Indische Partij: Tombak Pemberontakan Tiga Serangkai

4 min read

gambar-indische-partij-kumparan,com

Dalam proses pergerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari kolonial Belanda, terdapat banyak upaya yang telah dilakukan oleh para pejuang terdahulu. Salah satu upaya yang dilakukan khususnya oleh pemuda pada masa itu adalah membentuk organisasi-organisasi sebagai tempat menampung aspirasi orang-orang dengan pemikiran yang sama, yaitu menginginkan Indonesia untuk merdeka. Organisasi-organisasi tersebut kebanyakan dibuat dengan basis sosial tanpa ada sangkut pautnya dengan dunia politik seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Akan tetapi, di kemudian hari muncullah organisasi pertama berbentuk partai yang berbasis politik secara terang-terangan bernama Indische Partij. Pembahasan lengkap mengenai Indische Partij dapat disimak sebagai berikut.

Biografi Indische Partij

Indische Partij (IP) atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti Partai Hindia adalah partai yang didirikan oleh tiga tokoh pahlawan Indonesia. Ketiga tokoh ini diberi julukan sebagai tiga serangkai. Mereka adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). 

Tujuan Indische Partij

Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah sebagai wadah untuk mengumpulkan semangat patriotisme rakyat Indiers yang sepemikiran bahwasanya tanah tempat mereka berdiri merupakan hak mereka sepenuhnya tanpa tanpa harus mengemis persetujuan dari penjajah. Dorongan patriotisme tersebut terus dipupuk sehingga nantinya dapat berjuang bersama-sama guna menjadikan Indonesia merdeka. Selain itu, mempersiapkan tatanan kehidupan rakyat yang merdeka juga menjadi tujuan dari dibentuknya partai ini.

Semboyan-semboyan dari Indische Partij sendiri mewakilkan sikap ketegasan dari organisasi ini. “Indie los van Holland” yang memiliki arti Hindia bebas dari Belanda merupakan semboyan pertama yang merepresentasikan sikap tegasnya. Kemudian ada “Indie voor Indier” yang artinya Indonesia untuk orang Indonesia. Kedua semboyan tersebut sebagai pelecut semangat dalam proses memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional: Perjuangan Melalui Pemikiran

Perjalanan Indische Partij

Partai ini didirikan bertepatan dengan hari natal, yaitu pada 25 Desember 1912 bertempat di Bandung. Terbentuk karena terinspirasi dari organisasi sebelumnya yaitu Budi Utomo, namun dengan terobosan baru yaitu secara terang-terangan berbasis politik dengan tujuannya menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Oleh karenanya, perjalanan partai politik pertama Indonesia ini tidak berjalan mulus dikarenakan banyak rintangan yang disebabkan oleh pemerintah Belanda.

Kolonial Belanda yang mengendus unsur-unsur radikal dari program organisasi ini mengambil tindakan tegas.  Ketegasan tersebut dapat dilihat ketika Indische Partij ini mengajukan permohonan sebagai badan hukum kepada gubernur jendral, namun permohonan tersebut tidak membuahkan hasil. Gubernur jendral tersebut menolak pengajuan itu pada tanggal 4 Maret 1913. Penolakan tersebut tidak lain adalah karena partai ini berbasis politik sehingga ditakutkan dapat mengancam kestabilan pemerintahan Belanda dan juga mengganggu keamanan umum kala itu.

Gambar-surat-kabar-de-express-oomindra,wordpress,com
Gambar Surat Kabar De Express, Foto Oleh Oomindra.wordpress. com

Pada tahun 1913 merupakan perayaan 100 tahun bebasnya Belanda dari Perancis. Dalam perayaan tersebut terdapat pergerakan dari Indische Partij melalui tulisan Suwardi Suryaningrat yang isinya berupa kritikan pada pemerintah Belanda. Kritikan tersebut dilayangkan pasalnya dalam merayakan hari jadinya yang ke 100, pemerintah Belanda menggunakan biaya yang dikeruk dari masyarakat Indonesia. Tulisan Suwardi Suryaningrat itu berjudul Als ik eens Nederland was yang jika diartikan menjadi bahasa Indonesia bermakna Seandainya Aku Seorang Belanda.

Disebabkan oleh tulisan tersebut, tokoh tiga serangkai itu pun diberi hukuman berupa diasingkan ke Belanda. Pada 1914, Cipto Mangunkusumo dipulangkan ke Indonesia karena alasan kesehatan. Awalnya, Cipto diminta untuk menandatangani persetujuan bahwasanya sebagai syarat untuk kembali ke Indonesia ia harus mundur dari segala aktivitas politik, namun Cipto menolak dengan mengatakan bahwa ia lebih baik meninggal daripada harus menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1917 merupakan giliran dari Douwes Dekker kembali ke tanah air yang disusul oleh Suwardi Suryaningrat satu tahun kemudian.

Karena ketiga tokoh pendiri Indische Partij tersebut diasingkan ke Belanda, aktivitas di organisasi itu sendiri menjadi terhambat bahkan berhenti total. Akibatnya, Indische Partij pada akhirnya bubar dan berganti nama sebagai Insulide. Insulide pun tidak bertahan lama karena pada tahun 1919 partai ini berganti nama lagi menjadi Nationaal Indische Partij (NIP).

