Alicia josephine Hello, I am a girl who love new challenge. Graduated from college majoring in English with Journalist concentrated. Yes! I like writing. I can write anywhere, everywhere in anytime.

Lawang Sewu, Ikon Semarang yang Tak Lagi Mistis!

3 min read

pesona malam lawang sewu

Lawang Sewu adalah salah satu bahasa daerah Indonesia yaitu bahasa Jawa, jika di bahasa Indonesia kan menjadi Seribu Pintu. Bangunan yang menjadi ikon Semarang, Lawang Sewu adalah gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah mulai dibangun dari tahun 1904. Gedung yang dahulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Mengapa gedung bersejarah ini disebut gedung Lawang Sewu, itu karena gedung ini memiliki pintu yang sangat banyak, walau memang pada kenyataan yang sebenarnya jumlah pintu Lawang Sewu hanya sekitar kurang lebih 430 pintu, tidak mencapai seribu.

Ada pintu ada pula jendela, jendela yang ada di Gedung Lawang Sewu ini tinggi dan lebar, mirip dengan pintu. Masyarakat yang berwisata ke Lawang Sewu ini kadang suka keliru membedakan jendela dengan pintu. Hati-hati ya Anak Nusantara kalau berkunjung ke Lokasi Lawang Sewu itu agar tidak salah masuk pintu.

gedung lawang sewu
Bangunan Gedung Lawang Sewu tampak depan, oleh Kaskus Micky10

Sejarah

Lawang Sewu, sebuah bangunan kuno dan megah berlantai dua ini dibangunan diatas lahan seluas 14.216m2 pada tanggal 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantoor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, atau dalam bahasa Indonesia artinya Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api India Timur Belanda milik NIS.

Pembangunan ini didasari dalam perihal perluasan kantor perusahaan NIS. Pada tahun 1864, jalur kereta api di Indonesia pertama kali dibangun untuk menghubungkan stasiun Semarang NIS dan Stasiun Tanggung. Semakin berkembang hingga pada tahun 1873 diperpanjang untuk menghubungkan Semarang, Solo dan Yogyakarta. Tujuan awal dari pembangunan jalur kereta api ini adalah untuk mengangkut hasil perkebunan dan pertanian dari daerah kekuasaan keraton Solo dan Yogyakarta atau Voorstenlanden menuju ke Pelabuhan Semarang. Dapat dilihat bahwa perkembangan dari perusahaan NIS ini pastinya juga menambah jumlah pegawai saat itu. Oleh karena gedungnya tidak cukup memadai dengan bertambahnya jumlah pekerja maka NIS memutuskan untuk membangun kantor administrasi baru di Semarang, yaitu Lawang Sewu. Perencanaan pembangunan gedung Lawang Sewu saat itu dipercayakan pembangunannya kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag yang berada di Amsterdam.

Namun, bangunan Lawang Sewu ini juga difungsikan sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Jawa Tengah, tahun setelah Indonesia Merdeka. Juga dipakai dan digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKRAI).

Bangunan Lawang Sewu ini juga memiliki catatan sejarahnya sendiri yaitu ketika berlangsungnya peristiwa pertempuran lima hari atau Palagan Limang Dina di Semarang dari tanggal 14 Oktober hingga 19 Oktober 1945. Gedung Lawang Sewu ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA, kepanjangan dari Angkatan Muda Kereta Api, melawan Kempetai dan Kidobutai asal Jepang.

Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu

Sebelum Indonesia merdeka, ketika Belanda menyerah tanpa syarat pada pihak Jepang, bangunan Lawang Sewu ini dikuasai oleh tentara Jepang, ruang bawah tanah yang sebelumnya digunakan oleh Belanda sebagai pendingin alami untuk bangunan dan terdapat genangan air bersih disana, digunakan oleh Jepang sebagai penjara bawah tanah. Dalam sebuah ruangan yang sempit itu, para tawanan perang dipaksa masuk kedalam sel yang sama. Konon katanya ruangan bawah tanah yang tergenang oleh air itu bisa mencapai setinggi leher orang dewasa. Lawang Sewu berubah menjadi tempat yang menyeramkan setelah itu.

