Sejarah G30S PKI: Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu)

5 min read

Patung Para jenderal yang menjadi korban peristiwa G30S/PKI

Tahukah kalian peristiwa apa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965? Pada tanggal tersebut terjadi peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai G30S/PKI. Tragedi ini juga disebut dengan “Gestapu” (Gerakan September Tiga Puluh). Peristiwa G30S PKI ini merupakan bentuk kudeta dan menewaskan tujuh perwira tinggi militer yang dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Kali ini Munus akan menjelaskan kisah sejarah G30S/PKI bermula dari latar belakang hingga kronologisnya secara lengkap. 

Sejarah G30SPKI: Latar Belakang

PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah salah satu partai komunis terbesar di dunia. Pada tahun 1965 anggota PKI berjumlah sekitar 3,5 juta dan ditambah lagi 3 juta pergerakan pemudanya. PKI banyak mengontrol organisasi, salah satunya adalah pergerakan serikat buruh dan pergerakan wanita (Gerwani). PKI juga mempunyai lebih dari 20 juta anggota serta pendukung. Berikut ini rangkuman beberapa kejadian yang melatarbelakangi kejadian G30S PKI :

1. Angkatan Kelima

Angkatan kelima adalah gagasan dari PKI yang mempunyai keinginan untuk mempersenjatai kaum buruh dan kaum petani. Gagasan ini muncul karena situasi politik yang saat itu sedang membingungkan dan rumit. Tentu saja gagasan ini membuat TNI AD geram jika ide ini benar dilaksanakan. Angkatan kelima dapat diandalkan oleh PKI untuk merebut kekuasaan, seperti di Rusia dan Cina.

Adanya penolakan gagasan Angkatan Kelima membuat hubungan PKI dan Angkatan Darat menjadi sengit. Situasi semakin panas saat PKI ikut melatih sukarelawan dari Gerwani dan Pemuda Rakyat (Organisasi bentukan PKI). padahal sebelumnya, PKI mengatakan akan melatih semua kalangan. Perkembangan nasionalisme di Indonesia lama kelamaan berubah menjadi perkembangan komunis karena metode pelatihan PKI seperti metode latihan militer di Cina.

2. Masalah Tanah dan Bagi Hasil

Pada tahun 1960, muncul UUPA (Undang Undang Pokok Agraria) dan UUBH (Undang Undang Pokok Bagi Hasil). Meskipun Undang Undang sudah ada, tetapi tetap saja masih ada perselisihan antara pemilik tanah dan petani. Contohnya adalah Peristiwa Bandar Betsi. Bandar Betsi adalah sebuah peristiwa dimana PKI melakukan aksi sepihak dan berusaha merampas tanah milik negara.

3. Bung Karno Sakit

Kabar Soekarno sakit muncul pada tahun 1964 sampai terjadinya Gestapu. Masyarakat mulai membicarakan siapa yang pantas mengemban kekuasaan selanjutnya jika Soekarno meninggal. Namun menurut Subandrio, Aidit mengetahui penyakit Bung Karno tidak parah.

4. Adanya Gerakan Ganyang Malaysia

Gerakan Ganyang Malaysia terjadi karena Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman menginjak lambang negara Indonesia dan membuat Bung Karno murka sehingga meneriakkan seruan Ganyang Malaysia. Namun perintah ini tidak ditanggapi oleh petinggi militer dikarenakan kekuatan Malaysia yang dibantu Inggris kuat saat itu. Tentu saja, momen ini dimanfaatkan PKI untuk mendekati Soekarno. Selain bisa dekat dengan Soekarno, PKI juga bisa mengikuti Ganyang Malaysia. Di masa ini PKI bertambah kuat secara internal dan eksternal. Bung Karno juga memilih diam karena membutuhkan kekuatan PKI untuk aksi mengganyang Malaysia. Ada juga beberapa anggota Angkatan Darat yang dekat dengan PKI, umumnya mereka yang dekat adalah yang tidak suka dengan para petinggi Angkatan Darat.

5. Isu Dewan Jenderal

Kabar bahwa dewan jenderal akan merebut kekuasaan Bung Karno membuat masyarakat panik. Isu ini muncul mendekati Gestapu. Bung Karno merespon isu tersebut dengan memerintahkan Cakrabirawa untuk menangkap Dewan Jenderal.

