1. Budaya

Upacara Sekaten, Perayaan Unik Maulid Nabi Muhammad

Upacara Sekaten

Upacara sekaten merupakan sebuah perayaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad yang dilaksanakan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Upacara yang dilaksanakan sejak abad ke-16 ini diadakan pada bulan Rabiul Awal Hijriyah atau disebut bulan Mulud pada bulan Jawa

Terdapat banyak pendapat mengenai asal usul sekaten yang beredar di masyarakat. Yang paling populer adalah Sekaten berasal dari bahasa Arab yaitu “syahadatain”. Istilah ini dianggap penting pada umat islam sebab syahadat adalah syarat untuk memeluk agama Islam. Syahadat juga merupakan sebuah proses keyakinan terhadap keesaan tuhan dan nabi Muhammad.

Kemudian ada “sahutain” yang memiliki arti menghentikan atau menghindari dua perkara, yaitu menyeleweng dan lacur. istilah ini berkembang lagi menjadi “Sakhatain” yang memiliki arti menghilangkan makna dua watak buruk yaitu hewan dan setan. Selain itu, ada juga istilah  “Sakhotain” yang memiliki arti menanamkan dua perkara, yaitu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu memasrahkan diri.

Kemudian ada juga istilah kata “Sekati” yang berarti setimbang, yaitu orang hidup harus bisa memutuskan yang baik dan buruk. Dan yang terakhir ada “Sekat” yang berarti pembatas, untuk mengetahui batas kebaikan dan kejahatan.

Sejarah Upacara Sekaten

Daftar Isi

Artikel Terkait

  • Contoh Gotong Royong di Rumah, Mari Terapkan!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 6, 2024 at 8:53 am

    Rumah merupakan tempat pertama untuk memulai suatu pembelajaran. Termasuk dalam hal gotong royong  Harapannya begitu terjun pada lingkungan masyarakat, kamu paling tidak sudah mengerti arti singkat mengenai hal tersebut. Memang kalau penerapannya contoh gotong royong di rumah seperti apa saja? Selengkapnya bisa kamu baca pada artikel yang dibuat khusus untuk Sobat Literasi. Check it out! Artikel Contoh Gotong Royong di Rumah, Mari Terapkan! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Contoh Gotong Royong di Sekolah, Mudah Diterapkan!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 4, 2024 at 10:28 pm

    Sayang banyaknya nilai-nilai modern, membuat sejumlah nilai tradisional mulai tergeserkan. Salah satunya, gotong royong. Sekarang ini sudah mulai jarang kegiatan yang menggunakan unsur tersebut. Maka tidak heran, mungkin generasi ini tidak memahami dan ketahui Salah satu tempat mereka bisa belajar hal itu dengan diajarkan di sekolah. Melalui beberapa aktivitas yang sifatnya dikerjakan bersama-sama. Untuk contoh Artikel Contoh Gotong Royong di Sekolah, Mudah Diterapkan! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Budi Pekerti: Etika Wajib Bangsa Indonesia
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 4, 2024 at 2:38 am

    Budi pekerti merupakan etika wajib yang dimiliki oleh semua warga Indonesia. Hal ini berkaitan dengan moral yang menuntun kita dalam berperilaku dan berinteraksi dengan sesama. Apabila seseorang tidak memiliki atau menjalankan prinsip budi pekerti seperti mestinya maka akibatnya banyak perilaku negatif yang terjadi pada sekitar. Penjelasan tentang materi ini bisa Sobat Literasi baca pada artikel Artikel Budi Pekerti: Etika Wajib Bangsa Indonesia pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Badan Usaha: Pengertian, Jenis-Jenis & Bentuknya
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Maret 12, 2024 at 12:34 am

    Salah satu cara untuk meningkatkan tingkat perekonomian suatu negara adalah dengan mendirikan badan usaha. Suatu negara dapat dikatakan maju apabila tingkat kesejahteraan masyarakat tinggi. Hal ini tentunya tidak kalah jauh dengan taraf ekonomi dan sosial yang baik. Pendekatan yang nyata untuk mewujudkannya adalah dengan melihat bagaimana perkembangan bahan usaha tersebut.  Kawan literasi, asal kalian tahu The post Badan Usaha: Pengertian, Jenis-Jenis & Bentuknya appeared first on Sma Studioliterasi.