Namun ruang bawah tanah Lawang Sewu ini sudah ditutup dikarenakan masalah perawatan. Jadi jika ada dari Anak Nusantara yang ingin mencoba turun masuk ke dalam ruang bawah tanah Lawang Sewu sedang tidak dibuka untuk umum dalam jangka waktu yang tidak diketahui.

ruang bawah tanah lawang sewu
Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu, oleh Diary Lily Putih

Wisata Malam Lawang Sewu

Asal usul Lawang Sewu juga sejarah Lawang Sewu yang mungkin bisa dikatakan kelam ini menjadikan tahun-tahun ketika bangunan sedikit terlupakan menimbulkan banyak sekali berita-berita yang mengatakan bahwa Gedung Lawang Sewu dijadikan tempat untuk uji nyali. Kerap dikatakan banyak penampakan-penampakan yang bukan manusia (atau bisa dibilang makhluk gaib), kejadian-kejadian aneh hingga sampai ada yang mengatakan pernah kesurupan di Lawang Sewu.

Karena hal tersebut banyak yang memilih untuk wisata malam Lawang Sewu. Namun sekarang gedung Lawang Sewu sudah terang benderang dengan lampu-lampu yang cantik berwarna kuning yang menambah kesan megah akan bangunan bersejarah ini.

Bangunan Lawang Sewu yang tua dan menyeramkan kata banyak orang telah mendapat perhatian dan sudah mengalami konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT KAI Persero. Lokasi Lawang Sewu yang mistis berubah jadi indah, dan Lawang Sewu wajib masuk daftar kunjungan saat wisata ke Semarang.

Lawang Sewu kini tidak lagi sepi dan menyeramkan apalagi angker. Karena sudah banyak aktivitas disana dan banyak dikunjungi masyarakat. Untuk para wisatawan juga bisa membeli souvenir yang banyak dijual bahkan ada juga restoran cepat saji di lokasi Lawang Sewu. Sejarah Lawang Sewu kini sudah semakin jelas diketahui oleh masyarakat, bukan hanya sekedar cerita-cerita mistis Lawang Sewu. Dari penjelasan mengenai Sejarah Lawang Sewu ini maka, gedung bersejarah ini dijadikan cagar budaya dan dilindungi oleh pemerintah,

pesona malam lawang sewu
Bangunan Lawang Sewu Malam Hari, oleh Ilham Sadli

Lokasi

Untuk Anak Nusantara yang ingin mencari tahu dari bangunan Lawang Sewu ini bisa langsung datang ke lokasi Lawang Sewu yang berada di Komplek Tugu Muda, Jl. Pemuda, Sekayu, Semarang, Jawa Tengah.

Untuk bisa sampai ke wisata bangunan bersejarah Lawang Sewu dari luar daerah bisa menggunakan berbagai macam pilihan transportasi. Seperti kereta api, pesawat dan juga bus.

Bagi Anak Nusantara yang memilih menggunakan kereta api, sebaiknya mengambil rute perjalanan dengan tujuan akhir Stasiun Tawang. Jarak dari Stasiun Tawang ke Lawang Sewu hanya sekitar 3,5 km. Namun jika sudah terlanjur pesan tiket dengan rute Stasiun Semarang Poncol, dianjurkan menuju Lawang Sewu melalui jalur di Jalan Pemuda, jarak tempuh sekitar 4 km lebih.

Rencanakan perjalanan Anak Nusantara menuju lokasi Lawang Sewu dengan rinci, mulai dari jadwal perjalanan hingga rencana sewa rental mobil Semarang yang pas untuk isi kocek Anda.

Harga Tiket Masuk Lawang Sewu

Supaya bisa masuk dan menikmati keindahan ikon Semarang, Lawang Sewu ini diperlukan untuk merogoh kocek Anak Nusantara. Berikut daftar harga Tiket Masuk Lawang Sewu dan Jam Buka Lawang Sewu

Jam Buka
Open Hours
07.00 – 21.00 WIB
07.00 am – 09.00 pm
Dewasa
Adult
Rp 10.000
Anak
Kids (3 – 12 Tahun/Year)
Rp 5.000
Pelajar (SD s.d SMA)
Student (Elementary School until Senior High School)
Rp 5.000

Sebelum kamu pergi, Baca Juga :

Kota Lama Semarang: Pesona Pelesir Sejarah Ala Eropa

Last Updated on Oktober 19, 2020

Alicia josephine Hello, I am a girl who love new challenge. Graduated from college majoring in English with Journalist concentrated. Yes! I like writing. I can write anywhere, everywhere in anytime.

One Reply to “Lawang Sewu, Ikon Semarang yang Tak Lagi Mistis!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up