Jendral Sudirman: Biografi Singkat Hingga Keteladanan

3 min read

gambar-jendral-sudirman-jurnalposmedia,com

Dalam proses memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tentu banyak tokoh yang ikut serta dalam upayanya. Diantara sekian banyak tokoh pahlawan, kali ini Munus akan menggali informasi mengenai seorang panglima besar pertama di Indonesia, yakni Jendral Sudirman. Sebagai seorang panglima besar, beliau sangat dihormati oleh masyarakat Indonesia pada waktu itu karena semangatnya dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Simak biografi singkat, perjuangan, serta teladan dari Jendral Sudirman di bawah ini.

Biografi Jendral Sudirman Singkat

Dikenal sebagai pahlawan Nasional, seorang Jendral Sudirman dilahirkan di Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916 yang diketahui berkewarganegaraan Indonesia. Beliau lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai seorang buruh di pabrik gula Kalibagor Banyumas, sedangkan Ibunya adalah seorang keturunan Wedana Rembang.

Jendral Sudirman memulai pendidikannya di sekolah Taman Siswa. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah di Wirotomo Muhammadiyah Solo atau sekolah guru, namun tidak sampai tamat. Beliau meneruskan pendidikan terakhirnya di Pendidikan Militer PETA yang berlokasi di Bogor Jawa Barat pada tahun 1943.

gambar-jendral-sudirman-goodnewsfromindonesia,com
Gambar Jendral Sudirman, foto oleh Goodnewsfromindonesia. id

Seorang Jendral Sudirman mengawali karirnya dengan menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah, Cilacap. Beliau dikenal sebagai guru yang sangat adil dan juga sangat sabar dalam mendidik siswa-siswinya dengan cara mengajar  yang humoris sehingga pembelajaran tidak terkesan membosankan. Para siswa pun dapat mengikuti pembelajaran yang disampaikan oleh beliau dengan mudah.

Kemudian beliau menjabat sebagai Komandan Batalyon, Kroya. Dilanjutkan dengan menjadi seorang Panglima Besar V Banyumas, dengan pangkat Kolonel yang disandangnya. Karir terakhir dari seorang Panglima Besar Sudirman adalah menjadi Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jendral. Selain karir yang cemerlang, beliau juga banyak mendapatkan penghargaan dalam sejarah hidupnya. Penghargaan yang pernah diraihnya adalah sebagai Jendral Besar Anumerta Bintang Lima (1997), Jendral Besar Anumerta Bintang Sakti, Jendral Besar Anumerta Bintang Gerilya, Jendral Besar Anumerta Bintang Mahaputra Adipurna, Jendral Besar Anumerta Mahaputra Pratama, Jendral Besar Anumerta Bintang Republika Indonesia Adipradana, dan yang terakhir adalah penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Baca juga: Biodata Lengkap Ki Hajar Dewantara – Bapak Pendidikan

Perjuangan Jendral Sudirman

Perjuangannya dimulai saat Sudirman muda mulai berkecimpung di dunia kemiliteran pada tahun 1943. Beliau bergabung dengan Pasukan Pembela Tanah Air atau yang lebih dikenal sebagai PETA sebagai seorang prajurit. Setelah selesai masa pelatihan, beliau kemudian naik pangkat menjadi shodanco dengan posisi sebagai komandan batalyon PETA di Jawa Tengah. 

Ketika Indonesia sudah merdeka, Sudirman muda bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Saat masih menjadi anggota di TKR, beliau sudah memperlihatkan kehebatannya dengan berhasil merebut senjata Jepang dalam pertempuran Banyumas, Jawa Tengah. Berkat prestasinya itu, orang yang akrkrab disapa Sudirman ini diangkat sebagai Panglima Divisi V yang berpangkat sebagai kolonel.

Perang besar pertama yang diikuti oleh Sudirman muda adalah perang Palagan Ambarawa dimana beliau harus bertempur melawan tentara Inggris dan NICA. Pertempuran tersebut terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama, yaitu dari bulan November-Desember 1945. Pertempuran ini membuahkan kemenangan bagi pihak Indonesia.

Melihat banyak prestasi membanggakan dari seorang Sudirman, Presiden Soekarno kemudian mengangkatnya sebagai Jendral pada tanggal 18 Desember 1945. Seiring berjalannya waktu, beliau kemudian dianugerahi pangkat sebagai Panglima Besar. Tempat pengkhidmatan tersebut adalah di Gedung Agung Yogyakarta bertepatan pada tanggal 28 Juni 1949.

