Moh Hatta: Biografi Sang Proklamator dan Manusia Jam

6 min read

Foto Moh Hatta

Drs. H. Mohammad Hatta atau yang lebih populer dengan panggilan Moh Hatta atau Bung Hatta adalah wakil presiden pertama RI dan salah satu sosok yang berjasa dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Bersama Ir. Soekarno, beliau berada di garis terdepan dalam memperjuangkan hak Indonesia untuk lepas dari tangan penjajah.

Tak banyak yang tahu pula jika beliau adalah salah seorang dari golongan pergerakan kemerdekaan yang ditakuti pada zamannya.

Bung Hatta yang juga seorang negarawan, politikus, serta ekonom tak pernah lelah untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik setelah lepas dari penjajahan. Hingga kini, jiwa dan jasa beliau akan selalu diingat oleh masyarakat Indonesia, terlebih setiap peringatan HUT RI yang selalu dirayakan seluruh rakyat Indonesia pada 17 Agustus setiap tahunnya.

Sebagai bentuk mengenang kehidupan dan jasanya, Munus merangkum biografi Moh Hatta lengkap dengan peran serta beliau selama pergerakan kemerdekaan Indonesia. 

Kelahiran dan Masa Kecil

Moh Hatta yang akrab dipanggil Bung Hatta lahir di Fort de Kock (kini Kota Bukittinggi) pada 12 Agustus 1902 dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Moh Hatta merupakan anak kedua dari 6 bersaudara yang lahir dengan nama Muhammad Athar. Beliau lahir dan besar di tengah keluarga yang taat dalam ajaran agama Islam dan paham tentang dunia perdagangan. 

Sebenarnya, Bung Hatta hanya memiliki kakak kandung bernama Rafiah. Namun saat beliau baru berusia 7 bulan, sang ayah, Muhammad Djamil, meninggal dunia. Sehingga, ibunya menikah lagi dengan seorang pedagang asal Palembang yang bernama Agus Haji Ning. Dari pernikahan ibunya yang kedua, Hatta memiliki 4 adik perempuan. 

Kehidupan Keluarga Moh. Hatta

Sebagai pelengkap biografi Moh Hatta, Munus juga akan menjelaskan kehidupan pernikahannya secara singkat. Setelah peran sertanya dalam membawa Indonesia ke kemerdekaan dan menjadi wakil presiden pertama RI, Hatta menikah dengan seorang wanita cantik bernama Siti Rahmiati yang akrab dipanggil Rahmi Hatta pada 18 November 1945 yang dilangsungkan di Bogor, Jawa Barat.

Hanya berselang 3 hari setelah resmi menjadi sepasang suami istri, Hatta membawa Rahmi ke Yogyakarta. Di Yogyakarta lah menjadi tempat berdirinya sebuah keluarga harmonis yang dikaruniai 3 anak perempuan. Ketiga anaknya bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Pendidikan Moh. Hatta

Beliau pertama kali merasakan indahnya dunia pendidikan saat masuk ke Sekolah Dasar Melayu Fort de Kock. Lalu ia melanjutkan pendidikan di sekolah swasta. Selama disana beliau sempat satu kelas dengan sang kakak, Rafiah. Pendidikan Moh Hatta harus berhenti pada pertengahan semester di tahun ketiga ia bersekolah. 

Kehidupan pendidikan Moh Hatta tak berhenti sampai disitu. Beliau pindah ke ELS (sekolah peranakan Eropa) di Padang hingga tahun 1913 dan lanjut sekolah ke MULO (setara SMP) hingga tahun 1917. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya ke Prins Hendrik School hingga tahun 1921. 

Bung Hatta sempat akan meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Al Azhar, Mesir untuk kepentingan warisan surau (masjid) milik keluarganya. Namun niat itu diurungkan lantaran digantikan oleh sang paman, Idris. Sehingga beliau memilih melanjutkan pendidikannya di Handels Hogeschool (sekarang Universitas Erasmus Rotterdam) selama tahun 1921-1932. 

Selain pendidikan formal, Bung Hatta juga memperdalam ilmu agama ke Abdullah Ahmad, Muhammad Jamil Jambek, dan ulama-ulama lainnya. Beliau juga belajar tentang sistem perdagangan yang ada di sekitarnya. Berkat relasi-relasi dalam perdagangan, beliau mengenal beberapa pedagang yang masuk organisasi Serikat Oesaha dan beliau aktif sebagai bendahara organisasi Jong Sumatranen Bond (perkumpulan pemuda-pemuda Sumatera). 

Peran Penting untuk Indonesia (sebelum-sesudah kemerdekaan)

Merintis pengalaman politik (Belanda, 1921-1932)

Selama menuntut ilmu di Belanda, beliau tidak hanya fokus untuk terus belajar formal. Hatta sempat bergabung ke dalam organisasi sosial bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) dan berperan sebagai bendahara pada tahun 1923. Bersama Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Cipto Mangunkusumo, beliau membangun perhimpunan tersebut menjadi organisasi politik yang berpengaruh pada masanya. 

