Tari Payung: Pengemasan Kisah Cinta di Pertunjukan Tari

3 min read

gambar-tari-payung-worldofghibli,id

Beragam kesenian berupa tarian daerah tersebar di tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia. Meskipun setiap daerah memiliki tariannya masing-masing, namun pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya yang dipengaruhi oleh budaya yang berkembang di daerah tersebut. Salah satu contoh tarian daerah yang cukup unik adalah Tari Payung yang berkembang di daerah Sumatera Barat. Pembahasan lengkap terkait Tari Payung telah Munus rangkum sebagai berikut.

Sejarah Tari Payung

Tari tradisional Minangkabau ini belum diketahui secara pasti bagaimana sejarah terciptanya. Namun, terdapat beberapa jejak bukti yang menyatakan bahwasanya ari khas Sumatera Barat ini berasal dari seni pertunjukan drama bernama toonel pada zaman penjajahan Belanda. Drama toonel ini mementaskan seni komedi yang bersumber dari suku Melayu di Sumatera Barat. Sedangkan Tari Payung sendiri dipentaskan di sela-sela pertunjukan drama toonel. 

Pada sekitar tahun 1920-an, drama toonel semakin dikenal secara luas oleh masyarakat, begitupun Tari Payung yang mendapat sambutan positif juga. Hingga kemudian pria bernama Muhammad Rasyid Manggis menjadi orang pertama yang berinisiatif untuk menjadikan Tari Payung sebagai tari teater. Selanjutnya, upaya penataan tari ini dilanjutkan oleh teman seangkatannya di Normal School Bukittinggi yang bernama Sitti Gam.

Hal yang dilakukan oleh Sitti Gam adalah menata koreografinya yang bertemakan pergaulan muda-mudi. Cerita yang dipentaskan menggambarkan kehidupan yang terjadi pada muda-mudi di Minangkabau yang tidak lepas dari peraturan adat yang berlaku. Wanita Minangkabau zaman dulu tidak diperbolehkan oleh adat setempat untuk melakukan aktivitas di luar Rumah Gadang. 

Sitti Gam mendirikan organisasi Serikat Kaum Ibu Sumatera pada tahun 1924. Tujuannya mendirikan organisasi tersebut adalah untuk meningkatkan derajat wanita melalui pertunjukan toonel atau basandiwara dalam bahasa Melayu. Ia merupakan wanita pertama yang menyutradarai sebuah penampilan toonel dan Tari Payung yang mana ia ikut menampilkan sendiri. 

Baca juga: Tari Seudati : Kobaran Semangat Pria Aceh

Perkembangan Tari Payung

Seiring berjalannya waktu, terdapat banyak tokoh-tokoh yang mengambil peran dalam penggubahan Tari Payung. Mereka melakukan berbagai inovasi dari mulai mengangkat tema yang berasal dari kabar ataupun cerita rakyat. Namun, Tari tradisional Sumatera Barat yang terkenal hingga sekarang ini adalah hasil gubahan dari Sjofiani Yusaf. Meskipun demikian, dari setiap gubahan yang dikerjakan oleh banyak tokoh, mereka tetap mempertahankan Tari Payung yang bertemakan percintaan yang disertai iringan lagu Babendi-bendi.

Sinopsis Tari Payung

gambar-tari-payung-acyberspaceandtime,com
Gambar Tari Payung, Foto Oleh Cyberspaceandtime. com

Tari Payung adalah tarian yang menampilkan gerakan gemulai para penari yang terdiri atas tiga pasang. Pasangan tersebut terdiri dari wanita dengan wanita dan tak jarang juga ditemui pria dan wanita. Hampir semua komponen dalam tarian khas ini dimainkan oleh perempuan, bahkan hingga pada bagian penabuh gendangnya. Hal ini diakibatkan karena dulunya para wanita Minang hanya menggeluti kehidupannya di rumah Gadang saja dan tidak bisa berkarya dengan bebas, maka kebangkitan mereka dilakukan melalui tarian ini.

Nama dari tari tradisional ini menyesuaikan dengan properti yang dipakai, yaitu payung. Tarian Payung berasal dari tanah Minangkabau, Sumatera Barat yang menceritakan tentang kisah cinta dan kasih sayang. Lebih spesifiknya, tarian ini mengangkat cerita cinta dan kasih sayang dari pemuda-pemudi. Kisah tersebut dipentaskan secara naratif dari awal pertemuan hingga sampai pada jenjang pernikahan.

