Meganthropus Paleojavanicus

2 min read

Meganthropus-Paeleojavanicus

Apa anak nusantara tau bahwa ada manusia purba yang hidup jutaan tahun yang lalu? Menurut sejarah, ada manusia purba tertua yang hidup pada 2 juta tahun yang lalu. Namanya adalah Meganthropus Paleojavanicus. Penemunya adalah seorang ahli paleontologi. Kehidupan manusia tertua ini ditemukan di daerah Sragen, tepatnya di situs Sangiran.

Bahkan menurut para ahli, manusia purba tertua adalah Meganthropus Paleojavanicus, bukan Pithecanthropus Erectus. Wah menarik ya untuk dibahas. Munus telah sajikan pembahasan tentang sejarah penemuan, klasifikasi, dan ciri-ciri.

Sejarah Penemuan Meganthropus Paleojavanicus

Fosil manusia purba jenis ini ditemukan pertama kali oleh Gustav Heinrich Ralph Von Koenigswald. Ia adalah seorang ahli paleontologi dari Jerman. Penemuan pertama pada tahun 1936 dan penelitian berakhir pada tahun 1941. Fosil ini ditemukan di situs Sangiran. Fosil yang ditemukan pertama kali adalah rahang bawah dan rahang atas. 

Von Koenigswald pertama kali menyebut manusia purba ini “Meganthropus Palaeojavanicus” artinya adalah manusia raksasa dari Jawa. Mega sendiri berarti besar, Anthropus berarti manusia. Lalu, paleo berarti tertua dan Javanicus berarti berasal dari Jawa. Jadi, Meganthropus Paleojavanicus artinya manusia bertubuh besar tertua di Jawa yang diperkirakan hidup pada zaman Paleolitikum sekitar 1-2 juta tahun yang lalu.

Klasifikasi Ilmiah Meganthropus Palaeojavanicus

Berikut rincian klasifikasi yang ditemukan oleh peneliti:

Klasifikasi IlmiahJenis
Kingdom Animalia
Filum Chordata 
Class Mamalia 
Ordo Primata 
Family Hominidae
Genus Homo
Spesies dan nama trinomialHomo erectus paleojavanicus

Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus

Manusia purba, Meganthropus Paleojavanicus, foto oleh zonapenemuan,blogspot,com

Berikut ciri-ciri meganthropus paleojavanicus yang telah dirangkum oleh para peneliti:

  • Rahang bawah tebal dan kuat
  • Tubuhnya sangat tegap 
  • Tulang pipi menonjol
  • Tulang ubun-ubun pendek
  • Bentuk geraham menyerupai geraham manusia
  • Kening nya tebal dan menonjol
  • Otot kunyah dan gigi yang kuat
  • Volume otak 900cc
  • Tinggi rata rata sekitar 2,5 meter
  • Bagian mulut menonjol namun tidak memiliki dagu
  • Bentuk hidung cenderung melebar
  • Cara berjalannya agak membungkuk dengan tangan menyangga tubuh, tangan juga lebih panjang daripada kaki

Cara Hidup Meganthropus Paleojavanicus

Cara hidup mereka masih sangat primitif. Mereka hidup pada zaman Paleolitikum atau masa batu besar. Mereka tidak memakan daging, dan cenderung vegetarian. Mereka memakan tumbuhan dan buah buahan yang ada di daerah tersebut, lalu dikumpulkan atau disebut dengan food gathering. Peralatan memasak mereka menggunakan pecahan batu yang menyerupai kapak. 

Cara hidup mereka nomaden, karena mereka bertahan hidup lewat makanan dan akan berpindah tempat jika sumber makanan di tempat itu habis. Mereka juga berpindah tempat karena musim. Jika musim kemarau datang, mereka akan tinggal di dekat sumber air yang memadai. Umumnya mereka tinggal di gua dan berkelompok. 

Penemuan Fosil Meganthropus Paleojavanicus

Meganthropus seringkali dikaitkan dengan Homo Erectus karena beberapa penemuan yang ditemukan berbarengan dengan artefak yang sama pada penemuan Homo Erectus. Berikut adalah beberapa penemuan fosil yang diduga berkaitan dengan meganthropus :

Sangiran 6A / Meganthropus A

Meganthropus A / Sangiran 6 adalah penemuan fragmen rahang yang sangat besar. Pada tahun 1942, Von Koenigswald adalah orang yang pertama kali menemukan rahang ini. Tetapi saat perang dunia II, ia ditangkap oleh Jepang. Namun ia sempat mengirimkan fosil tersebut pada Franz Weidenreich. Tahun 1945, weidenreich melanjutkan penelitian. Ia menyatakan bahwa rahang tersebut adalah rahan terbesar yang pernah ia lihat. Dikatakan bahwa besarnya menyerupai rahan gorila. Setelah diteliti lebih lanjut, ada kemungkinan bahwa ukuran meganthropus lebih besar dari gorila dewasa.

Fosil manusia purba, Meganthropus Paleojavanicus, foto oleh cerdika,com

Sangiran 8 / Meganthropus B

Penemuan fosil berupa potongan tulang rahang yang ditemukan oleh Marks tahun 1953. Ciri-ciri meganthropus paleojavanicus pada rahang ini memiliki ukuran dan bentuk yang hampir serupa dengan penemuan rahang bawah asli yang sudah rusak. Fosil ini adalah tulang rahang dewasa, ukurannya lebih kecil dari homo erectus.

Sangiran 33/ Meganthropus C

Fosil ini ditemukan pada tahun 1979. Penemuan berupa potongan tulang rahang ini memiliki ciri-ciri meganthropus paleojavanicus yang memiliki kesamaan dengan temuan rahang sebelumnya. Tetapi tampaknya keterkaitan fosil ini dengan meganthropus menjadi yang paling lemah dari penemuan sebelumnya. 

Meganthropus D

Penemuan fosil pada tahun 1993 oleh Sartono berupa tulang rahang dan ramus. Diperkirakan usia fosil antara 1,4 hingga 0,9 juta tahun yang lalu. Bagian ramus mengalami kerusakan, sedangkan tulang rahang bawahnya masih bagus walaupun detail gigi hilang. Ukuran fosil lebih kecil tetapi bentuknya serupa dengan Meganthropus A. Tampaknya Meganthropus A dan D berasal dari spesies yang sama

Sangiran 27 / Meganthropus I

Fosil ini digambarkan berupa tengkorak yang hampir utuh namun ada bagian yang hancur. Spesimen Tyler ini memiliki ciri-ciri punggung nuchal yang tebal dan tidak memiliki jendolan ganda yang hampir bertemu.

Sangiran 31 / Meganthropus II

Meganthropus II ditemukan tahun 1982 oleh Sartono. Ia menjelaskan tentang fragmen tengkorak yang utuh pertama kalinya. Kemudian analisis Tyler menyimpulkan bahwa ukuran tengkorak berada di luar batas normal homo erectus. Ciri-ciri meganthropus paleojavanicus yaitu bentuk tengkorak lebih dalam, memiliki kubah lebih rendah dan lebih lebar dari fosil yang pernah ditemukan sebelumnya. 

Meganthropus III

Fosil ini memiliki kaitan yang lemah dengan meganthropus. Penemuan nya adalah bagian posterior dari tengkorak hominid, yang diperkirakan berukuran 7-10 cm. Pada tahun 1996, Tyler menggambarkan ia menemukan sudut oksipital dari tengkorak sekitar 120 derajat. Menurutnya itu adalah rentang ukuran milik homo erectus. Namun pihak berwenang masih meragukan temuan tersebut.  

Last Updated on Oktober 19, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up