Alat Musik Kolintang: Perjuangan Cinta Tong Ting Tang

2 min read

alat-musik-kolintang-hanyaberbagi,com

Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki ciri budaya kesenian masing-masing. Alat musik yang merupakan salah satu produk kebudayaan mampu untuk menjadi identitas khas suatu daerah. Kali ini Munus akan membahas tentang Alat Musik Kolintang yang merupakan identitas kebudayaan berasal dari Sulawesi Utara, tepatnya di daerah Minahasa. 

Sejarah Alat Musik Kolintang

Termasuk instrumen daerah yang keberadaannya sudah tidak asing lagi di penjuru Indonesia, Kolintang memiliki sejarah yang sangat unik. Diceritakan bahwasanya asal-usul dari instrumen khas daerah Sulawesi Utara ini berasal dari sebuah kisah percintaan. Memang terdengar cukup klise, akan tetapi cerita ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah ditemukannya gawai ini.

Dahulu kala di sebuah desa bernama To Un Rano yang saat ini dikenal dengan nama Tonado hiduplah seorang gadis yang kecantikannya tersohor ke seluruh desa. Gadis cantik tersebut bernama Lintang. Memiliki keterampilan menyanyi yang sangat mumpuni yang didukung oleh suara merdu dan nyaring, Lintang menjadi idaman bagi para pemuda kala itu.

Suatu saat diadakan sebuah pesta untuk muda-mudi. Seorang lelaki gagah dan tampan bernama Makasiga jatuh hati pada Lintang, ia merupakan seorang pemuda yang ahli dalam bidang ukir. Ia kemudian berniat untung meminang Lintang, akan tetapi Lintang akan menerima lamarannya dengan satu syarat. Syarat tersebut adalah Makasiga haruslah menemukan alat musik yang suaranya lebih merdu dari suling emas. 

gambar-alat-musik-kolintang-hanyaberbagi,com
Gambar Alat Musik Kolintang, foto oleh Hanyaberbagi. com

Atas permintaan Lintang tersebut, Makasiga pergi berkelana keluar masuk hutan demi menemukan gawai yang diinginkan oleh Lintang. Sebagai penghangat badan di malam hari, Makasiga membelah kayu-kayu untuk dijemur sampai kering. Setelah kering, Makasiga melempar kayu kering tersebut satu-persatu ke tanah. Tak disangka, saat menyentuh tanah, kayu kering tersebut menghasilkan bunyi yang sangat nyaring dan merdu.

Selain Makasiga yang mendengar suara tersebut, dua orang pemburu juga mendengar suara merdu dan nyaring itu. Sehingga mereka melakukan pencarian dari mana sumber suara tersebut berasal. Di sisi lain, Makasiga yang terlalu fokus mencari gawai lupa untuk makan dan minum sehingga menjadi kurus kering hingga kemudian sakit. Dua pemburu yang menemukan Makasiga lalu membawanya kembali ke desa, namun Makasiga tidak dapat bertahan dan meninggal sesampainya di desa. Mendengar hal itu, Lintang merasa sedih hingga kemudian jatuh sakit dan menyusul Makasiga ke alam baka.

Nama Kolintang sendiri berasal dari suara yang dihasilkan, yaitu tong (nada rendah), ting (nada tinggi), dan tang (nada biasa). Ketika mengajak untuk bermain gawai tradisional ini biasanya masyarakat setempat menggunakan bahasa daerah yang berbunyi “Mangemo kumolintang” yang artinya  “Mari kita lakukan tong ting tang”. Dari bahasa daerah tersebutlah nama Kolintang pertama kali tercipta.

Baca juga: Alat Musik Tradisional Sasando: Kebudayaan Asli NTT

Bahan Untuk Membuat Alat Musik Kolintang

Instrumen tradisional Kolintang terbuat dari gong berbahan kayu yang diletakkan sejajar membentuk barisan secara mendatar. Kayu yang dipakai adalah kayu berserat paralel seperti Kayu Telur, Kayu Wenuang, Kayu Cempaka, serta kayu Waru. Kayu-kayu tersebut sebelumnya dipotong kemudian dikeringkan. Setelah kering, barulah kayu-kayu tersebut diletakkan sejajar.

Fungsi Alat Musik Kolintang

Pada awalnya, Alat Musik Kolintang memiliki fungsi untuk upacara adat pemujaan para arwah leluhur. Akan tetapi, setelah masuknya Islam dan Kristen maka beralih fungsi menjadi instrumen tradisional pengiring tarian tradisional, lagu dan musik tradisional. Untuk masa sekarang, penggunaan Kolintang pun sudah agak bervariasi dalam berbagai kegiatan baik tradisional maupun acara biasa.

Beberapa jenis dari Kolintang ditentukan berdasar fungsinya, yakni Kolintang Melodi (ina taweng) yang berfungsi untuk penentu lagu. Kolintang Pengiring yang juga terbagi menjadi empat jenis, yakni Alto (uner/katelu) sebagai pengiring nada tinggi, Tenor (karua) sebagai pengiring nada rendah, Cello (sella) sebagai penentu irama, Pengiring (accompanion) sebagai bass. Dan jenis Kolintang yang terakhir adalah Kolintang Bass berfungsi sebagai penghasil nada rendah (loway).

Cara Memainkan Alat Musik Kolintang

gambar-alat-musik-kolintang-joebillyguitars,com
Gambar Alat Musik Kolintang, foto oleh Joebillyguitars. com

Karena termasuk kelas Marimba yakni alat musik perkusi bernada dengan bilahan yang terbuat dari kayu dan resonator pipa. Oleh karena itu, cara memainkannya yaitu dengan cara dipukul menggunakan dua atau tiga buah tongkat yang juga terbuat dari kayu. Benturan yang terjadi antara tongkat pemukul dan bagian kayu pada perkusi menghasilkan suara yang sangat unik dan merdu untuk didengar telinga. 

Dalam memainkan Kolintang, pemain harus memiliki teknik yang mumpuni. Karena, tenaga yang dipakai ketika memukul Kolintang dapat berpengaruh pada suara yang dihasilkan. Oleh karena itu, orang yang memainkan Alat Musik Kolintang butuh latihan yang berulang dan pengalaman yang mumpuni sehingga dapat tercipta sinkronisasi melodi dari pukulan yang dihasilkan.

Kesimpulan

Sebagai salah satu produk kesenian dari Sulawesi Utara, Alat Musik Kolintang berhasil mencuri perhatian para pecinta musik, khususnya musik tradisional. Instrumen tradisional Kolintang ini merupakan salah satu instrumen tradisional yang terkenal di seluruh nusantara. Oleh karena itu, sebagai bentuk apresiasi hendaknya kita mempelajari mengenai alat musik tradisional ini sehingga kemudian dapat dilestarikan.

Baca juga: Alat Musik Tifa: Produk Asli Kebudayaan Indonesia Timur

Last Updated on Desember 2, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up