Terdapat banyak jenis pakaian adat yang ada di Sumatera Barat. Tiap-tiap jenis memiliki ciri khas tersendiri serta nilai filosofis yang dikandungnya. Modelnya pun mengikuti adat istiadat yang berkembang di sana. Di bawah ini adalah nama-nama pakaian khas Sumatera Barat dikelompokkan menjadi laki-laki dan perempuan.

Pakaian Adat Sumatera Barat Laki-laki

Seperti kebanyakan baju adat untuk laki-laki, biasanya terdiri dari hiasan kepala, baju atasan, baju bawahan, aksesoris berupa senjata tradisional, dll. Biasanya dalam pemakaiannya ingin menunjukkan kesan gagah yang memang menjadi lambang dari sifat laki-laki. Serta tak lupa pula menonjolkan kesan tradisional yang mencerminkan budaya Suku Minang. Di bawah ini adalah macam-macam pakaian Adat Sumatera Barat yang dipakai oleh laki-laki.

Deta

gambar-pakaian-adat-sumatera-barat-tambahpinter,com
Gambar Pakaian Adat Sumatera Barat, foto oleh Tambahpinter. com

Dimulai dari ujung kepala, terdapat pakaian adat yang disebut deta. Deta sendiri merupakan hiasan kepala yang terbuat dari kain. Kain yang digunakan biasanya berbentuk segitiga yang kemudian dililitkan mengelilingi kepala hingga membuat semacam kerutan dan pada bagian depan deta haruslah dibuat lancip. Umumnya deta yang ada di masyarakat berwarna hitam, namun tetap memungkinkan untuk menemukan deta dengan warna yang lain.

Deta dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan status sosial dari pemakainya, pembagian ini mengikuti adat Minangkabau yang sudah ada sejak lama. Jenis yang pertama dari deta ini adalah deta raja. Sesuai dengan namanya, deta jenis ini diperuntukkan untuk raja. Bahan pembuatannya pun tidak sembarangan, melainkan menggunakan bahan dengan kualitas yang sangat bagus.

Deta jenis kedua yaitu deta saluak batimbo. Deta jenis ini merupakan pakaian yang dipakai oleh para penghulu di wilayah Sumatera Barat. Penutup kepala yang satu ini dipakai bersamaan dengan baju penghulu. Terakhir, deta cilien manurun dan deta ameh merupakan deta yang dipakai oleh para rakyat biasa. Motif kain dari deta jenis ini sangat sederhana dan penggunaannya sering dipakai pada kegiatan sehari-hari.

Baca juga: Pakaian Adat Indonesia Lengkap 34 Provinsi: Ciri Khas Kebudayaan

Baju Penghulu

Baju yang biasa digunakan oleh para pemangku adat ini dibuat menggunakan kain beludru. Kain beludru hitam yang menunjukkan kesan mewah serta kepemimpinan menjadi alasan digunakannya kain ini. Namun, meskipun biasa dipakai oleh para petinggi yang memimpin suku, tidak menutup kemungkinan jika ada orang dari kalangan biasa memakai pakaian ini karena tidak ada aturan yang mengikat.

Minsai

Memiliki simbol khusus dalam pemakaiannya, pakaian Adat Sumatera Barat ini diletakkan secara diagonal melalui bahu. Jadi, pada dasarnya Minsai digunakan setelah baju penghulu terpasang di badan, baru kemudian Minsai tersebut disampirkan. Simbol khusus yang terkandung pada pemakaiannya adalah kewajiban bagi setiap pria Minangkabau untuk taat pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah Sumatera Barat.

Sarawa

Berfungsi sebagai bawahan baju penghulu, Sarawa tergolong memiliki ukuran yang cukup besar. Ukuran besar dari Sarawa tersebut dibuat bukanlah dengan tanpa tujuan, melainkan mengandung makna filosofis yang mendalam di baliknya. Nilai filosofis dari ukuran yang kebesaran dari Sarawa ini memiliki arti sebagai simbolisasi kebesaran jiwa dari laki-laki Minang untuk memikul berbagai macam tanggung jawab yang menyertainya.