Makna dari tari tradisional Sumatera Barat ini yaitu bagaimana seorang suami sebagai kepala keluarga dapat menunjukkan kasih sayangnya dan melindungi istri dalam membina bahtera rumah tangga. Penari yang berperan sebagai pria nantinya akan memegang payung sebagai simbol naungan dan perlindungan yang diberikan seorang pemimpin rumah tangga. Sang Istri yang memegang selendang menari mengikuti gerakan payung yang dibawa oleh suami.

Baca juga: Tari Kipas: Sejarah Hingga Mistosnya

Properti Tari Payung

gambar-tari-payung-antarafoto,com
Gambar Tari Payung, Foto Oleh Antarafoto. com

Dalam pementasan tari, hal penting lainnya yang perlu diperhatikan selain gerakan tari itu sendiri adalah properti yang dipakai. Properti dapat berfungsi untuk mendukung proses penyampaian cerita. Terdapat dua properti penting yang digunakan dalam menampilkan Tari Payung, yaitu payung dan selendang.

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, properti payung dipakai oleh penari yang berperan sebagai pria. Penari pria menerima payung yang awalnya dipegang oleh penari wanita. Payung tersebut merupakan simbolisasi dari kasih sayang dan penjagaan yang dilakukan oleh si pria yang merupakan sang pilar kehidupan dalam dunia rumah tangga. 

Sedangkan selendang yang dipakai penari wanita bermakna sebagai kesiapan dari si wanita untuk mengarungi kehidupan bahtera rumah tangga. Selain itu, selendang juga melambangkan penerimaan cinta yang diberikan sang pria kepada si wanita. Ketika menarikan tarian ini di pementasan, para penari wanita yang memegang selendang mengaitkannya pada para penari pria.

Selain properti berupa payung dan selendang, terdapat kostum yang dipakai oleh para penari. Fungsi dari kostum itu sendiri adalah sebagai penunjang dalam memvisualisasikan karakter yang ingin ditampilkan. Busana yang digunakan oleh para penari wanita berupa baju adat minang yang terdiri dari baju kurung atau kebaya, bawahan berupa rok yang terbuat dari kain songket, serta hiasan kepala yang seperti mahkota khas Minangkabau.

Sedangkan untuk busana penari pria adalah memakai baju yang atasan dengan bawahannya memiliki warna yang sama. Dan tak lupa pula pada bagian pinggangnya disarungkan kain songket hingga sepanjang lutut. Sama halnya seperti penari wanita, bagian atas kepala menggunakan hiasan kepala yang melambangkan kekhasan budaya Minangkabau.

Pola Lantai Tari Payung

Seperti yang kita ketahui, pola lantai merupakan acuan posisi pergerakan para penari ketika pementasan. Secara keseluruhan terdapat empat pola lantai yang terdapat pada tarian tradisional ini. Pola yang pertama adalah pola lantai vertikal. Para penari berbaris secara vertikal yaitu dengan cara berbaris hingga membentuk garis lurus dari depan ke belakang ataupun sebaliknya.

Pola lantai kedua Tari Payung adalah pola lantai horizontal. Seperti halnya pola lantai vertikal, pola lantai horizontal juga merupakan posisi penari yang mana berbaris hingga membentuk garis lurus. Bedanya terletak pada arah barisannya dimana vertikal berbaris dari depan ke belakang sedangkan horizontal dari samping ke samping.

Selanjutnya adalah pola lantai diagonal. Sesuai dengan namanya, para penari berbaris secara menyerong sehingga membentuk garis miring yang menyudut dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Terakhir adalah pola lantai melingkar dimana para penari berkerumun ke tengah untuk kemudian membuat bentuk lingkaran.

Kesimpulan

Tari khas yang mengisahkan tentang percintaan ini memanglah sangat ciamik untuk dinikmati. Menyajikan makna sebagai suami yang menunjukkan kasih sayangnya kepada sang istri melalui gerakan penari pria yang memayungi penari wanita. Tarian lemah gemulai dari tiap-tiap pemain juga menjadi poin tambah sebagai penarik perhatian penonton.

Baca juga: Tari Topeng: Visualisasi Watak Melalui Warna Topeng

Last Updated on Desember 16, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up