Sejarah G30S PKI: Kronologis

Peristiwa ini bermula pada pergerakan kelompok pasukan pada 30 Oktober malam hari. Kelompok tersebut bergerak menuju daerah selatan Jakarta. Kasus penculikan tujuh jenderal dilaksanakan pada 1 Oktober dini hari. Terdapat tiga orang jenderal yang terbunuh di rumah mereka masing masing, yaitu Letjen Ahmad Yani, Mayjen M.T Haryono, dan Brigjen D.I Panjaitan. Tiga jenderal yang telah terbunuh ini dibawa ke Lubang Buaya. Kemudian tiga jenderal lainnya yang ditangkap hidup hidup juga dibawa ke Lubang Buaya, diantaranya adalah Mayjen Suprapto, Mayjen S. Parman, dan Brigjen Sutoyo.

Target berikutnya adalah jenderal A. H Nasution, namun ia berhasil kabur melewati dinding pembatas kedubes Irak. Kelompok pasukan tidak mengetahui kaburnya jenderal tersebut dan salah mengira ajudan pribadi A. H Nasution adalah dirinya. Alhasil ajudan pribadi nya yaitu Letnan Pierre Tendean yang ditangkap dan dibawa ke Lubang Buaya. Anak gadis dari A.H. Nasution yaitu Ade Irma menjadi korban tewas setelah tertembak oleh kelompok pasukan tersebut. Jumlah korban semakin bertambah saat kelompok tersebut menembak polisi penjaga rumah tetangga Nasution. 

Sekitar 2.000 pasukan TNI diterjunkan untuk menduduki sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama Lapangan Merdeka, Monas.  Walaupun mereka belum berhasil mengamankan bagian timur dari area ini. Sebab saat itu merupakan daerah dari Markas KOSTRAD pimpinan Soeharto.

Pada 2 Oktober 1965, Presiden Soekarno telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersenjata bersama Waperdam II Leimena dan para pejabat penting lainnya dengan maksud segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut Gerakan 30 September.

Sejarah G30S PKI: Tokoh G30S PKI

Patung Jenderal jenderal yang menjadi korban peristiwa g30s/pki
Sejarah G30S/PKI “Gestapu”: Pahlawan Revolusi, foto oleh g30-spki,com

Berikut tokoh jenderal yang menjadi korban dalam peristiwa G30S/PKI:

1. Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani
2. Mayjen TNI R. Suprapto
3. Mayjen TNI M.T. Haryono
4. Mayjen TNI Siswondo Parman
5. Brigjen TNI DI Panjaitan
6. Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo
7. Letnan Pierre Tendean

Sejarah G30S PKI: Pasca Kejadian G30SPKI

Berikut runtutan kejadian pasca peristiwa G30S/PKI: 

1 Oktober 1965

Penumpasan G30S/PKI dimulai tanggal 1 Oktober 1965. Pada pukul 7 pagi Radio Republik Indonesia menyiarkan pesan dari Komandan Cakrabirawa, Untung Syamsuri. Pesannya berisi pemberitahuan bahwa G30S/PKI telah berhasil diambil alih oleh anggota militer di beberapa lokasi strategis Jakarta. Setelah berita radio disiarkan, Soeharto diberi tahu oleh tetangganya bahwa ada aksi penembakan serta penculikan beberapa Jenderal. Soeharto pun segera bergegas menuju markas KOSTRAD untuk menghubungi anggota angkatan laut dan polisi. 

2 Oktober 1965

Bandara Halim Perdana Kusuma diserang oleh RPKAD atas perintah Mayjen Soeharto. Pada pukul 12 siang, seluruh tempat berhasil dikuasai oleh TNI AD

3 Oktober 1965

Pasukan RPKAD berhasil menguasai Lubang Buaya dibawah pimpinan Mayor C.I Santoso. Usaha pencarian jenderal yang hilang dipergiat dan terbantu dengan informasi dari tawanan G30S/PKI yang berhasil kabur. Setelah diselidiki, akhirnya ditemukanlah tempat dimana para jenderal dimasukkan ke dalam sumur dengan kedalaman sekitar 12 meter. Sumur tersebut sekarang dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.

4 Oktober 1965

Penggalian sumur kembali diteruskan karena baru ditemukan pukul 5 sore pada tanggal 3 Oktober. Penggalian diteruskan oleh pasukan Amfibi KKO-AL dan dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Terlihat dari kondisi jenazah, terdapat luka fisik yang menjadi saksi bisu kejamnya siksaan yang mereka terima.

5 Oktober 1965

Jenazah yang ditemukan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Lalu pada keesokan harinya, para jenderal yang wafat tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dalam Sidang Kabinet Dwikora.

