1. Biografi
  2. Tokoh

Biografi Sunan Muria, Anggota Wali Songo Termuda Asal Kudus

Halo anak Nusantara! Keberadaan Islam di Indonesia tidak lepas dari peran Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam pada zaman dahulu. Wali Songo sendiri adalah 9 orang wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, Munus akan membahas salah satu tokoh dari Wali Songo, yaitu Sunan Muria.

Penasaran dengan biografi Sunan Muria secara detail serta perannya dalam menyebarkan agama Islam di Jawa? Yuk, simak pembahasan Munus di bawah ini!

Sunan Muria, Anggota Termuda Dari Wali Songo

Jalan Menuju Makam Sunan Muria di Gunung Muria, Tempat Beliau Berdakwah (sumber: Tripadvisor)
Jalan Menuju Makam Sunan Muria di Gunung Muria, Tempat Beliau Berdakwah (sumber: Tripadvisor)

Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah. Nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Said, tapi beberapa sumber mengatakan bahwa beliau juga sering dipanggil Prawoto. Ia merupakan anggota Wali Songo termuda, serta tokoh penting dalam Kerajaan Demak. Meskipun begitu, beliau memilih untuk tinggal di daerah terpencil, yaitu di Gunung Muria lebih tepatnya di Desa Colo, Kudus, Jawa Tengah. 

Sunan Muria memilih untuk tinggal di daerah pelosok karena ia suka bersosialisasi dengan masyarakat kalangan bawah yang tinggal di sana. Karena itu, ajaran Sunan Muria dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat. Cara bergaulnya ini disebut sebagai tapa ngeli yang berarti menghanyutkan diri. Dalam konteks ini, Sunan menghanyutkan diri untuk berbaur dengan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status. 

Artikel Terkait

  • Contoh Gotong Royong di Rumah, Mari Terapkan!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 6, 2024 at 8:53 am

    Rumah merupakan tempat pertama untuk memulai suatu pembelajaran. Termasuk dalam hal gotong royong  Harapannya begitu terjun pada lingkungan masyarakat, kamu paling tidak sudah mengerti arti singkat mengenai hal tersebut. Memang kalau penerapannya contoh gotong royong di rumah seperti apa saja? Selengkapnya bisa kamu baca pada artikel yang dibuat khusus untuk Sobat Literasi. Check it out! Artikel Contoh Gotong Royong di Rumah, Mari Terapkan! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Contoh Gotong Royong di Sekolah, Mudah Diterapkan!
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 4, 2024 at 10:28 pm

    Sayang banyaknya nilai-nilai modern, membuat sejumlah nilai tradisional mulai tergeserkan. Salah satunya, gotong royong. Sekarang ini sudah mulai jarang kegiatan yang menggunakan unsur tersebut. Maka tidak heran, mungkin generasi ini tidak memahami dan ketahui Salah satu tempat mereka bisa belajar hal itu dengan diajarkan di sekolah. Melalui beberapa aktivitas yang sifatnya dikerjakan bersama-sama. Untuk contoh Artikel Contoh Gotong Royong di Sekolah, Mudah Diterapkan! pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Budi Pekerti: Etika Wajib Bangsa Indonesia
    by Amanda Rayta (Studio Literasi) on April 4, 2024 at 2:38 am

    Budi pekerti merupakan etika wajib yang dimiliki oleh semua warga Indonesia. Hal ini berkaitan dengan moral yang menuntun kita dalam berperilaku dan berinteraksi dengan sesama. Apabila seseorang tidak memiliki atau menjalankan prinsip budi pekerti seperti mestinya maka akibatnya banyak perilaku negatif yang terjadi pada sekitar. Penjelasan tentang materi ini bisa Sobat Literasi baca pada artikel Artikel Budi Pekerti: Etika Wajib Bangsa Indonesia pertama kali tampil pada Studio Literasi.

  • Yuk, Mengenal Bagaimana Cara Memahami Contoh Teks Ulasan
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on April 4, 2024 at 2:05 am

    Pernahkan kalian memperhatikan sebuah ulasan yang terkandung di dalam buku, musik, atau novel? Mengapa diharuskan ada sebuah ulasan? Ulasan tersebut sangat berguna untuk kemajuan sebuah karangan literasi atau sebuah karya. Tanpa adanya ulasan yang mendukung, maka kualitas kepenulisan buku, musik, atau novel tidak ada kemajuan. Berikut kami sampaikan pengertian teks ulasan, struktur, beserta contoh teks The post Yuk, Mengenal Bagaimana Cara Memahami Contoh Teks Ulasan appeared first on Sma Studioliterasi.

