Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Prabu Siliwangi: Sejarah Hingga Silsilah Keturunan

3 min read

gambar-prabu-siliwangi-Hallosukabumi,com

Dikenal sebagai tokoh sejarah, keberadaan Prabu Siliwangi dianggap abu-abu bahkan sering dianggap sebagai cerita mitos dan dongeng belaka. Pasalnya, Keberadaan dan eksistensi baik dirinya maupun kerajaannya masih sulit untuk ditemukan dan dibuktikan secara nyata. Tokoh ini sebenarnya sangat legendaris yang dikenal sebagai seorang raja dari kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Simak terus pembahasan mengenai sejarah raja Pajajaran di bawah ini.

Sejarah Prabu Siliwangi

Nama Prabu Siliwangi memiliki makna khusus bagi masyarakat Tatar Sunda. Nama tersebut dikenal sebagai suatu kebanggaan bagi masyarakat Tatar Sunda yang mana raja tersebut memimpin kerajaan hingga mencapai masa gemilang. Terdapat beberapa perbedaan mengenai asal-usul nama Siliwangi. Pendapat pertama menyatakan bahwasanya Prabu Siliwangi bukan semata-mata nama sejati, melainkan sebuah alias/julukan/gelar yang disematkan pada para raja pemimpin Kerajaan Sunda.

Versi I

Anggapan bahwa Prabu Siliwangi hanya merupakan gelar saja juga banyak diakui oleh masyarakat. Sedikitnya terdapat empat raja yang dianugerahi gelar tersebut diantaranya Lingga Buana, Niskala Watu Kancana, Sri Baduga Maharaja, dan Surawisesa. Para raja tersebut mendapatkan gelar Prabu Siliwangi atas jasa dan upayanya dalam mengarungi dunia perekonomian baru yang bergerak di bidang perdagangan agraris. Selain itu, tampaknya ada tanggapan yang berbicara bahwa gelar Prabu Siliwangi disematkan pada tiap-tiap raja yang menduduki pemerintahan kerajaan Pajajaran.

Versi II

Pendapat lainnya mengenai Siliwangi adalah gelar yang hanya disematkan pada satu orang. Orang tersebut tidak lain adalah Prabu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji(1482-1521). Gelar tersebut ia dapatkan karena dinobatkan sebanyak dua kali yaitu dari sang ayah, Prabu Dewa Niskala, menerima tahta kerajaan Galuh. Tahta kedua ia peroleh dari sang mertua, Susuktunggal, yaitu tahta kerajaan Sunda. Dengan demikian, Prabu Jayadewa adalah penguasa resmi kerajaan Galuh-Sunda yang dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji.

Konon, masyarakat segan dan tidak diperbolehkan untuk memanggil raja dengan sebutan gelar lengkapnya. Maka dari itu muncullah nama Prabu Siliwangi yang lebih populer. Siliwangi sendiri berasal dari kata “silih” dan “wewangi” dimana kata “silih” memiliki arti sebagai pengganti. Arti lengkapnya dapat dinyatakan sebagai ‘Pengganti Prabu Wangi’. Berbicara mengenai Prabu Wangi, nama tersebut juga merupakan julukan yang disematkan kepada Prabu Maharaja setelah berhasil ‘mewangikan’ Kerajaan Sunda yang menjadi kebanggaan masyarakat Sunda melalui prestasi dan kemasyhuran yang diraihnya.

Pada masa mudanya Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai ksatria yang sangat pemberani dan juga tangkas. Diketahui pula bahwasanya ia merupakan satu-satunya orang yang berhasil mengalahkan Ratu Jayapura ketika bertempur memperebutkan Subang Lara untuk dijadikan sebagai istri. Berkat keberanian dan ketangkasannya itu, ia berhasill memikat hati Subang Larang hingga akhirnya menikahinya.

Ketika pertama kali dinobatkan sebagai raja Galuh oleh  sang kakek, ia kemudian langsung menunaikan amanah dari sang kakek sebagai tindakan pertamanya. Amanah dari kakeknya tersebut berupa pembebasan rakyat dari membayar pajak sebagai apresiasi karena telah melaksanakan dan mengamalkan ajaran dewata dengan tegas. Berkat kebijakannya tersebut, raja Pajajaran tersebut dengan mudahnya mendapat dukungan dari rakyat.

