Kerajaan Sriwijaya: Sejarah Lengkap, dari Kejayaan hingga Keruntuhan

8 min read

Prasasti Kerajaan Sriwijaya Prasasti Talang Tuwo

Kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara adalah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya bercorak agama Buddha Mahayana. Letak Kerajaan Sriwijaya yang ada di Palembang ini berlangsung antara abad ke-7 hingga abad ke-12.

Nama Sriwijaya diambil dari Bahasa Sanskerta, Sri berarti “bercahaya, bergemilang” dan Wijaya berarti “kemenangan, kejayaan”

Fakta sejarah menunjukkan jika Kerajaan Sriwijaya adalah pusat penyebaran agama budha di Asia Tenggara karena banyak pemuka agama yang belajar dan mendalami agama Buddha Mahayana di Kerajaan Sriwijaya. Mereka datang dari seluruh penjuru Asia Tenggara juga untuk belajar Bahasa Sanskerta di Kerajaan Sriwijaya.

Selain sebagai pusat penyebaran agama Budha, Sriwijaya juga menjadi pusat perdagangan. Hal tersebut dikarenakan kerajaan ini merupakan kerajaan maritim yang kuat dan berpengaruh di Nusantara serta memiliki cakupan wilayah yang sangat luas. Sehingga bidang perdagangan di Kerajaan ini mengalami kemajuan yang pesat terutama karena memiliki armada laut yang kuat dan jalur perdagangan yang aman. Jalur perdagangan yang dikuasai oleh pemerintahan Sriwijaya adalah perairan penting dalam perdangangan, yakni Selat Malaka dan Selat Sunda.

Ketika masa kejayaannya berakhir, tentu saja terdapat banyak bukti terkait keberadaan dan kehebatan kerajaan besar ini. Peninggalan Kerajaan ini berupa prasasti yang jumlahnya cukup banyak. Selain itu, terdapat juga tarian yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya, yaitu Tari Gending Sriwijaya. Tarian ini masih cukup dilestarikan hingga saat ini untuk ditampilkan di even-even tertentu.

Berikut rangkuman mengenai sejarah lengkap, nama raja, masa kejayaan, hingga peninggalan prasasti Kerajaan Sriwijaya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya diperoleh dari berita luar negeri dan beberapa prasasti yang ditemukan. Kabar dari China menyebutkan ada seorang pendeta Buddha bernama I-Tsing yang melakukan perjalanan dari Cina ke India untuk menuntut ilmu.

Di tengah perjalanan ia berlabuh sejenak Shi-li-fo-shih (Sriwijaya) untuk belajar Bahasa Sanskerta selama 6 bulan. I-Tsing menjelaskan bahwa Kerajaan ini memiliki pelayaran yang sangat maju serta menganut agama Buddha. Dari kedatangan pendeta bernama I-Tsing inilah nama Kerajaan Sriwijaya semakin melambung ke berbagai negara lainnya.

Kabar dari Arab menceritakan adanya sebuah kerajaan bernama Zabag (Sriwijaya) yang terletak di sebuah Pulau Emas. Kerajaan ini juga diceritakan memiliki hubungan baik dengan Cina melebihi hubungan baik dengan India.

Sedangkan kabar dari India ditemukan pada prasasti Leiden Besar yang ditemukan oleh para raja dari Dinasti Cola. Dijelaskan adanya pembebasan tanah Anaimangalam pada biara di Nagipatama, dimana biaranya dibangun oleh Marawijayatunggawarman, seorang keturunan Syailendra yang berkuasa di Sriwijaya dan Kataka.

Untuk sejarah yang ditemukan di dalam negeri berupa prasasti, terdapat prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuo, prasasti Kota Kapur, prasasti Karang Berahi, prasasti Telaga Batu, dan lain lain. Bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya sebagian besar menggunakan Bahasa Melayu Kuno (Melayu Kuna).

Pendiri Kerajaan Sriwijaya

Para ahli kesusahan untuk mencari informasi asal usul pendiri Kerajaan Sriwijaya, karena tidak ada data yang menyebutkan siapa pendiri kerajaan ini. Namun, jika dilihat berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, para ahli menemukan sebuah nama yaitu Dapunta Hyang.

