1. Peninggalan Sejarah

Masjid Agung Demak: Sejarah, Pendiri, & Ciri Arsitekturnya

Indonesia memiliki banyak peninggalan bersejarah yang masih berfungsi sampai saat ini. Beberapa peninggalan sejarah yang masih berfungsi sampai sekarang biasanya berupa bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Agung Demak.

Pada kesempatan kali ini, Museum Nusantara akan membahas tentang sejarah, pendiri, dan ciri arsitektur dari masjid tertua di Pulau Jawa ini. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut hanya di Museum Nusantara!

Sejarah Masjid Agung Demak

Raden Patah sebagai pendiri kerajaan Demak
Raden Patah sebagai pendiri kerajaan Demak (Sumber: Wikipedia)

Sejarah Masjid Agung Demak bermula dari keberadaan kerajaan Islam terbesar di Indonesia, yaitu Kerajaan Demak. Kerajaan Demak muncul setelah kejayaan dari Kerajaan Majapahit berakhir. Demak merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Keberadaan Masjid Agung Demak berkaitan dengan pengangkatan Raden Patah menjadi Adipati Demak pada tahun 1462 Masehi serta pengangkatan beliau menjadi Sultan Demak Bintara pada tahun 1478 Masehi. Pada saat ini, Kerajaan Majapahit juga sudah mengalami kemunduran dan jatuh ke tangan Prabu Girindrawardhana dari Kerajaan Kediri.

Artikel Terkait

  • Contoh Gotong Royong di Rumah, Mari Terapkan!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 6, 2024 at 8:53 am

    Rumah merupakan tempat pertama untuk memulai suatu pembelajaran. Termasuk dalam hal gotong royong  Harapannya begitu terjun pada lingkungan masyarakat, kamu paling tidak sudah mengerti arti singkat mengenai hal tersebut. Memang kalau penerapannya contoh gotong royong di rumah seperti apa saja? Selengkapnya bisa kamu baca pada artikel yang dibuat khusus untuk Sobat Literasi. Check it out! Artikel Contoh Gotong Royong di Rumah, Mari Terapkan! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Contoh Gotong Royong di Sekolah, Mudah Diterapkan!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 4, 2024 at 10:28 pm

    Sayang banyaknya nilai-nilai modern, membuat sejumlah nilai tradisional mulai tergeserkan. Salah satunya, gotong royong. Sekarang ini sudah mulai jarang kegiatan yang menggunakan unsur tersebut. Maka tidak heran, mungkin generasi ini tidak memahami dan ketahui Salah satu tempat mereka bisa belajar hal itu dengan diajarkan di sekolah. Melalui beberapa aktivitas yang sifatnya dikerjakan bersama-sama. Untuk contoh Artikel Contoh Gotong Royong di Sekolah, Mudah Diterapkan! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Budi Pekerti: Etika Wajib Bangsa Indonesia
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 4, 2024 at 2:38 am

    Budi pekerti merupakan etika wajib yang dimiliki oleh semua warga Indonesia. Hal ini berkaitan dengan moral yang menuntun kita dalam berperilaku dan berinteraksi dengan sesama. Apabila seseorang tidak memiliki atau menjalankan prinsip budi pekerti seperti mestinya maka akibatnya banyak perilaku negatif yang terjadi pada sekitar. Penjelasan tentang materi ini bisa Sobat Literasi baca pada artikel Artikel Budi Pekerti: Etika Wajib Bangsa Indonesia pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Yuk, Mengenal Bagaimana Cara Memahami Contoh Teks Ulasan
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on April 4, 2024 at 2:05 am

    Pernahkan kalian memperhatikan sebuah ulasan yang terkandung di dalam buku, musik, atau novel? Mengapa diharuskan ada sebuah ulasan? Ulasan tersebut sangat berguna untuk kemajuan sebuah karangan literasi atau sebuah karya. Tanpa adanya ulasan yang mendukung, maka kualitas kepenulisan buku, musik, atau novel tidak ada kemajuan. Berikut kami sampaikan pengertian teks ulasan, struktur, beserta contoh teks The post Yuk, Mengenal Bagaimana Cara Memahami Contoh Teks Ulasan appeared first on Sma Studioliterasi.