Perjuangan Moh Hatta selama bergabung di organisasi tersebut tidaklah mudah. Beliau diamanahi untuk menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia pada tahun 1926-1927. Selama kepemimpinannya, organisasi tersebut lebih fokus untuk memperjuangkan pergerakan di Indonesia dengan cara rajin berkomentar dan memberikan banyak ulasan di media massa Indonesia. Sehingga masyarakat dapat lebih terbuka pandangannya dengan keadaan Indonesia.

Bung Hatta menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia untuk kedua kalinya pada tahun 1928-1931. Namun setelah jabatannya berakhir, Perhimpunan Indonesia jatuh ke tangan komunis yang terpengaruh oleh partai komunis Belanda dan Moskow. Sehingga organisasi yang seharusnya sebagai bentuk perjuangan pergerakan pemuda Indonesia di Belanda terpengaruh untuk mengecam kebijakan-kebijakan yang dibuat Bung Hatta yang berakibat keluarnya Hatta dari organisasi. Pada tahun 1932 Bung Hatta kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Belanda.

Masa Pengasingan (1932-1941)

Perjuangan Moh Hatta semakin rumit sekembalinya ke Indonesia. Pada tanggal 25 Februari 1934 ia dan Sutan Syahrir ditangkap pasukan Belanda dan diasingkan ke Digul, Papua, selanjutnya ke Banda Neira, Maluku. Selama di pengasingan Digul, Bung Hatta bersikap tenang dan tetap produktif untuk membaca buku-buku yang ia bawa. 

Tidak hanya menghabiskan waktu untuk membaca buku, beliau rajin bercocok tanam dan memberikan pelatihan kepada tahanan lainnya. Karena tidak ingin menghabiskan waktu dengan merasa nestapa di pengasingan, Hatta menulis surat yang ia kirimkan kepada iparnya untuk minta dikirimkan alat-alat seperti paku, palu dan gergaji.

Tak lupa ia menceritakan nasib teman-teman tahanannya yang ia pikir harus dibaca oleh masyarakat Indonesia saat itu. Firasatnya pun benar, iparnya sengaja mengirim surat Hatta ke koran Pemandangan di Jakarta. Setelah diterbitkan di koran, surat tersebut dibaca oleh Colijin, menteri jajahan saat itu. Colijn marah dengan pemerintah dan mengirim residen Ambon untuk segera bertemu dengan Bung Hatta.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada Februari 1937 ia dan Sutan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira. Mereka berdua menyewa rumah yang cukup besar dengan beberapa kamar dan ruangan yang cukup luas. Selama di Banda Neira, Hatta tetap rutin bercocok tanam dan menulis di beberapa media cetak koran. Selain itu tak lupa beliau mengajar beberapa pemuda mengenai ekonomi dan sejarah.

Selama di Banda Neira, perjuangan Moh Hatta tidaklah main-main. Pada tahun 1941 beliau menulis artikel di koran Pemandangan dimana artikel tersebut mengajak rakyat Indonesia untuk tidak mudah memihak kaum Barat ataupun Jepang. 

Masa Penjajahan Jepang (1942-1945)

Perang Pasifik pecah yang disebabkan angkatan perang Jepang selama pengasingan Bung Hatta, tepatnya pada 8 Desember 1941. Peperangan tersebut membuat Jepang dengan cepat menguasai beberapa negara termasuk Indonesia.

Mengetahui hal itu, pihak Belanda yang ada di Indonesia mengamankan keadaan daerah kekuasaannya dengan berbagai cara. Termasuk yang dilakukannya pada Hatta dan Sutan Syahrir. Bersama dengan beberapa tahanan lainnya, beliau dan Sutan Syahrir dibawa ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Hatta bertemu dengan Jenderal Harada. Hatta ditawari posisi penting di pemerintahan, namun ditolak. Beliau malah meminta untuk menjadi penasihat. Akhirnya beliau diberi posisi sebagai penasihat pemerintah yang diberi kantor di Pegangsaan Timur. Alih-alih memberi nasihat yang menguntungkan pihak Jepang, Hatta memanfaatkan posisinya untuk membela kepentingan Indonesia.

Persiapan Kemerdekaan Indonesia (1945) 

Pada 22 Juni 1945, Hatta bergabung ke dalam panitia penyusunan dasar negara Indonesia bentukan BPUPKI yang bernama Panitia Sembilan. Kemudian pada 9 Agustus 1945, beliau bersama Soekarno dan Radjiman Wedyodiningrat pergi ke Dalat, Vietnam dalam pelantikan dirinya sebagai Wakil Ketua PPKI dan Soekarno sebagai Ketua PPKI. Sekembalinya dari Vietnam, tepatnya pada 16 Agustus 1945, beliau diculik oleh golongan muda ke Rengasdengklok. Penculikan tersebut terjadi dalam rangka mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Menjadi Wakil Presiden Pertama RI (1945-1956)

Setelah melalui berbagai perdebatan dengan golongan muda, akhirnya pada 17 Agustus 1945 beliau bersama Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pada pukul 10.00 WIB. Kemudian beliau diresmikan sebagai Wakil Presiden Pertama RI pada 18 Agustus 1945 mendampingi Soekarno.

