Suku Dayak: Asal, Ciri Khas, Tradisi dan Ragam Budaya

3 min read

suku dayak, rumah adat suku dayak, pakaian adat suku dayak

Indonesia merupakan negara yang sering disebut kaya akan seni dan budaya. Hal ini tentu dapat dilihat dari berbagai macam faktor pendukung seperti upacara dan ritual adat, rumah adat, pakaian adat, seni musik, seni tari, seni rupa, senjata, bahasa dan tentunya suku bangsa. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk 2010 , terdapat kurang lebih 1.000 suku yang tersebar di wilayah Indonesia. Suku Dayak menjadi salah satu suku yang wajib untuk anak nusantara ketahui.

Suku Dayak Berasal Dari?

Suku Dayak berasal dari Pulau Kalimantan. “Dayak” merupakan istilah yang digunakan untuk mengacu kepada penduduk asli Pulau Kalimantan. Secara administratif, Pulau Kalimantan terbagi menjadi lima provinsi yaitu Kalimantan Barat (Pontianak), Kalimantan Tengah (Palangkaraya), Kalimantan Selatan (Banjarmasin), Kalimantan Timur (Samarinda), Kalimantan Utara (Tanjung Selor).

Suku ini tersebar di area Pulau Kalimantan (Indonesia) serta negara bagian Sabah dan Sarawak (Malaysia). Terdapat enam rumpun yang terbagi menjadi 405 sub-suku. Enam rumpun tersebut adalah Dayak Ngaju (area Sungai Kahayan, Kapuas, Barito, Rungan Manuhing, dan Katingan), Dayak Apo Kayan (hulu Sungai Kayan, dataran tinggi Usun Apau, Baram, Sarawak), Dayak Iban (daerah utara), Dayak Klemantan (bagian barat), Dayak Murut (dataran tinggi dareah utara), Dayak Punan (area timur, utara, tengah, barat), Dayak Ot Danum (meliputi area tengah, selatan, timur bagian selatan, barat bagian tenggara).

Ciri Khas Kebudayaan dan Tradisi Suku Dayak

Suku Dayak identik dengan tradisi bercocok tanam. Tidak heran lagi bahwa sektor pertanian dan perkebunan diandalkan sebagai salah satu lumbung unggulan di Indonesia. Tentunya ini juga dapat menguatkan sirkulasi ekonomi wilayah bahkan negara. Suku ini juga dikenal dengan karakteristik memiliki banyak tato di tubuh. Unsur mistis juga sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari.

Munus telah merangkum berbagai ciri khas dari kebudayaan dan tradisi dari suku ini.

Pakaian Adat Suku Dayak

Pakaian adat laki-laki dari suku dayak disebut sebagai King Baba. King memiliki arti pakaian dan Baba berarti laki-laki. Pakaian ini terbuat dari kulit atau kayu pohon kapuo dan ampuro. Dua jenis kayu ini memiliki kadar serat yang tinggi. Kulit kayu ditumbuk hingga rata, lalu dicuci dan dikeringkan. Setelah dibentuk pola untuk rompi dan celana, serat kulit kayu tersebut dihiasi dengan corak khas suku dayak dari zat pewarna tumbuhan. Sebagai pelengkap, terdapat ikat kepala dari serat kulit kayu dengan bulu burung enggang. Apabila lelaki suku dayak pergi berperang, senjata tradisional pedang saber dan juga perisai dengan ornamen khas menjadi alat berperang yang wajib untuk dibawa.

Sementara itu, pakaian adat untuk perempuan disebut King Bibinge. Kulit kayu dibentuk menyerupai kemben untuk penutup dada, rok dan stagen. Seluruh komponen ini dihias dengan corak dan manik-manik tradisional khas Dayak . Perempuan Dayak juga menggunakan beragam aksesori seperti gelang yang dibuat dari hasil pintalan akar tanaman tengang (simbol penolak roh jahat) dan kalung dari tanaman hoita.