Dalam Prasasti Talang Tuo nama Dapunta Hyang juga diperjelas menjadi Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Kedua prasasti tertua inilah yang dijadikan patokan untuk  pendiri Kerajaan besar ini.

Daerah Kekuasaan

Pusat pemerintahan Sriwijaya berada di antara tiga tempat, yaitu Sumatera Selatan, sebagian Malaysia, serta sebagian besar pulau Jawa. Karena ekspansi wilayah yang terus dilakukan, maka daerah kekuasaannya pun juga ikut meluas. Ketika berada dalam masa jayanya, daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya mencakup Thailand, Semenanjung Malaya, Kamboja, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa.

Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Dikarenakan informasi yang kurang lengkap, silsilah para raja yang menduduki tahta Kerajaan Sriwijaya juga banyak yang timpang tindih. Banyak informasi yang hilang, sehingga raja-raja yang telah teridentifikasi tidak sepenuhnya berurutan. Bukti-bukti yang didapat pun kurang kuat untuk dijadikan sebagai referensi yang asli. Berikut beberapa nama-nama penguasa Sriwijaya setelah masa kekuasaan Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang telah disepakati oleh para ahli.

Sri Indrawarman

Setelah Dapunta Hyang, sesuai dengan prasasti Ligor menyebutkan Raja Sriwijaya menyerupai Indra membangun kuil di Ligor, serta catatan sejarah Dinasti Sung dari abad ke-11 menyatakan seorang Raja Sriwijaya mengirim seorang utusan pada 724 Masehi.

Sri Maharaja Indra Warmeda adalah gelar yang dimiliki oleh Raja Indrawarman yang kepemimpinannya dimulai pada tahun 702 M.

Raja Rudrawikraman

Pemerintahan dari raja Rudrawikraman berlansung sekitan 728 M. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya mulai kembali melakukan ekspansi wilayah. Ekspansi tersebut dilakukan ke arah utara hingga ke tenggara, yaitu sepanjang Selat Malaka sampai sekitar Selat Sunda. Hal tersebut dilakukan guna mempertahankan dan meluaskan ranah dagang Kerajaan Sriwijaya.

Raja Dharmasetu

Awal masa pemerintahan Raja Dharmasetu ialah pada tahun 790 M. Pada pemerintahan raja Dharmasetu inilah sayap kekuasaan Sriwijaya mulai meluas. Perluasan tersebut sampai pada daerah Semenanjung Malaya. Berkat perluasan tersebutlah dibangun sebuah pangkalan laut yang berfungsi sebagai tempat pasukan militer di wilayah Ligor.

Salah satu prestasi yang diperoleh dari pemerintahan Dharmasetu ialah terbentuknya hubungan baik dengan Negeri Cina dan India. Hubungan tersebut nantinya berpengaruh pada hubungan perdagangan antar negara, karena berkat hal tersebut banyak para saudagar Cina dan India yang berlabuh ke pelabuhan milik Sriwijaya untuk melakukan perdagangan. Dari kegiatan tersebut Sriwijaya mendapat banyak keuntungan.

Raja Samaratungga

Ada beda pendapat mengenai silsilah Samaratungga, ada yang berpendapat ia anak dari Dharanindra dan ada pendapat lain yang menyebutkan ia adalah cucunya. Samaratungga menyelesaikan pembangunan Candi Borobudur. Ia juga memiliki putri yang ia nikahkan dengan Rakai Pikatan. Pada masa pemerintahannya, tepatnya pada tahun 802 salah satu daerahnya lepas dari kekuasaannya karena ditaklukkan oleh Kamboja selatan.

Balaputradewa

Balaputra dewa merupakan adik dari Samaratungga. Ia memulai Kembali Sriwijaya pada abad ke-9 Masehi. Hubungan baiknya dengan India, seperti kerajaan Cola dan Nalanda, juga dijelaskan dalam prasasti Nalanda. Raja Balaputradewa membawa Sriwijaya berada di puncak kejayaannya. Raja ini menjadi penguasa di perdagangan Melayu dan meninggalkan hubungan dengan Jawa.

Pada masa kekuasaannya, ia juga memiliki pasukan militer yang kuat dan sriwijaya menjadi pusat agama Buddha. Ia juga memerintahkan agar membangun sebuah biara yang nantinya difungsikan sebagai tempat belajar agama Budha oleh para pelajar dan pendeta. Biara tersebut bertempat di salah satu daerah di India, yaitu Nalanda.