Biografi 3 Tokoh Indische Partij

gambar-para-pendiri-indische-partij-emaze,com
Gambar Para Pendiri Indische Partij, foto oleh Emaze. com

Seperti yang telah Munus paparkan di atas bahwasanya pendiri Indische Partij terdapat tiga orang. Masing-masing tokoh tentunya adalah orang besar dengan pengalaman hidup yang juga tidak biasa. Jasanya pun dalam proses perjuangan sangat banyak. Berikut biografi singkat dari tiga serangkai pendiri partai politik pertama di Indonesia.

E.F.E Douwes Dekker

Lahir dengan nama asli Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, ia juga memiliki nama pribumi yaitu Danudirja Setiabudi. Bertempat di Pasuruan, ia lahir pada tanggal 8 Oktober 1879 dengan darah campuran keturunan Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa. Ia terlahir sebagai anak kedua dari pasangan suami istri Auguste Douwes Dekker dan Luoise Margaretha. Kakak laki-laki dari pihak ayahnya merupakan seorang penulis terkenal yang salah satu karyanya adalah Max Havelaar bernama Eduard Douwes Dekker dan dikenal dengan nama pena Multatulli.

Sebagai seorang yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan, ia menamatkan sekolah di HBS tahun 1897 dan sempat merasakan pendidikan di Swis. Berkat ilmu yang didapatnya, ia mulai berkiprah dalam dunia perjuangan, salah satunya di bidang jurnalis. Deretan surat kabar tempatnya berkiprah adalah De Locomotief, Surabajaas Handeisbiad, Bataviaas Nieusblad, lalu membuat surat kabar sendiri yang diawali dengan majalah bulanan bernama HetTijdshrift kemudian beralih pada De Express. Di De Express inilah media tempat dicetaknya tulisan Suwardi Suryaningrat yang fenomenal itu.

Cipto Mangunkusumo

Cipto Mangunkusomo merupakan keturunan asli jawa yang lahir di Desa Pecangakan, Jepara. Ia merupakan keturunan priyayi bernama Magunkusumo, yaitu keturunan priyayi rendahan, dalam profesi guru, berdasarkan struktur masyarakat jawa jaman dulu. Meskipun demikian, orang tuanya telah berhasil memberikan pendidikan yang tinggi bagi Cipto dengan segala keterbatasan yang ada.

Ketika menjalankan studinya ia dikenal sebagai anak yang kritis, jujur, dan rajin. Begitupun Cipto sudah memasuki dunia kerja, ia tetap mempertahankan sikap-sikap baiknya itu. Berprofesi sebagai seorang wartawan di De Locomotive dan Bataviaasch Nieuwsblad sejak tahun 1907, ia menulis kritikan-kritikan tajam yang ditujukan kepada pemerintahan Belanda.

Baca juga: Peristiwa Sumpah Pemuda

Suwardi Suryaningrat

Dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara dengan julukan Bapak Pendidikan Indonesia, Ia lahir dari keturunan keluarga keraton Yogyakarta. Seorang Ki Hajar Dewantara terlahir di Pakualaman, Yogyakarta yakni pada tanggal 2 Mei 1889. Memiliki karakter yang sangat merakyat, Suwardi sampai menghilangkan gelar bangsawan yang melekat pada namanya hanya agar menjadi lebih dekat dengan rakyat. 

Tidak menamatkan sekolah kedokterannya di stovia karena sakit, pemilik nama asli Suwardi Suryaningrat ini kemudian berkecimpung di dunia tulis menulis. Ia sempat bekerja di berbagai media cetak seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda. Salah satu tulisan penomenalnya adalah yang bertajuk “Seandainya Aku Seorang Belanda.”

Logo Indische Partij

Lambang dari Indische Partij dominan dengan warna emas. Terdapat dua gambar wayang pada kiri dan kanannya. Kresna adalah wayang yang di sebelah kiri dan Arjuna adalah wayang yang di sebelah kanan. Dua gambar wayang ini berdiri saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya sambil memegang tameng lonjong. 

Di sekeliling tameng terdapat tulisan-tulisan yang berbunyi rawe-rawe rantas, malang-malang poetoeng. “Hancur semua yang menjadi penghalang” kurang lebih begitulah artinya. Selain itu, terdapat seekor burung garuda yang bertengger di atas kedua gambar wayang tersebut. 

Kesimpulan

Indische Partij sebagai organisasi berbasis politik pertama di Indonesia merupakan gagasan dari tokoh tiga serangkai, EFE Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Perjalanan partai ini tidak pernah mulus lantaran selalu mendapat rintangan dari pemerintah Belanda pada prosesnya. Namun demikian, para pendiri dan anggota dari partai tersebut tidak pernah ada bosannya dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, sebagai anak nusantara yang telah hidup di negara merdeka, sudah sepatutnya kita tetap berusaha mempersembahkan prestasi yang membanggakan sebagai bentuk apresiasi terhadap para pahlawan yang telah berjuang.

Baca juga: 7 Tempat Yang Bisa Jadi Tujuan Wisata di Hari Kemerdekaan

Last Updated on Desember 16, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up