Rumah Adat Suku Dayak

Rumah Betang atau yang kerap disebut sebagai rumah panjang merupakan rumah adat khas dari suku dayak. Biasanya, jenis rumah adat ini memiliki panjang 100-150 meter dengan lebar mencapai 50 meter. Rumah Betang ditopang oleh pilar kayu dengan tinggi rata-rata 5 meter. Hal ini bertujuan untuk melindungi rumah dari banjir dan binatang buas. Selain itu terdapat anak tangga yang harus memiliki jumlah ganjil dengan simbol pembuka pintu rezeki.

Satu Rumah Betang dihuni oleh sekitar 5-6 keluarga. Hal ini juga menjadi simbol bahwa kebersamaan dan tolong-menolong merupakan prinsip dasar dari suku ini. Terdapat juga pemimpin besar keluarga yang disebut pembakas lewu.

Upacara Adat

Terdapat banyak sekali upacara adat maupun ritual yang dimiliki oleh suku ini. Upacara Tiwah merupakan salah satu tradisi yang terkenal. Upacara ini bertujuan untuk mengantarkan tulang jasad ke Sandung. Sandung merupakan rumah kecil berbahan dasar kayu yang digunakan untuk menyimpan tulang-tulang leluhur. Selain itu, ratusan ekor hewan seperti babi, kerbau dan ayam juga dimasak sebagai sesajen.

Selain itu, terdapat juga ritual mangkuk merah. Ritual ini merupakan jembatan penghubung dengan para leluhur. Ritual mangkuk merah akan diadakan apabila kepala suku merasa terancam bahaya. Kepala suku akan menyebarkan mangkuk merah dari satu desa ke desa lainnya. Sebelum menyebarkan mangkuk merah, kepala suku melakukan upacara untuk menentukan waktu perang yang tepat. Arwah dari leluhur  akan merasuki tubuh kepala suku.

Manajah Antang juga merupakan ritual untuk mendapatkan petunjuk mengenai musuh dari roh leluhur dengan menggunakan burung Antang.

Baca juga: Upacara Kasada Sebagai Salah Satu Daya Tarik Wisata Gunung Bromo

Tari Tradisional

Terdapat berbagai macam tarian tradisional khas. Berikut daftar lengkapnya!

Tari Gantar
Tari ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu. Gerakan yang ditampilkan merupakan simbol dari orang yang sedang menanam padi. Penari Gantar juga menggunakan properti tongkat kayu penumbuk, bambu, serta biji-bijian.

Tari Kancet Ledo
Tarian ini memberikan simbol kelembutan wanita. Gerakan tari dilakukan diatas gong.

Tari Kancet Lasan
Tarian ini mengisahkan kehidupan burung Enggang yang diagungkan oleh suku ini.

Tari Kancet Papatai
Gerakan lincah dan gesit merupakan ciri gerakan tarian ini dengan kisah tentang seorang pahlawan dari Dayak Kenyah yang pergi berperang untuk melawan musuh.

Tari Serumpai
Tari yang berasal dari Dayak Benuaq ini menjadi representasi penolakan wabah penyakit dan pengobatan orang yang digigit anjing gila.

Tari Kuyang
Tari ini ditujukan untuk mengusir roh halus yang mendiami pohon besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia yang menebang pohon tersebut.

Tari Jonggan
Tari Jonggan digunakan sebagai bentuk ekspresi sukacita dari masyarakat Dayak. Para tamu yang hadir dalam sebuah acara biasanya akan diajak untuk menari bersama pada saat pertunjukan Tari Jonggan.

Tari Belian Bawo
Tari ini sebagai simbol untuk menolak dan mengobati penyakit.

Tari Hudoq
Tarian ini biasanya ditampilkan pada saat akan membuka lahan pertanian. Dengan ciri khusus topeng dan kostum yang unik, Tari Hudoq merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan agar hasil pertanian melimpah ruah.

Tari Pecuk Kina
Tari ini menggambarkan perpindahan Suku Dayak Kenyah dari Apo Kayan menuju ke Long Segar. 

Last Updated on Oktober 19, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up