Gambar-jendral-sudirman-youtube-sudut-istana
Gambar Jendral Sudirman, foto oleh Youtube-Sudut Istana

Saat terjadi agresi militer Belanda yang ke 2, yaitu masuknya pasukan Belanda ke Indonesia dan berhasil menguasai Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Pada saat itu, Jendral Sudirman sedang sakit dan hanya bisa melihat pesawat-pesawat Belanda lalu lalang dari rumahnya. Mendengar kabar bahwa para petinggi di Yogyakarta sudah ditangkap, dr. Suwondo menyarankan agar beliau segera meninggalkan Yogyakarta sebelum tentara Belanda menyerangnya. 

Penyakit Tuberkulosis yang diderita oleh beliau tidak memungkinkan baginya untuk berjalan kaki dalam pelariannya. Oleh karena itu, para pengikut setianya membawa beliau dengan cara ditandu. Perjalanan panjang dalam pelariannya banyak mengalami hambatan karena banyak mata-mata Belanda yang berkeliaran. Selama perjalanannya itu beliau menggunakan nama samaran sebagai Bapak Gedhe Abdullah Lelono Putra atau Pakdhe. 

Dalam perjalanan gerilya tersebut, Panglima Besar Sudirman dengan nama samarannya mulai menyusun rencana dan mengirimkan surat untuk strategi gerilyanya. Dengan nama samarannya beliau lebih leluasa untuk bertemu kurir dalam perencanaan strateginya. Inilah yang menjadi surat penting dalam menyusun strategi perang gerilya pada serangan 1 Maret 1949. Singkat cerita, beliau berhasil membuktikan pada dunia bahwa kekuatan militer Indonesia masih kuat dan dapat bertempur melawan penjajah. 

Ketika beliau kembali ke Yogyakarta dan bertemu presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta. Dalam kesempatan itu beliau mengatakan hal yang sangat penting dan mengejutkan, yaitu bahwasanya Bangsa Indonesia tidak boleh lagi berada dalam kekuasaan penjajah, Indonesia harus bisa berdaulat dengan kekuatan rakyat. Oleh karena itu, Indonesia haruslah merdeka sepenuhnya dari penjajahan bangsa asing.

Keteladanan Jendral Sudirman

Gambar-jendral-sudirman-tempatwisata,pro
Gambar Jendral Sudirman, foto oleh Tempatwisata. pro

Seperti yang telah anak nusantara ketahui, saat agresi militer Belanda yang ke 2 Jendral Sudirman sedang tidak dalam kondisi prima. Namun, karena semangat juang dan kecintaannya terhadap negeri membuatnya tetap turut serta dalam melawan bangsa penjajah. Semangat juang dan cinta terhadap Negeri ini lah yang patut dicontoh oleh generasi muda penerus bangsa saat ini.

Selain itu, kepercayaan Jendral Sudirman kepada rakyat Indonesia tentunya sangat berpengaruh dalam proses mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kata-kata beliau yang menyatakan bahwasanya rakyat Indonesia lah yang berperan penting dalam mewujudkan Indonesia yang bebas dari penjajah membuat rakyat dapat menaruh kepercayaannya. Pelajaran yang dapat diambil dari hal tersebut adalah semua komponen itu memiliki fungsinya masing-masing dan tidak ada yang sia-sia. Jadi harus saling menghargai antar sesama tidak peduli dengan jabatan yang dipegang.

Kesimpulan

Jendral Sudirman atau yang biasa dipanggil akrab dengan sebutan Pak Dirman merupakan salah satu pahlawan yang ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yaitu dengan cara mengusir tentara belanda yang belum rela atau belum mau mengakui bahwa Indonesia telah Merdeka. Beliau merupakan salah satu Panglima dan Jendral RI yang pertama dan termuda dari sekian banyak Pahlawan Revolusi Nasional Indonesia. Dikenal sebagai pejuang yang sangat gigih dan teguh dalam memegang prinsip di usianya yang masih terbilang muda, yaitu pada usia 31 tahun, beliau sudah diangkat menjadi seorang Jendral. 

Baca juga: Hari Pahlawan 2020: Mengenang Pertempuran Ambarawa

Last Updated on Desember 7, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up