Pada tahun 1477 Masehi, Raden Patah yang saat itu menjabat sebagai Adipati Kabupaten Demak Bintara sedang membangun Masjid Demak. Selanjutnya, berdasar hasil musyawarah para wali, diadakan kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Agar kegiatan tersebut dapat menarik perhatian masyarakat, dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri dimainkan dengan membawakan gending-gending atau lagu-lagu ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah sekaten sebagai akibat perubahan pelafalan kata. Sekaten terus berkembang dan diadakan menjadi acara rutin tiap tahun seiring berkembangnya Kerajaan Demak menjadi Kerajaan Islam.

Demikian pula pada saat bergesernya Kerajaan Islam ke Mataram serta ketika Kerajaan Islam Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta), sekaten tetap diadakan secara rutin tiap tahun sebagai warisan budaya Islam

Rangkaian Acara, Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Saat pelaksanaan upacara sekaten, terdapat dua gamelan yang dimainkan selama 7 hari berturut turut. Dimulai sekitar tanggal 5 hingga 12 Maulud (bulan jawa). Di keraton Yogya, gamelan Sekaten terdiri dari dua gamelan, yaitu gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Sedangkan di Keraton Surakarta terdapat dua gamelan yaitu gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.

Perbedaan di keraton Yogya dan Surakarta terletak pada tanggal gamelan dimainkan. Di keraton Yogya, gamelan akan dimainkan tanggal 6 Maulud, sedangkan di keraton Surakarta mulai dimainkan lebih awal, yaitu tanggal 5 Maulud. 

Berikut rangkaian upacara sekaten di keraton Surakarta dan Yogyakarta:

Upacara sekaten di Keraton Surakarta

Prosesi ini diawali dengan dikeluarkannya dua gamelan milik Keraton Surakarta. Dua gamelan  itu adalah gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari. Kedua gamelan tersebut dibawa dengan iring-iringan menuju Masjid Agung Surakarta. Pembukaan sekaten ditandai dengan tabuhan gamelan. Para pemain gamelan akan menabuh gamelan sepanjang hari, dan berhenti pada waktu sholat.

Pada puncak sekaten diadakan Grebeg Maulud atau disebut juga dengan kirab gunungan dari Keraton Surakarta. Ada dua gunungan pada Grebeg Maulud di Keraton Surakarta, yaitu gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan). Ini adalah momen masyarakat  untuk berebut mendapatkan isi gunungan tersebut karena dipercaya bisa membawa berkah dari Tuhan.

Upacara Sekaten di Keraton Yogyakarta

Keraton Yogya juga menggelar tradisi ini selama sebulan penuh, seperti di Solo. Tradisi Sekaten di Yogyakarta dimulai dengan acara Slametan untuk meminta kesejahteraan dan kelancaran acara, tradisi ini dilaksanakan bersamaan dengan dibukanya pasar malam.

Satu minggu sebelum acara puncak sekaten, Gamelan dibunyikan di dalam Keraton tanggal 6 Mulud di Bangsal Ponconiti mulai pukul 7 malam hingga pukul sebelas malam.

Pada pukul sebelas, gamelan dipindahkan ke Masjid Agung Yogyakarta oleh para prajurit Keraton. Selama satu minggu penuh gamelan dibunyikan terus menerus, kecuali pada waktu shalat. Dua gamelan ini ialah gamelan Kyai Guntur Madu dan Gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga.

Acara selanjutnya adalah Numplak Wajik. Upacara numplak wajik merupakan tanda dimulainya pembuatan gunungan dalam acara grebeg muludan. Numplak Wajik diadakan di halaman istana. Upacara ini berupa permainan lagu, umumnya yang dimainkan adalah lagu-lagu jawa atau lagu rakyat. 