Fakta Sejarah G30SPKI

Terkadang apa yang terjadi pada sebuah film tak sepenuhnya terjadi pada kehidupan nyata. Begitu pula dengan film-fil mengenai G30S/PKI, ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan kejadian asli dan mendramatisir kejadian sesungguhnya. Berikut beberapa fakta yang telah dirangkum :

DN Aidit Perokok

Dalam film G30S/PKI, Aidit yang merupakan pemimpin PKI digambarkan sebagai seorang perokok. Padahal kenyataannya Aidit sama sekali tidak merokok. Aidit justru menghimbau teman temannya untuk mengurangi rokok dan menghentikan kebiasaan itu. Ia mengatakan uang untuk membeli rokok akan lebih bermanfaat dialihkan untuk dana kongres PKI. Adik dari Aidit juga mengatakan dalam keluarganya tidak ada pecandu rokok.

Perlakuan Kejam pada Jenderal yang Dibunuh

Secara jelas digambarkan pada film G30S/PKI bagaimana para jenderal diculik bahkan dibunuh dan dibawa ke Lubang Buaya. Mereka mengalami penyiksaan dengan disayat-sayat dan diperlakukan dengan kasar seperti yang digambarkan pada deskripsi diorama di kompleks Monumen Pancasila Sakti. Mungkin saja adegan yang dibuat didapat dari laporan berita koran Berita Yudha (koran milik tentara).

Koran tersebut menyebutkan para jenderal disiksa, matanya dicukil dan sebagainya oleh para aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang menjadi rekanan PKI. Tetapi dalam kenyataan yang didapat dari hasil visum yang didapat oleh sejarawan Ben Anderson dan diungkapkan juga dalam jurnal Indonesia “How did the General Dies?” pada April 1987 bahwa jenazah hanya dipenuhi luka tembak. Semua anggota organ jenderal utuh.

Presiden Soekarno Sakit

Dalam film G30SPKI, digambarkan Soekarno sedang sakit keras saat peristiwa G30S/PKI. Ia juga digambarkan tengah kebingungan, terlihat dari adegan yang diperankan oleh Umar Khayam tengah berjalan mondar-mandir seperti kebingungan. Namun faktanya, Soekarno saat itu sehat sehat saja. Sempat beredar isu bahwa beliau sedang sakit keras namun kehadirannya pada sejumlah kegiatan pada hari itu dapat menampik isu yang beredar.

Tarian Aktivis Gerwani

Adegan tarian erotis di lubang buaya dalam film G30S/PKI yang dilakukan oleh aktivis Gerwani adalah adegan yang paling diingat oleh masyarakat. Namun menurut penelitian Saskia Eleonora Wieringa, adegan itu merupakan penggambaran bentuk propaganda yang dilakukan oleh media cetak (Berita Yudha dan Harian Angkatan Bersenjata).

Lalu dalam buku yang berjudul Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Saskia mengatakan bahwa Gerwani tidak terlibat langsung pada tragedi tersebut meskipun memiliki kaitan dengan PKI. Lalu menurut kesaksian eks anggota Resimen Tjakrabirawa dalam buku Gerakan 30 September, Antara Fakta dan Rekayasa: Berdasarkan Kesaksian Para Pelaku Sejarah disebutkan bahwa tidak ada pesta maupun tarian di Lubang Buaya

Peta Indonesia

Pada film G30S/PKI, terdapat sebuah peta yang berada di ruangan Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Kostrad). Ruangan itu digunakan Letjen Soeharto untuk memimpin strategi pemulihan pasca kejadian G30S. Uniknya, peta yang berada di sana tergambar Timor-timur sebagai wilayah Indonesia. Padahal tahun tersebut wilayah itu belum bergabung dengan Indonesia. Jadi, peta disana tidak sesuai atau bersifat anakronis (ketidaksesuaian kronologi dalam suatu karya)

Film G30S PKI

Berikut beberapa rekomendasi film yang berkaitan dengan film G30S/PKI :

Pengkhianatan G30S PKI

Tahun Rilis : 1984 (Indonesia)
Sutradara : Arifin C. Noer

The Year of Living Dangerously

Tahun Rilis : Desember, 1982 (Australia)
Sutradara : Peter Weir

Shadow Play

Tahun Rilis : September,1986
Sutradara : Susan Shadburne

40 Years of Silence : An Indonesian Tragedy

Tahun Rilis : 2009 (USA)
Sutradara : Robert Lemelson

The Act of Killing (Jagal)

Tahun Rilis : November, 2012 (Indonesia)
Sutradara : Joshua Oppenheimer

The Look of Silence (Senyap)

Tahun Rilis : September, 2014 (Italia)
Sutradara : Joshua Oppenheimer

Baca juga: Lubang Buaya: Saksi Bisu Peristiwa Sejarah G30SPKI

Last Updated on Oktober 19, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up