Sri Cundhamaniwarmadewa

Nama lain dari raja ini adalah Raja Culamaniwarman. Raja inilah yang membangun hubungan baik dengan Kerajaan di Cola dan Kekaisaran Cina. Ia juga menghadiahkan sebuah kompek candi yaitu Candi Muara Takus sebagai bentuk kesetiaan dan hadiah pada kekaisaran Cina yang menjadi pelindung bagi Sriwijaya.

Sri Marawijayatunggawarman

Raja Marawijayatunggawarman merupakan anak dari Raja Cundhamaniwarmadewa. Sekitar tahun 1016, menyerang Jawa yang sebelumnya meyerang Palembang, yakni Raja Dharmawangsa Teguh. Serbuan itu kemudian meruntuhkan Kerajaan Medang 

Lokasi

Lokasi kerajaan Sriwijaya sempat menjadi perdebatan. Ada versi yang mengatakan bahwa letak Kerajaan Sriwijaya terletak di Palembang.Ada juga pendapat yang mengatakan letak kerajaan Sriwijaya adalah di Jambi, dan bahkan ada di luar Indonesia.

Tetapi, menurut para ahli, letak Kerajaan besar ini ada di Palembang, di dekat pantai dan tepi Sungai Musi. Namun, ketika pusat kerajaan di Palembang mengalami kemunduran, Sriwijaya berpindah ke Jambi.

Masa Kejayaan
Kerajaan Sriwijaya

Puncak masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya ada pada masa Raja Balaputradewa. Sekitar tahun 805 Masehi merupakan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa berhasil membawa sriwijaya berjaya dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.

Dalam bidang pendidikan, Sriwijaya juga menjadi pusat penyebaran agama Buddha terbesar. Perdagangan di Kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan yang pesat terutama karena memiliki armada laut yang kuat dan memiliki jalur perdagangan yang aman. Maka dari itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan yang makmur yang dikenal di seluruh Nusantara.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya ada di tangan Raja Balaputradewa

Peninggalan & Prasasti Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya memiliki banyak peninggalan berupa prasasti. Bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya sebagian besar menggunakan Bahasa Melayu Kuno (Melayu Kuna), dengan huruf Pallawa. Berikut beberapa peninggalan kerajaan Sriwijaya berupa prasasti sebagai bukti Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit

Ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini dibuat sekitar tahun 605 Saka (683 Masehi) di Palembang. Isinya menceritakan tentang Dapunta Hyang yang mengadakan perjalanan suci, juga disebut sebagai siddhayatra, menggunakan perahu selama delapan hari dengan membawa 20.000 pasukan dan berhasil menguasai beberapa daerah. Prasasti Kedukan Bukit sampai saat ini berada di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti Talang Tuo

Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (684 Masehi). Ditemukan sekitar bulan November tahun 1920 di sebelah barat Kota Palembang. Prasasti ini ditulis dalam huruf Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya Prasasti Talang Tuwo
Prasasti Talang Tuo sebagai salah satu Prasasti Kerajaan Sriwijaya, foto oleh pantaugambut,id

Isinya bercerita tentang pembuatan Taman Sriksetra yang dibangun oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk. Selain itu, prasasti Talang Tuo juga memuat doa dan harapan yang merupakan sifat dan ajaran agama Budha.

Prasasti Kota Kapur

Prasasti ini bertuliskan tahun 608 Saka (686 Masehi) dan diketemukan di desa Penangan, Mendo Barat, Pulau Bangka. Isi dari prasasti ini adalah permohonan pada para dewa untuk menjaga keselamatan rakyat dan menghukum siapapun yang memiliki niat jahat. Selain itu juga tercantum keterangan penting berupa catatan upaya Sriwijaya dalam menaklukkan “bumi Jawa”, khususnya daerah yang belum tunduk pada kekuasaan kerajaan maritim ini.

