Upacara Sekaten, Perayaan Unik Maulid Nabi Muhammad

3 min read

Upacara Sekaten

Upacara sekaten merupakan sebuah perayaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad yang dilaksanakan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Upacara yang dilaksanakan sejak abad ke-16 ini diadakan pada bulan Rabiul Awal Hijriyah atau disebut bulan Mulud pada bulan Jawa

Terdapat banyak pendapat mengenai asal usul sekaten yang beredar di masyarakat. Yang paling populer adalah Sekaten berasal dari bahasa Arab yaitu “syahadatain”. Istilah ini dianggap penting pada umat islam sebab syahadat adalah syarat untuk memeluk agama Islam. Syahadat juga merupakan sebuah proses keyakinan terhadap keesaan tuhan dan nabi Muhammad.

Kemudian ada “sahutain” yang memiliki arti menghentikan atau menghindari dua perkara, yaitu menyeleweng dan lacur. istilah ini berkembang lagi menjadi “Sakhatain” yang memiliki arti menghilangkan makna dua watak buruk yaitu hewan dan setan. Selain itu, ada juga istilah  “Sakhotain” yang memiliki arti menanamkan dua perkara, yaitu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu memasrahkan diri.

Kemudian ada juga istilah kata “Sekati” yang berarti setimbang, yaitu orang hidup harus bisa memutuskan yang baik dan buruk. Dan yang terakhir ada “Sekat” yang berarti pembatas, untuk mengetahui batas kebaikan dan kejahatan.

Sejarah Upacara Sekaten

Pada tahun 1477 Masehi, Raden Patah yang saat itu menjabat sebagai Adipati Kabupaten Demak Bintara sedang membangun Masjid Demak. Selanjutnya, berdasar hasil musyawarah para wali, diadakan kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Agar kegiatan tersebut dapat menarik perhatian masyarakat, dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri dimainkan dengan membawakan gending-gending atau lagu-lagu ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah sekaten sebagai akibat perubahan pelafalan kata. Sekaten terus berkembang dan diadakan menjadi acara rutin tiap tahun seiring berkembangnya Kerajaan Demak menjadi Kerajaan Islam.

Demikian pula pada saat bergesernya Kerajaan Islam ke Mataram serta ketika Kerajaan Islam Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta), sekaten tetap diadakan secara rutin tiap tahun sebagai warisan budaya Islam

Rangkaian Acara, Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Saat pelaksanaan upacara sekaten, terdapat dua gamelan yang dimainkan selama 7 hari berturut turut. Dimulai sekitar tanggal 5 hingga 12 Maulud (bulan jawa). Di keraton Yogya, gamelan Sekaten terdiri dari dua gamelan, yaitu gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Sedangkan di Keraton Surakarta terdapat dua gamelan yaitu gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.

Perbedaan di keraton Yogya dan Surakarta terletak pada tanggal gamelan dimainkan. Di keraton Yogya, gamelan akan dimainkan tanggal 6 Maulud, sedangkan di keraton Surakarta mulai dimainkan lebih awal, yaitu tanggal 5 Maulud. 

Berikut rangkaian upacara sekaten di keraton Surakarta dan Yogyakarta:

Upacara sekaten di Keraton Surakarta

Prosesi ini diawali dengan dikeluarkannya dua gamelan milik Keraton Surakarta. Dua gamelan  itu adalah gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari. Kedua gamelan tersebut dibawa dengan iring-iringan menuju Masjid Agung Surakarta. Pembukaan sekaten ditandai dengan tabuhan gamelan. Para pemain gamelan akan menabuh gamelan sepanjang hari, dan berhenti pada waktu sholat.

Pada puncak sekaten diadakan Grebeg Maulud atau disebut juga dengan kirab gunungan dari Keraton Surakarta. Ada dua gunungan pada Grebeg Maulud di Keraton Surakarta, yaitu gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan). Ini adalah momen masyarakat  untuk berebut mendapatkan isi gunungan tersebut karena dipercaya bisa membawa berkah dari Tuhan.

Upacara Sekaten di Keraton Yogyakarta

Keraton Yogya juga menggelar tradisi ini selama sebulan penuh, seperti di Solo. Tradisi Sekaten di Yogyakarta dimulai dengan acara Slametan untuk meminta kesejahteraan dan kelancaran acara, tradisi ini dilaksanakan bersamaan dengan dibukanya pasar malam.

Satu minggu sebelum acara puncak sekaten, Gamelan dibunyikan di dalam Keraton tanggal 6 Mulud di Bangsal Ponconiti mulai pukul 7 malam hingga pukul sebelas malam.

Pada pukul sebelas, gamelan dipindahkan ke Masjid Agung Yogyakarta oleh para prajurit Keraton. Selama satu minggu penuh gamelan dibunyikan terus menerus, kecuali pada waktu shalat. Dua gamelan ini ialah gamelan Kyai Guntur Madu dan Gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga.

Acara selanjutnya adalah Numplak Wajik. Upacara numplak wajik merupakan tanda dimulainya pembuatan gunungan dalam acara grebeg muludan. Numplak Wajik diadakan di halaman istana. Upacara ini berupa permainan lagu, umumnya yang dimainkan adalah lagu-lagu jawa atau lagu rakyat. 

Kemudian dilaksanakan upacara miyos atau hadirnya Sri sultan di Masjid besar untuk menyebarkan udhik-udhik berupa beras, biji-bijian, dan uang logam. Udhik-udhik dilaksanakan di tiga tempat yaitu Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan Masjid Gedhe. Peristiwa ini merupakan momen langka yang mempertemukan raja dengan rakyat secara langsung.  Miyos Dalem berakhir ditandai dengan pelaksanaan “Kondur Gongso” atau dikembalikannya gamelan kembali ke dalam Keraton. Rangkaian terakhir upacara sekaten yaitu dikeluarkannya Gunungan tepat pada 12 Maulud.

Kemudian ada prosesi grebeg maulud. Grebeg Mulud adalah prosesi pemberian gunungan yang berupa hasil bumi dari Raja Keraton kepada masyarakat. Gunungan sendiri adalah simbol pemberian raja kepada masyarakat.

Ada sekitar lima hingga tujuh gunungan yang diarak dari Keraton menuju Masjid Kauman, Kantor Gubernur dan Pura Pakualam. Yang membedakan dengan sekaten di Solo, di Keraton Yogyakarta jumlah gunungan yang lebih banyak.

Dalam tradisi Keraton Yogja, sekitar sebulan sebelum Upacara Sekaten diadakan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Dulunya pasar malam ini diadakan oleh Belanda untuk memecah perhatian masyarakat. Sehingga pasar malam ini bukan termasuk tradisi dalam upacara sekaten namun diadaptasi untuk diadakan saat perayaan sekaten.

Tips saat Berkunjung ke Upacara

Pastikan untuk datang di tanggal yang tepat yaitu sekitar tanggal 12 Maulud (bulan jawa) atau 12 rabiul awal (bulan hijriyah). Jika ingin menikmati pasar malam, bisa datang sebelum tanggal tersebut. Gunakan pakaian yang sopan dan berhati hati saat ikut berdesakan untuk berebut gunungan.

Acara selanjutnya adalah Numplak Wajik. Upacara numplak wajik merupakan tanda dimulainya pembuatan gunungan dalam acara grebeg muludan. Numplak Wajik diadakan di halaman istana. Upacara ini berupa permainan lagu, umumnya yang dimainkan adalah lagu-lagu jawa atau lagu rakyat. 

Artikel menarik lainnya tentang Upacara Daerah :

Last Updated on Oktober 19, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up