Pendiri Masjid Agung Demak adalah Raden Patah (Raja Pertama Kerajaan Demak) dengan bantuan Walisongo pada tahun 1477 Masehi. Hal ini dikarenakan Raden Patah yang tidak berhasil menyerang pasukan Girindrawardhana dan banyak korban yang gugur. Para wali kemudian memberi saran supaya Raden Patah lebih baik melanjutkan pembangunan masjid sembari mengukur kekuatan musuh.

Raden Patah kemudian melaksanakan saran ini dan menunda penyerangan ke Majapahit yang pada saat itu dikuasai oleh Prabu Girindrawardana. Sebagai syarat, Raden Patah meminta supaya pada bagian atap masjid diberi sebuah mustaka berbentuk runcing yang mirip angka satu dalam bahasa Arab.

Pembangunan masjid kemudian selesai sekitar tahun 1479 Masehi. Masjid ini kemudian menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru Jawa yang kita sering kenal dengan nama Walisongo.

Selesainya pembangunan masjid dapat terlihat dari bentuk gambar serupa bulus yang ada di bagian depan kubah tempat pengimaman. Bulus ini disebut sebagai Surya sengkala memet. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1, empat kaki berarti angka 4, badan bulus berarti angka 0, dan satu ekor bulus berarti angka 1. Dari simbol binatang bulus ini, Masjid Agung Demak diperkirakan berdiri pada tahun 1401 Saka.

Arsitektur Masjid Agung Demak

Masjid agung demak di lihat dari luar
Masjid Agung Demak di lihat dari luar (Sumber: phinemo)

Masjid Agung Demak memiliki atap tumpang yang mirip dengan punden berundak dan atap tumpang ganjil. Atap tumpang tindih mengambil inspirasi dari budaya peninggalan prasejarah Indonesia. Atap tumpang ganjil mengambil ide dari bangunan pura Hindu yang memiliki atap dengan 3 tingkat bahkan lebih.

Masjid ini berfungsi untuk menjadi tempat ibadah umat Islam. Budaya-budaya Islam dapat terlihat dari beberapa ornamen yang ada di dalam masjid. Selain itu, atap yang berbentuk meru segitiga adalah lambang dari persemayaman dewa dalam agama Hindu. Oleh karena dalam Islam tidak ada dewa-dewi, maka atap ini menandakan bahwa masjid adalah sebuah tempat untuk beribadah.

Masjid Agung Demak sebagai salah satu masjid kuno memiliki ciri khasnya, yaitu:

  • Memiliki Pagar yang mengelilingi ruang utama
  • Adanya serambi dan kolam di bagian depan bangunan utama
  • Memiliki tempat berdiri imam sholat atau mihrab
  • Mempunyai tempat khusus jemaah wanita atau pawestren
  • Memiliki atap tumpang dengan puncak mustaka

Atap masjid yang tersusun dari tiga tingkat menggambarkan akidah Islam, yang terdiri dari Iman, Islam, dan Ihsan. Tiang utama masjid atau yang juga terkenal sebagai Saka Guru dibuat oleh Walisongo. Tiang barat laut dibuat Sunan Bonang, tiang barat daya dibuat Sunan Gunung Jati, tiang timur laut dibuat Kalijaga, dan tiang tenggara dibuat Sunan Ampel.

Masjid Agung Demak memiliki lima pintu yang menggambarkan lima rukun Islam. Enam jendela masjid yang menggambarkan rukun iman. Serambi masjid memiliki ukuran 30 x 17 meter, dengan bentuk ruang terbuka yang memiliki atap limas. Serambi ini memiliki fungsi sebagai tempat pertemuan, musyawarah, acara keagamaan, dan tempat sholat.

Akulturasi Masjid Agung Demak

Masjid ini memiliki ciri arsitektur yang khas. Seperti yang sudah disebutkan di atas. Masjid ini merupakan bentuk akulturasi dari berbagai budaya yang sudah ada di Indonesia. Hal tersebut yang membuat Masjid Demak berbeda dengan masjid-masjid lainnya di Indonesia.