Baca juga: Kerajaan Tarumanegara: Sejarah Lengkap dan Peninggalan

Prasasti Karang Birahi

Prasasti ini ditemukan di Jambi dan bertuliskan tahun 608 Saka (686 Masehi). Peninggalan ini ditulis dalam huruf Pallawa. Isi dari Prasasti Karang Birahi berisi sama dengan Prasasti Kota Kapur yaitu kutukan bagi siapa saja yang tidak mematuhi perintah Raja.

Prasasti Telaga Batu

Ditemukan sekitar tahun 1935 di Kota Palembang, prasasti ini berupa batu andesit lalu diatasnya ada hiasan kepala ular berjumah 7 buah. Isi Praasasti Telaga Batu adalah kutukan menakutkan bagi mereka yang berbuat jahat dan melanggar titah raja. Pada prasasti tersebut tidak tercantum tanggal ataupun tahun pembuatannya. Diperkirakan sekitar tahun 686 M prasasti ini dibuat, yaitu pada tahun yang sama dengan prasasti kota Kapur.

Isi dari prasasti ini pun bisa dibilang cukup menakutkan, yakni berisi mengenai kutukan-kutukan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan dan berani melanggar peraturan kerajaan maupun titah raja. Di sisi lain, prasasti ini juga berisi data-data tentang penyusunan ketatanegaraan di Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini ditemukan di Lampung Selatan. Isinya adalah wilayah Lampung Selatan yang telah dikuasai Sriwijaya. Para ahli memperkirakan prasasti ini dibuat sekitar akhir abad ke-7 Masehi

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya: Prasasti Ligor

Prasasti ini dibuat tahun 679 Saka (775 Masehi), ditemukan di Ligor (sekarang bernama Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan). Prasasti ini berupa pahatan di dua sisi, sehingga ada Ligor A dan Ligor B.

Selain peninggalan berupa prasasti, terdapat juga peninggalan budaya berupa tari. Tarian yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya adalah Tari Gending Sriwijaya. Tarian ini masih cukup dilestarikan untuk pagelaran-pagelaran tertentu.

Prasasti yang Ditemukan di Luar Indonesia

Selain prasasti yang ditemukan di Indonesia yang telah dibahas di atas, terdapat beberapa prasasti yang ditemukan dari negara lain. Salah satu contoh prasasti yang ditemukan di luar Indonesia yaitu Prasasti Ligor (775 M) yang ditemukan di daerah Ligor, Semenanjung Melayu, dan Prasasti Nalanda di India Timur. Selain itu, masih terdapat beberapa prsasti lainnya yang bukan berasal dari Indonesia, berikut penjelasannya.

Prasasti Tanjore

Prasasti yang ditemukan di India ini menceritakan tentang serangan yang dilakukan oleh pihak India ke kerajaan Swarnabhumi yaitu daerah kekuasaan Sriwijaya di Sumatera. Penyerangan ini dilakukan pada tahun 1017. Upaya penyerangan kedua kalinya dilakukan pada tahun 1025 yang mana raja Sanggramawijayatunggawarman ditawan oleh pasukan Cola, tapi pada akhirnya dibebaskan.

Prasasti Srilanka

Pada abad ke XII, prasasti ini ditemukan di Srilanka. Di dalamnya berisi penobatan Suryanaraya dari Wangsa sebagai maharaja di Suwarnapura, nama lain dari Sriwijaya. Dalam pemerintahannya, Pangeran Suryanarayana berhasil menaklukkan Manabhramana.

Kehidupan Agama Sriwijaya

Sebagai pusat agama Budha, kehidupan beragama di Kerajaan Sriwijaya sangat hidup dan semarak. Orang dari luar banyak berdatangan ke Sriwijaya untuk belajar Bahasa Sanskerta. Salah satu pendeta yang tersohor pada masa itu adalah Sakyakirti. Oleh karena itu, terdapat beberapa peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berkaitan dengan agama, meliputi: Candi Muara Takus (dekat Sungai Kampar, Riau), Arca Buddha (daerah Bukit Siguntang), dan Wihara Nagipattana (dibangun oleh Sriwijaya di India Selatan)

Kehidupan Ekonomi Sriwijaya

Pada mulanya sumber mata pencaharian rakyat Sriwijaya adalah dengan bertani. Akan tetapi karena kondisi geografis yang dekat dengan sungai Musi dan juga laut, membuat masyarakat untuk berpindah haluan sebagai pedagang. Hal tersebut dikarenakan lokasi yang strategis sebagai perdagangan antar negara yang melalui daerah Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, justru pihak Sriwijaya sangat diuntungkan oleh hal itu.