Selama menjadi wakil presiden, Hatta terkenal gigih serta pantang menyerah demi tercapainya segala cita-cita Indonesia setelah kemerdekaan. Terbukti dari perjuangan Moh Hatta dalam mempertahankan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville dari tangan pihak yang berusaha menjatuhkan Indonesia. 

Pada 12 Juli 1947, Hatta mengadakan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya. Semenjak itu setiap tanggal 12 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi Indonesia. Kongres kedua di Bandung pada 12 Juli 1953 juga dilaksanakan dengan agenda penetapan Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Bung Hatta juga berperan dalam pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada 27 Desember 1949 hasil Konferensi Meja Bundar yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda. Sejak saat itu, negara Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Hatta sebagai Perdana Menteri RIS sekaligus Menteri Luar Negeri RIS yang hanya bertahan selama setahun. Status negara yang awalnya RIS menjadi Republik Indonesia dengan Bung Hatta sebagai wakil presiden pertama RI lagi hingga tahun 1956.

Berjasa Hingga Masa Pensiun (1956-1980)

Saat pemerintah Indonesia mengusut masalah korupsi, Bung Hatta yang telah pensiun dari posisi wakil presiden diangkat menjadi Penasehat Presiden bersama Komisi Empat pada 31 Januari 1970. Selain itu beliau juga diangkat sebagai Anggota Dewan Penasehat Presiden semasa pemerintahan Presiden Soeharto. Kemudian pada tahun 1975, Hatta juga menjadi Ketua Panitia Lima yang bertugas menyesuaikan Pancasila dengan UUD 1945. Walaupun beliau sedang sakit yang mana harus beristirahat, semangat perjuangan Moh Hatta untuk Indonesia masih tinggi.

Sebutan Moh. Hatta: “Manusia Jam”

Bagi orang-orang yang pernah bekerja dengan Hatta, sebutan “Manusia Jam” akan melekat pada dirinya. Perlu Anak Nusantara ketahui bahwa Bung Hatta terkenal dengan kedisiplinannya terhadap waktu. Hal itup un dirasakan langsung oleh seorang jurnalis bernama Mochtar Lubis. Ia bercerita bahwa jika sudah membuat janji dengan Hatta maka harus tepat waktu. Apabila tidak tepat waktu maka kita akan tidak enak hati untuk mengagendakan pertemuan lagi. Ia juga bercerita bahwa Bung Hatta tidak segan-segan menegur hingga memarahi orang yang tidak disiplin waktu. 

Wafatnya Moh Hatta

Setelah mengundurkan diri dari posisinya sebagai Wakil Presiden Pertama RI, Bung Hatta jatuh sakit. Beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit dalam negeri maupun luar negeri. Beliau harus bolak balik masuk rumah sakit sejak tahun 1963 hingga 1980. 

Hingga akhirnya perjalanan hidup Sang Proklamator Indonesia harus terhenti di usia 77 tahun tepat pada 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sebelum meninggal beliau berjuang melawan sakit yang ia derita selama 11 hari. Setelah sehari disemayamkan di rumahnya yang berada di Jalan Diponegoro No.57 Jakarta, jasad sang pahlawan proklamasi Indonesia dikebumikan di TPU Tanah Kusir Jakarta.

Kalimat Inspiratif Moh Hatta

Setelah meneladani perjalanan hidup yang tertuang pada biografi Moh Hatta di atas, berikut ini beberapa kalimat inspiratif yang bisa Anak Nusantara teladani di tengah era modern ini. 

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar,
Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman.
Namun tidak jujur akan sulit diperbaiki.”

Moh. Hatta

Kalimat tersebut memiliki makna bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang lebih berharga daripada sebuah kejujuran.

“Pahlawan yang setia itu berkorban,
Bukan untuk dikenal namanya,
Tetapi semata-mata untuk membela cita-cita.”

Moh. Hatta

Kalimat tersebut memiliki makna bahwa sesungguhnya kita boleh menjadi orang paling baik dan paling berjasa untuk orang lain. Namun sebagai generasi muda harus sadar untuk mensejahterakan kaum sesama demi cita-cita dan harapan yang lebih baik.

“Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah, tidak seperti kalian nanti.
Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri.”

Moh. Hatta

Kalimat tersebut memiliki makna bahwa sesungguhnya perjuangan rakyat Indonesia setelah merdeka lebih berat karena harus mampu melawan saudara bangsa sendiri, melawan KKN dan pemberontak negara.

“Keberanian bukan berarti tidak takut,
Keberanian berarti menaklukkan ketakutan.”

Moh. Hatta

Kalimat tersebut memiliki makna bahwa jangan pernah menyerah karena takut, apapun masalahnya kita harus berani menghadapinya.

Baca juga: Peristiwa Rengasdengklok: Agenda Genting Pra-Proklamasi Kemerdekaan RI

Last Updated on Oktober 15, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up