Baca juga: Roro Jonggrang dan Kisah Candi Prambanan yang Melegenda

Silsilah Prabu Siliwangi

gambar-prabu-siliwangi-voi,id
Prabu Siliwangi, Foto Oleh Voi. id

Seperti yang telah disebut sebelumnya bahwa istri Prabu Siliwangi bernama Nyi Subang Larang. Dari pernikahan tersebut, pasangan raja Pajajaran beserta istrinya tersebut dikaruniai keturunan sebanyak tiga orang. Ketiga anak mereka masing-masing bernama Walangsungsang dan dikenal juga sebagai Pangeran Cakrabuana, Rara Santang yang nantinya dikenal sebagai ibu dari ulama islam yang terkenal di Jawa, yaitu Sunan Gunung Jati. Anak terakhir mereka bernama Prabu Kian Santang yang nantinya juga menjadi pemimpin yang adil.

Kepemimpinan Prabu Siliwangi

Syarif Hidayat merupakan cucu Prabu Siliwangi dari Lara Santang. Tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, cucu Sri Baduga Maharaja tersebut memberhentikan pengiriman upeti yang rutin dibawa ke Pajajaran setiap tahunnya. Di lain sisi, pada waktu yang bersamaan para armada laut kerajaan Demak telah siap siaga di pelabuhan Cirebon guna bersiap serta menjaga apabila terdapat kemungkinan datangnya serangan dari Pajajaran. 

Hal tersebut memang benar terjadi dimana Tumenggung Jayabaya dikirim menuju Cirebon dengan membawa 60 anggota pasukan yang membersamainya. Tumenggung yang memang tidak mengetahui keberadaan pasukan Demak yang sudah bersiap siaga di sana kewalahan menghadapi mereka. Ia dan pasukannya yang berjumlah enam puluh orang tersebut tidak berdaya dalam melawan pasukan gabungan Cirebon-Demak hingga akhirnya menyerahkan diri.

Mendengar kabar tersebut membuat lelaki yang berkedudukan sebagai raja Pajajran itu marah besar. Dengan masih dipenuhi amarah yang menggebu, ia kemudian bersegera menyiapkan pasukan dalam jumlah besar dan berencana menyerang Cirebon. Akan tetapi hal tersebut berhasil digagalkan berkat nasihat dari Purohita yaitu pendeta tertinggi keraton yang bernama Ki Purwa Galih. 

Akibat dari kejadian itu, raja Pajajaran itu lebih menitik beratkan kepemimpinannya dalam hal pembinaan agama, pembuatan jalan, pembuatan parit pertahanan, hingga pembinaan angkatan perang dan pesawat tempur. Keputusan tersebut ia ambil karena Kerajaan Pajajaran adalah negara yang kuat di lingkup daratan namun lemah di laut.  

Macan Putih Prabu Siliwangi

gambar-prabu-siliwangi-bogornewscenter,com
Prabu Siliwangi, Foto Oleh Bogornewscenter. com

Ketika anaknya yang bernama Kian Santang sudah dewasa, Siliwangi lalu diajak anaknya untuk memeluk Islam. Namun, raja yang bergelar Sri Baduga Maharaja itu menolaknya. Kemudian, karena Kian Santang tidak  ingin ayahnya berada di jalan yang salah, maka ia tidak pernah menyerah untuk membujuknya. Demi menghindari konflik, diceritakan bahwa Prabu SiIiwangi melakukan moksa. Moksa sendiri berarti menghilang dari peradaban saat itu. 

Mitos yang beredar di kalangan masyarakat Sunda adalah mereka mempercayai bahwa Prabu Siliwangi berubah menjadi Macan putih. Menjadi macan putih di sini dapat diartikan dalam dua hal. Yang pertama adalah bahwa raga dari Sri Baduga itu berubah menjadi seekor harimau putih. Tafsir yang kedua mengemukakan bahwasanya sifatnyalah yang berubah layaknya harimau putih, yaitu menjadi lebih pemberani, bertanggung jawab, serta lebih cinta kepada keluarga.

Kesimpulan

Sri Baduga Maharaja seringkali dianggap sebagai mitos belaka oleh masyarakat Indonesia. Namun, pemimpin kerajaan Pajajaran ini bagi sebagian yang lain diyakini keberadaannya nyata sebagaimana raja dari kerajaan yang lain. Meskipun demikian, Kisah Prabu Siliwangi sangatlah melekat dan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Tatar Sunda.

Baca juga: Nyi Roro Kidul: Legenda dan Penjelasan Rasional

Last Updated on April 27, 2021

Novy Auliya Istighfary An English Education student. A beginner who has great interest in writing yet ready to surf deeper for new insights.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up