Hari Raya Nyepi di Bali, Tradisi Leluhur Umat Hindu

2 min read

nyepi

Last Updated on November 9, 2020 by Icha

Halo anak nusantara! Kali ini kita akan mengulas tentang keunikan tradisi nyepi yang diadakan di Bali. Kalian sudah tau bukan apa itu nyepi? Nyepi adalah tradisi yang dilakukan umat hindu. Tak hanya di Bali, seluruh umat hindu juga merayakan hari raya nyepi ini.

Lalu seperti apa ya kemeriahan hari raya yang ada di Bali ini, penasaran bukan? Langsung saja kita simak penjelasan dibawah ini!

Pengertian Tradisi Nyepi

Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang diadakan pada tahun baru saka. Nyepi sendiri memiliki arti sunyi, lengang, senyap. Saat hari raya nyepi, tidak ada kegiatan yang dilakukan. Tujuan utama nyepi adalah memohon kepada tuhan untuk mensucikan diri dan mensucikan alam semesta. Tradisi ini bukan hanya sebagai hari raya, namun juga sebagai bentuk pelestarian budaya. 

Baca Juga : Pura Besakih Bali

Keunikan Tradisi Hari Raya Nyepi

Nyepi di Bali, Tradisi Leluhur Umat Hindu, foto oleh lagianbeachbali.com

Sebelum puncak nyepi, terdapat beberapa tradisi yang bisa kita temui. Beragam kegiatan dilaksanakan untuk menyambut hari raya nyepi. Berikut rangkaian kegiatannya:

Upacara Melasti

Melasti adalah upacara penyucian diri bagi umat Hindu yang dilakukan untuk menyambut hari raya nyepi. Upacara melasti juga bisa dikatakan sebagai kegiatan sembahyang di laut. Upacara ini juga  disebut dengan Melis/Mekiyis. Melasti berasal dari kata Mala dan Asti yang berarti menghilangkan segala hal buruk. Melasti dilaksanakan dua sampai tiga hari sebelum hari raya nyepi. Saat pelaksanaan upacara, semua umat Hindu berbondong-bondong menuju ke pantai dengan membawa sesajen untuk persembahan dan arca sebagai simbolis Tuhan untuk disucikan dan pensucian pikiran. Biasanya upacara ini dilaksanakan pada pagi hari atau malam hari.

Tawur Kesanga

Tawur kesanga atau tawur agung atau pecaruan adalah ritual upacara yang dilakukan sehari menjelang puncak hari nyepi. Ritual ini jatuh pada hari tilem sasih kesanga atau bulan mati kesembilan. Kegiatan ini bertujuan untuk mensucikan alam semesta dari buta kala dan malapetaka serta meningkatkan hubungan keharmonisan antara sesama manusia, lingkungan dan tuhan. Tawur sendiri diartikan sebagai mengembalikan sari sari yang telah digunakan manusia.

Tawur kesanga dilakukan setiap tingkatan wilayah. Mulai dari masing masing keluarga sampai tingkatan provinsi di pura besakih. Caru yang dilaksanakan di rumah dilengkapi dengan sesajen seperti ayam, bebek, angsa, sapi dan lainnya. Pelaksanaan caru harus selesai dilakukan sebelum pengerupukan. Pecaruan dilakukan pagi atau siang hari.

Pengerupukan dan Pawai Ogoh-Ogoh

Tradisi nyepi: pawai ogoh-ogoh, foto oleh punapibali,com

Pengerupukan dilaksanakan saat petang atau malam hari setelah pecaruan. Pengerupukan dilakukan dengan membawa obor keliling desa atau kota oleh muda mudi serta memukulkan kentongan untuk membuat suara gaduh dan ramai dengan tujuan untuk mengusir buta khala dari lingkungan sekitar. 

Saat berada di Bali kita bisa menemukan upacara pengerupukan yang dilakukan dengan mengarak ogoh-ogoh keliling desa. Ogoh-ogoh adalah perwujudan dari buta khala. Ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan tujuan membawa semua hal buruk pergi bersama ogoh-ogoh tersebut. Setelah selesai diarak, ogoh-ogoh kemudian dibakar dan dihancurkan. Pelaksanaan pengerupukan tidak sampai tengah malam agar tidak mengganggu persiapan nyepi keesokan harinya.

Catur Brata Penyepian

Catur brata penyepian adalah puncak hari raya nyepi. Hari raya nyepi ini jatuh pada tanggal 1, bulan 10 (penanggal pisan, sasih kedasa). Dilaksanakan selama 24 jam mulai jam 06.00 pagi sampai 06.00 keesokan harinya. Selama hari raya ini, semua umat hindu tidak boleh melakukan kegiatan apapun selain yang berguna untuk mensucikan jiwa. 

Pada hari tersebut, umat hindu melaksanakan empat pantangan catur brata penyepian  yang terdiri dari amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Amati geni berarti tidak menyalakan api atau tidak berapi-api. Amati karya berarti tidak bekerja atau melakukan aktivitas, termasuk makan dan minum. Amati lelungan berarti tidak bepergian sekalipun keluar rumah. Amati lelanguan berarti tidak mendengarkan hiburan seperti mendengarkan musik, menonton tv, atau bermain game. Dengan melaksanakan catur brata ini, umat hindu diharapkan dapat fokus untuk kembali pada jati diri dengan perenungan dan meditasi.   

Ngembak Geni dan Omed-omedan

Rangkaian upacara yang terakhir yaitu ngembak geni. Ngembak geni berarti bebas menyalakan api atau bebas beraktivitas lagi. Saat ngembak geni, umat Hindu juga bersembahyang sebagai wujud rasa syukur dan memohon untuk pelindungan dan kebaikan. Pada hari ini, umat hindu juga melakukan dharma shanti yaitu saling bersilaturahmi dan memaafkan satu sama lain.

Selain ngembak geni, ada juga tradisi unik lainnya yaitu omed-omedan. Bisa ditemukan di daerah denpasar. Tradisi ini diikuti oleh pemuda dan pemudi yang belum menikah. Tradisi dimulai dengan pertunjukan tarian barong bengkung. Kemudian dilanjutkan dengan sembahyang bersama di pura, lalu dibagi kelompok perempuan dan kelompok laki laki. Setelah mendapat aba-aba dari seorang sesepuh, mereka saling bertabrakan dan disiram air. Mereka bisa saling berpelukan dan mencium pipi. Tradisi unik saat nyepi  ini bermakna sebagai ungkapan rasa syukur, kebahagiaan dan rasa persaudaraan. 

Baca Juga Tradisi Ogoh-ogoh Bali dan Kisah Magis Umat Hindu

Duanda Rizda Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up