Masjid Demak mengambil arsitektur perpaduan dari gaya bangunan Majapahit khas bangunan bercorak Hindu dan gaya bangunan rumah tradisional di Jawa Tengah. Akulturasi ini dapat kalian lihat dari bentuk atapnya yang berbentuk atap tumpang, bukan kubah melengkung yang identik dengan ciri khas bangunan masjid.

Akulturasi bangunan masjid merupakan bentuk toleransi sebagai sarana penyebaran Islam dalam masyarakat yang saat itu masih banyak memeluk agama Hindu. Mustoko atau mahkota masjid yang berhias asma Allah dan menara masjid yang mengambil gaya menara masjid Melayu menjadi budaya Islam yang menghiasi masjid ini.

Bangunan serupa juga dapat kalian lihat di Masjid Menara Kudus yang terletak sekitar 35 km dari kota Demak. Dapat disimpulkan, penyebaran agama Islam di pulau Jawa mengambil cara salah satunya dengan memadukan budaya Islam dengan budaya-budaya yang sudah ada sebelumnya.

Wisata Masjid Agung Demak

Jika kalian tertarik untuk mengunjungi Masjid kebanggaan warga Demak ini, lokasi masjid berada di Jalan Raya Sultan Fatah No.57, Kampung Kauman, Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Rute yang dilalui juga tidak sulit karena masjid ini berada di pusat kota Demak.

Kalian dapat berkunjung kapanpun ke masjid ini dan tanpa ada tarif masuk. Bagian eksterior masjid memberi kesan masjid yang sederhana, tapi bagian dalamnya menunjukkan kesan masjid yang megah dan agung. Selain beribadah di masjid ini, kalian juga dapat bersantai dengan berjalan-jalan di area taman yang berada di bagian depan masjid.

Pada dasarnya, Masjid Agung Demak masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam sampai saat ini dan banyak juga berbagai kegiatan yang diselenggarakan di sini. Kegiatan dapat berupa pengajian rutin, dakwah, sampai perayaan hari besar umat Islam

Demikian penjelasan kali ini tentang sejarah, pendiri, dan ciri arsitektur dari Masjid Agung Demak. Perlu diingat bahwa masjid ini merupakan peninggalan bersejarah sekaligus salah satu tempat ibadah. Oleh sebab itu, kita perlu menjaganya dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Semoga penjelasan Museum Nusantara kali ini bermanfaat!

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Masjid Agung Demak: Sejarah, Pendiri, & Ciri Arsitekturnya

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Selama berabad-abad, Indonesia telah menjadi rumah bagi keberagaman budaya yang kaya, termasuk seni tari tradisional yang memukau. Tari tradisional Indonesia bukan hanya sekadar gerakan-gerakan artistik yang menakjubkan, tetapi juga mewakili identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat di berbagai daerah. Tari Sirih Kuning adalah salah satu jenis tarian tradisional yang memiliki akar budaya kuat bagi masyarakat Betawi. […]

    Trending

    Apapun yang terkait dengan fashion, terlebih kalau menyangkut kekeluargaan kerajaan pasti menarik untuk diketahui. Termasuk, pakaian kerajaan pada masa lalu yang tentu mengandung nilai bersejarah penting.  Kali ini kami akan mengajak kalian membahas pakaian putri Kerajaan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan berjaya di Nusantara antara abad ke-13 dan ke-16. Penasaran dengan pakaian putri khas […]
    Nekara dan moko ialah contoh artefak perunggu yang terkenal dari zaman prasejarah di Indonesia, tepatnya pada zaman logam. Memang kalau sekilas kita lihat memiliki beberapa kesamaan. Bahkan pada beberapa sumber sering kali menyebutkan kalau moko merupakan nama lain dari nekara. Ternyata, keduanya tidak sama dan terdapat perbedaan. Artikel ini bakal mengulas perbedaan yang signifikan pada […]
    Terdapat ragam seni pertunjukan yang terkenal di Bali, salah satunya adalah tari Topeng Sidakarya yang merupakan bagian penting dari upacara keagamaan Hindu. Tari Topeng Sidakarya adalah salah satu seni pertunjukan di Bali yang dipentaskan dari generasi ke generasi. Biasanya, seni pertunjukan ini ditampilkan sebagai bagian dari upacara sakral kaum Hindu, yaitu upacara Yadnya. Seni tari […]
    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]