Selain keuntungan yang didapat melalui perdagangan, terdapat sumber dana lain, yaitu pembayaran pajak bagi kapal yang ingin berlabuh di Kerajaan Sriwijaya untuk menawarkan dagangannya. Hal itu berdampak pada kekuatan ekonomi kerajaan ini yang semakin meningkat di setiap harinya.

Penyebab Kemunduran Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan ini mengalami kemunduran hingga runtuhnya kerajaan Sriwijaya  karena banyak faktor, antara lain :

1. Keadaan Sekitar Pusat Kerajaan Berubah

Keadaan sekitar yang tidak lagi dekat dengan pantai disebabkan oleh aliran Sungai Musi, Ogan, dan Komering banyak membawa lumpur. Hal ini menyebabkan pendangkalan dasar sungai. Kondisi ini menyebabkan aktifitas kapal-kapal dagang menjadi berkurang.

2. Kapal Dagang yang Merapat Menjadi Sedikit

Kondisi ini dikarenakan oleh pendangkalan Sungai Musi yang menyebabkan Kota Palembang tidak lagi strategis dan banyak kapal dagang yang tidak tertarik dan memilih untuk singgah di tempat lain. Karena banyak kapal yang tidak singgah lagi, menjadikan

berkurangnya aktivitas jual-beli dan perdagangan, akhirnya pendapatan kerajaan pun berkurang. Pendapatan terbesar dari pajak kapal pun juga ikut menurun.

3. Daerah Kekuasaan Melepaskan Diri

Karena melemahnya perekonomian, banyak daerah kekuasaan Sriwijaya yang melepaskan diri. Selain itu, melemahnya kekuatan militer juga membuat kerajaan lain berani menyerang. Kurangnya pengawasan karena melemahnya armada militer juga mengakibatkan banyak daerah yang berani untuk melepaskan diri.

4. Serangan dari Kerajaan lain

Tahun 992 Masehi Raja Teguh Dharmawangsa dari Kerajaan Medang menyerang wilayah selatan. Tahun 1017 Masehi, Sriwijaya mendapat serangan dari Colamandala yang dipimpin oleh Raja Rajendracola.

Lalu tahun 1025 Masehi Colamandala mengulangi penyerangan dan menahan Raja Sanggramawijayatunggawarman yang saat itu menjabat sebagai Raja Sriwijaya. Tahun 1275, Kerajaan Singhasari mengadakan Ekspedisi Pamalayu.

Sekitar tahun 1377 Masehi, Kerajaan Majapahit juga melakukan serangan. Serangan ini bertujuan untuk menyatukan Nusantara. Serangan yang dipimpin oleh Adityawarman atas perintah dari Patih Gajah Mada ini berhasil menaklukkan sriwijaya. Serangan inilah yang menjadi penyebab keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

5. Tidak Adanya Pemimpin yang Baik

Faktor yang berpengaruh pada kejayaan suatu kerajaan juga tergantung pada pemegang tahta yaitu raja. Kerajaan ini mengalami kemunduran karena tidak ada yang mampu memimpin kerajaan dengan baik. Sepeninggal Raja Balaputradewa, keadaan di kerajaan semakin melemah dan runtuh secara perlahan. Faktor kepercayaan masyarakat juga menurun, ditambah lagi faktor serangan dari pemberontakan yang terjadi menjadikan kondisi kerajaan menjadi terpuruk.

6. Perkembangan Agama Islam

Agama Islam mulai berkembang dan pesat pada abad ke-12 Masehi dan pengaruh agama Islam di Nusantara semakin lama semakin kuat. Munculnya kerajaan Islam seperti Kerajaan Aceh, Samudra Pasai dan Malaka yang mulai menguasai sebagian wilayah kekuasaan sriwijaya  dan semakin mendominasi membuat kondisi kerajaan semakin lemah.

Begitulah sejarah lengkap Kerajaan Sriwijaya. Yuk, selalu pelajari sejarah sebagai salah satu aspek kekayaan Nusantara, hanya di Museum Nusantara.

Last Updated on Desember 8, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up