Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Nyi Roro Kidul: Legenda dan Penjelasan Rasional

3 min read

gambar-nyi-roro-kidul-travel,okezone,com

Nyi Roro Kidul adalah sesosok makhluk mitos yang telah bersemayam di sejarah dan ingatan masyarakat Indonesia sejak lama. Digambarkan sebagai sosok wanita yang cantik jelita, ia mengenakan pakaian yang dominan berwarna hijau. Hal-hal terkait dirinya selalu menjadi perbincangan hangat mengingat masyarakat Indonesia yang masih sangat percaya dengan cerita mitos. Kali ini Munus akan membahas lebih jauh terkait Legenda Nyi Roro Kidul berdasar pada kisah yang paling populer.

Legenda Nyi Roro Kidul Versi I

Cerita Rakyat Nyi Roro Kidul memiliki banyak versi. Versi yang paling terkenal diantara semuanya adalah yang berasal dari kerajaan Galuh. Diceritakan bahwasanya asal-usul sari Ratu Pantai Selatan adalah seorang putri dari Kerajaan Galuh. Ia lahir dari rahim seorang ratu Galuh yang bernama Ratu Ayu. 

Kelahiran

Ketika Ratu Ayu melahirkan seorang bayi perempuan, terjadi keanehan yang menyertainya. Pasalnya, bayi perempuan yang baru lahir tersebut sudah bisa berbicara bahkan mengaku bahwa dirinya merupakan penguasa seluruh lelembut di tanah Jawa. Ia juga berkata bahwa nanti dirinya akan berdiam di Pantai Selatan. 

Bersamaan dengan kejadian tersebut, roh Raja Sindhula dari Galuh yang merupakan kakek dari Nyi Roro Kidul muncul dan menyampaikan sebuah pesan. Pesan tersebut berisi informasi perihal cucunya bahwa cucunya tersebut tidak akan bersuami guna menjaga kesuciannya. Dan jika nantinya ia bersuami, yang menjadi suaminya kelak hanya bisa dari kalangan raja khususnya raja-raja Islam di Jawa.

Penantian 

gambar-nyi-roro-kidul-intisari,grid,id
Gambar Nyi Roro Kidul, Foto Oleh Intisari.grid. id

Benar saja, pesan yang disampaikan oleh roh sang kakek benar-benar terjadi. Wanita yang juga akrab disapa dengan sebutan Ratu Pantai Selatan ini menanti seorang suami dua abad lamanya. Karena seorang raja yang memerintah Kerajaan Mataram Islam tahun 1585-1601 bernama Panembahan Senopati datang ke Pantai Selatan untuk melakukan semedi. Semedi tersebut ia lakukan dengan tujuan untuk meminta petunjuk guna memenangkan peperangan melawan Sultan Pajang di Prambanan.

Konon, berkat keuletan dan ketekunannya dalam memanjatkan doa berimbas pada bergolaknya Laut Selatan. Begitu pula pada istana Ratu Pantai Selatan itu yang juga porak poranda akibat kedahsyatan doa Panembahan Senopati. Karena kejadian tersebut, Ratu Kidul pun keluar dari istananya dan memunculkan dirinya ke permukaan untuk menemukan pelaku dari keributan tersebut.

Ketika sudah berada di permukaan, Ratu Kidul tertegun ketika matanya menangkap sekelebat gambaran pemuda gagah yang sedang bersemedi. Melihat pemandangan tersebut, ia pun jatuh hati ke pemuda tersebut yang tak lain adalah Panembahan Senopati. Mereka berdua bercinta selama tiga hari tiga malam di istana bawah Laut Selatan.

Setelah bercinta, Ratu Pantai Selatan mengucapkan janji untuk membantu Senopati memenangkan peperangan. Kemudian Senapati bersegera berangkat menuju palagan Prambanan di mana tempat peperangan itu terjadi dengan membawa pasukan arwah Pantai Selatan. Berkat bantuan dari pasukan tak kasat mata itu Panembahan Senapati menang dengan gemilang.

Baca juga: Gajah Mada: Pemersatu Nusantara Dalam Ikatan Sumpah

Legenda Nyi Roro Kidul Versi II

gambar-nyi-roro-kidul-voi,id
Gambar Nyi Roro Kidul, Foto Oleh Voi. id

Asal-usul Penguasa Pantai Selatan di versi ke II ini lebih kepada penjelmaan seorang gadis akibat tragedi kehidupannya. Gadis tersebut adalah seorang putri Kerajaan Pakuan Pajajaran. Sang raja yang bernama Prabu Siliwangi memiliki banyak anak yang mana satu diantaranya adalah Putri Kandita. Putri Kandita dideskripsikan sebagai seorang gadis berparas cantik jelita dan merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi yang kemudian ditunjuk sebagai calon penerus tahtanya.