Kemudian dilaksanakan upacara miyos atau hadirnya Sri sultan di Masjid besar untuk menyebarkan udhik-udhik berupa beras, biji-bijian, dan uang logam. Udhik-udhik dilaksanakan di tiga tempat yaitu Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan Masjid Gedhe. Peristiwa ini merupakan momen langka yang mempertemukan raja dengan rakyat secara langsung.  Miyos Dalem berakhir ditandai dengan pelaksanaan “Kondur Gongso” atau dikembalikannya gamelan kembali ke dalam Keraton. Rangkaian terakhir upacara sekaten yaitu dikeluarkannya Gunungan tepat pada 12 Maulud.

Kemudian ada prosesi grebeg maulud. Grebeg Mulud adalah prosesi pemberian gunungan yang berupa hasil bumi dari Raja Keraton kepada masyarakat. Gunungan sendiri adalah simbol pemberian raja kepada masyarakat.

Ada sekitar lima hingga tujuh gunungan yang diarak dari Keraton menuju Masjid Kauman, Kantor Gubernur dan Pura Pakualam. Yang membedakan dengan sekaten di Solo, di Keraton Yogyakarta jumlah gunungan yang lebih banyak.

Dalam tradisi Keraton Yogja, sekitar sebulan sebelum Upacara Sekaten diadakan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Dulunya pasar malam ini diadakan oleh Belanda untuk memecah perhatian masyarakat. Sehingga pasar malam ini bukan termasuk tradisi dalam upacara sekaten namun diadaptasi untuk diadakan saat perayaan sekaten.

Tips saat Berkunjung ke Upacara

Pastikan untuk datang di tanggal yang tepat yaitu sekitar tanggal 12 Maulud (bulan jawa) atau 12 rabiul awal (bulan hijriyah). Jika ingin menikmati pasar malam, bisa datang sebelum tanggal tersebut. Gunakan pakaian yang sopan dan berhati hati saat ikut berdesakan untuk berebut gunungan.

Acara selanjutnya adalah Numplak Wajik. Upacara numplak wajik merupakan tanda dimulainya pembuatan gunungan dalam acara grebeg muludan. Numplak Wajik diadakan di halaman istana. Upacara ini berupa permainan lagu, umumnya yang dimainkan adalah lagu-lagu jawa atau lagu rakyat. 

Artikel menarik lainnya tentang Upacara Daerah :

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Upacara Sekaten, Perayaan Unik Maulid Nabi Muhammad

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Busur panah telah menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia selama berabad-abad. Seni memanah telah diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap menjadi bagian dari budaya dan tradisi bangsa. Artikel ini akan mengenalkan Anda pada berbagai bentuk busur panah yang ada di Indonesia, serta memberikan wawasan tentang pentingnya seni memanah dalam masyarakat Indonesia. Apa Itu Busur […]

    Trending

    Nekara dan moko ialah contoh artefak perunggu yang terkenal dari zaman prasejarah di Indonesia, tepatnya pada zaman logam. Memang kalau sekilas kita lihat memiliki beberapa kesamaan. Bahkan pada beberapa sumber sering kali menyebutkan kalau moko merupakan nama lain dari nekara. Ternyata, keduanya tidak sama dan terdapat perbedaan. Artikel ini bakal mengulas perbedaan yang signifikan pada […]
    Terdapat ragam seni pertunjukan yang terkenal di Bali, salah satunya adalah tari Topeng Sidakarya yang merupakan bagian penting dari upacara keagamaan Hindu. Tari Topeng Sidakarya adalah salah satu seni pertunjukan di Bali yang dipentaskan dari generasi ke generasi. Biasanya, seni pertunjukan ini ditampilkan sebagai bagian dari upacara sakral kaum Hindu, yaitu upacara Yadnya. Seni tari […]
    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]
    Alat musik gambus adalah salah satu alat musik tradisional Riau yang dimainkan dengan cara dipetik. Menurut sejarah, musik tradisional ini lekat dengan budaya islam. Bentuknya memang sekilas mirip dengan gitar, namun cara memainkan gambus ini sedikit berbeda, Anak Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat musik gambus dan cara memainkannya, simak artikel Museum Nusantara kali […]