Cawek

Baju Adat Sumatera ini memiliki fungsi sebagai ikat pinggang. Cawek dikombinasikan dengan Sarawa yang merupakan bawahan dengan ukuran yang cukup besar menjadi satu kombinasi yang cocok dalam pemakaiannya. Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya adalah sebagai seorang laki-laki Minangkabau yang nantinya akan menjadi pemimpin haruslah memiliki sifat terampil dan cakap. Selain itu, Makna penggunaannya adalah sebagai penguat persaudaraan antar Suku Minang di manapun mereka berada.

Keris dan Tongkat

gambar-pakaian-adat-sumatera-barat-instagram.com/chikitameidy
Gambar Pakaian Adat Sumatera Barat, foto oleh instagram.com/chikitameidy

Suatu pakaian tradisional tanpa pelengkap aksesoris menjadi suatu hal yang kurang enak dipandang mata. Pasalnya, fungsi dari aksesoris sendiri adalah sebagai pelengkap penampilan agar terlihat lebih apik. Keris dan tongkat yang merupakan salah dua aksesoris dalam Pakaian Adat Sumatera Barat mengindikasikan makna tertentu.

Keris mengandung makna filosofis yang diyakini oleh masyarakat sekitar, yaitu harapan agar orang memakainya menjadi sabar dan tidak gegabah dalam melakukan segala hal. Senjata tradisional keris ini dipakai dengan cara disematkan di pinggang. Sedangkan untuk tongkat, ia memiliki arti untuk menunjukkan sikap tanggung jawab laki-laki sebagai seorang pemimpin. Tongkat ini tidak dipakai, melainkan dipegang menggunakan tangan kanan oleh para pria Minangkabau.

Pakaian Adat Sumatera Barat Perempuan

Sama halnya seperti laki-laki, perempuan Sumatera Barat juga memiliki pakaian adat yang beraneka ragam. Tentunya setiap jenis memiliki nama dan keunikan masing-masing. Keunikan tersebut dapat berupa nilai filosofis dan simbolik yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, Baju adat dari Sumatera Barat dikenal dengan julukan Limpapeh Rumah Nan Gadang atau bundo kanduang. Limpapeh bermakna tiang tengah dimana tiang tengah berfungsi untuk menopang kelangsungan hidup sebuah bangunan. Begitu pula dalam keluarga dimana istri memiliki peran sebagai tiang yang menguatkan suatu hubungan rumah tangga. Simak penjelasan lebih lanjut mengenai pakaian Adat Minangkabau untuk para perempuan.

Tengkuluk

Penutup kepala unik ini memiliki bentuk seperti rumah adat Minangkabau yaitu bentuk seperti atap rumahnya. Makna dari bentuk yang menyerupai atap ini memiliki arti yaitu wanita tidak boleh mengemban beban kehidupan yang terlalu berat. Baju adat ini tidak hanya bisa dipakai dalam upaca adat, akan tetapi bisa dipakai dalam kegiatan sehari-hari.

Baju Batabue

Karena bertabur banyak Pernik benang emas, baju ini disebut sebagai baju batabue atau baju bertabur. Makna Pernik sulaman tersebut adalah sebagai lambang kekayaan alam Sumatera Barat yang sangat berlimpah. Memiliki corak dan motif beragam, baju batabue terdiri dari 4 warna  yakni merah, hitam, biru, dan lembayung. Dilengkapi dengan Minsie, yaitu hiasan pada bagian tepi lengan dan leher, yang memiliki simbol sebagai sadarnya seorang wanita terhadap hukum-hukum adat yang berlaku.

Lambak

Lambak adalah pakaian bawahan dari bundo kanduang yang berbentuk seperti sarung. Sarung tersebut termasuk bahan jenis songket. Kain songket ini kemudian diikat di pinggang dengan belahan yang sesuai dengan masing-masing suku yang memakainya. Belahan tersebut dapat berada di depan, samping, maupun belakang sesuai kebutuhan dan adat suku mana yang dipakai.

Kesimpulan

Pakaian Adat Sumatera Barat kaya akan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Simbolisasi dari tiap jenis pakaiannya yang menyesuaikan dengan adat yang berlaku menjadi nilai tambah. Sebagai upaya yang tiada henti dalam melestarikan baju

Baca juga: Pakaian Adat Jawa Barat: Semerbak Bak Putri Kerajaan

Last Updated on Januari 4, 2021

Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up