Iri dan dengki menyelimuti pikiran para selir dan  anak-anak Prabu Siliwangi yang lain setelah mendengar kabar tersebut. Mereka tidak dapat menerima fakta bahwa Putri Kandita yang akan mendapat tampuk kekuasaan sebagai seorang penerus tahta. Akhirnya, mereka merencanakan sebuah hal jahat untuk menyingkirkan Putri Kandita beserta ibunya.

Mengidap Penyakit

Mereka mengawali rencana tersebut dengan meminta bantuan kepada penyihir sakti. Penyihir sakti itu mengutuk Kandita dan ibunya dengan penyakit kulit berupa kusta. Penyakit kulit tersebut tidak sembuh meskipun telah diobati dengan berbagai macam obat dan ramuan dari tabib istana.

Dari waktu ke waktu, kulit penuh kusta tersebut semakin parah dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Ibu dan Putri Kandita meninggal tidak lama setelah mengidap penyakit tersebut. Sedangkan Putri Kandita memutuskan untuk meninggalkan istana kerajaan setelah mendengar bahwa sang ayah, Prabu Siliwangi, menyetujui usulan para selir beserta anaknya untuk mengusirnya dari istana.

Keluar Dari Istana

gambar-nyi-roro-kidul-minews,id
Gambar Nyi Roro Kidul, Foto Oleh Minews. id

Putri Kandita keluar istana dengan suasana hati dan pikiran yang penuh akan rasa sedih. Ia berjalan tanpa ada tujuan yang pasti hingga pada akhirnya kakinya membawanya tiba di pesisir Pantai Selatan. Kemudian ia terlelap akibat kelelahan yang dirasakannya dan memimpikan sebuah suara yang menyuruhnya untuk menceburkan diri ke laut agar penyakit kulitnya sembuh.

Setelah bangun dari tidurnya, Putri Kandita kemudian melakukan apa yang diberitahu oleh suara di mimpinya itu. Ia kemudian menceburkan dirinya ke laut dan perlahan penyakit kulitnya memudar seiring air laut membasahi kulitnya. Sampai pada akhirnya seluruh penyakit kulitnya hilang tak berbekas.

Putri Kandita menetap di Pantai Selatan setelah kesembuhannya. Setelah berubah menjadi cantik seperti sedia kala, banyak pangeran yang melamarnya dan menjadikannya sebagai permaisuri mereka. Namun, karena persyaratan yang diajukan oleh Putri Kandita terlalu suit maka tidak ada yang berhasil menyelesaikannya. Persyaratan tersebut yaitu para pangeran harus adu kekuatan dengannya di atas gelombang pantai laut. Karena tidak berhasil, alih-alih menjadi suami dari sang putri, para pangeran itu malah menjadi pengikut setianya.

Kedua versi legenda Nyi Roro Kidul di atas adalah salah dua dari banyak versi mengenai asal-usul dari Penguasa Laut Selatan. Meskipun terdapat banyak versi, namun kesamaan dari semuanya adalah menceritakan bagaimana seorang perempuan yang merupakan makhluk halus bernama Nyi Roro Kidul menguasai daerah Laut Selatan.

Penjelasan Rasional

Banyak masyarakat Indonesia yang masih percaya akan eksistensi Nyi Roro Kidul. Namun, seorang sastrawan yang bernama Pramoedya Ananta Toer mengemukakan pendapatnya bahwa Nyi Roro Kidul adalah sosok ciptaan para pujangga kerajaan Mataram. Hal itu dilakukan sebagai kompensasi atas kekalahan Sultan Agung ketika menyerang Batavia dan juga gagalnya dalam menguasai jalur perdagangan di Pantai Utara Jawa. 

Dengan berkembangnya mitos tentang Ratu Kidul yang berfungsi untuk menyelimuti kekalahan Kerajaan Mataram itu seakan-akan Mataram masih menguasai Laut Selatan atau Samudera Hindia. Bersamaan dengan itu, muncullah mitos-mitos lain yang mengatakan bahwa tiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi Pantai Selatan tersebut.

Mengenai mitos tentang ketabuhan menggunakan pakaian berwarna hijau di pantai selatan bukanlah karena akan terkena kutukan. Pramoedya yang lebih akrab disapa sebagai Pram ini juga menuturkan bahwa mitos tabuh menggunakan baju berwarna hijau di Pantai  Selatan juga diprakarsai oleh para pujangga Kerajaan Mataram. Karena pada zaman dulu mereka ingin memutuskan asosiasi dengan tentara kompeni (VOC) yang identik dengan pakaian berwarna hijau.

Kesimpulan

Nyi Roro Kidul yang juga akrab disapa dengan Ratu Pantai Selatan adalah sosok mitos yang banyak dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Kisahnya yang sangat melegenda khususnya di tanah Jawa diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Meskipun keberadaannya tidak dapat dibuktikan, namun patutlah sebagai anak bangsa untuk tetap menghargai cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.

Baca juga: Malin Kundang: Cerita Rakyat dari Sumatera Barat

Last Updated on Januari 8, 2021

Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up