Beliau berdakwah menggunakan sarana kesenian, sarana yang juga digunakan oleh ayahnya dulu, Sunan Kalijaga. Ia mengajarkan kebenaran dan ketaatan pada Allah SWT melalui media gamelan, tembang, dan wayang. Selain itu, ia juga mengajarkan nilai-nilai moral seperti hidup sederhana, dermawan, dan bijaksana dalam masyarakat.

Perjuangan Dakwah Sunan Muria

Seperti yang Munus jelaskan di atas, Sunan Muria menggunakan cara dakwah yang sama dengan ayahnya, Sunan Kalijaga. Cara ini dilakukan karena mayoritas masyarakat masih menganut Hindu-Budha. Beliau juga memberikan bumbu ajaran Islam dalam budaya yang dipakainya. Berbagai budaya peninggalan Hindu-Budha diubah sedikit supaya masih mengandung unsur ajaran Islam. 

Salah satu contohnya adalah tradisi sesajen. Sesajen awalnya adalah sebuah persembahkan makanan untuk para leluhur. Persembahan tersebut kemudian diubah, makanannya tidak lagi diperuntukkan kepada leluhur, tapi justru untuk orang sekitar.

Jika ada yang mengadakan suatu acara, maka warga sekitar akan diundang untuk mendoakan arwah atau orang yang sudah meninggal. Setelah doa selesai, para undangan yang hadir akan diberikan makanan sebagai bentuk terima kasih. Tradisi ini masih bertahan sampai saat ini dan disebut kenduri.

Tidak berhenti di situ, Sunan Muria juga mengikuti cara Wali Songo sebelumnya, yaitu menciptakan sajak dalam berbagai tembang yang sudah ada dalam masyarakat. Beliau juga mengubah sajak dalam tembang Kinanti dan tembang Sinom. Untuk tembang Kinanti sendiri memiliki arti tentang kasih sayang orang tua terhadap anak. Sedangkan, tembang Sinom berisi tentang petuah untuk para anak remaja.

Saat itu, Sunan Muria masih melakukan dakwah pada masyarakat yang memegang tradisi serta kepercayaan lama. Masyarakat itu bahkan masih percaya dengan alam, roh leluhur, dewa-dewa, dan kekuatan dari suatu barang keramat atau sakti.

Fakta Menarik Seputar Sunan Muria

Berikut fakta-fakta menarik seputar Sunan Muria yang sudah dikumpulkan oleh Munus:

1. Sangat Menghargai Tradisi Jawa Terdahulu

Beliau menjunjung tinggi toleransi terhadap tradisi Jawa yang sudah ada. Pada zaman itu, masyarakat Jawa sangat memegang erat tradisinya sehingga Islam susah untuk masuk ke dalam masyarakat.

Sunan kemudian melakukan akulturasi antara budaya Jawa dan budaya Islam. Akulturasi yang dilakukan Sunan ini tidak mengurangi nilai bawaan dari budaya yang sudah ada. Hanya saja ia memberikan sedikit modifikasi supaya lebih sesuai dengan ajaran Islam.

2. Memilih Hidup di Gunung

Sunan termuda ini adalah sosok yang terkenal dan memiliki pengaruh yang besar dalam Kerajaan Demak. Namun uniknya, ia malah memilih untuk tinggal di daerah pelosok yang jauh dari keramaian.

Ia menetap di Gunung Muria yang terletak di Kudus, Jawa Tengah. Saat tinggal di Gunung, Sunan Muria tidak hanya berdakwah tapi juga membantu perekonomian warga sekitar. Meskipun tinggal di Gunung Muria, ia tetap melanjutkan dakwahnya dengan cakupan wilayah yang luas.

3. Suka Berdakwah & Mengajar Secara Gratis

Selain membawa metode lain yang lebih menyenangkan dalam berdakwah, ia juga berperan dalam pengembangan ekonomi masyarakat di Gunung Muria. Hal itu dilakukan dengan melakukan pengajaran secara gratis kepada masyarakat karena terbatasnya akses pendidikan bagi warga pelosok pada saat itu.

Beliau juga berdakwah sekaligus mengajar keterampilan bagi pedagang, petani, pelaut, dan nelayan. Masyarakat akan belajar bercocok tanam, membuat perahu, berdagang dan menangkap ikan. Dengan cara ini, Sunan membangun kepercayaan dalam masyarakat sehingga masyarakat akan lebih mendengarkannya dalam berdakwah. 

Makam Sunan Muria

Makam Sunan Muria (sumber: Kebudayaan Kemdikbud)
Makam Sunan Muria (sumber: Kebudayaan Kemdikbud)

Sunan Muria wafat pada tahun 1551. Beliau dimakamkan di atas puncak Gunung Muria. Untuk mencapai makam ini, kalian perlu menaiki ratusan anak tangga dari pintu gerbang utamanya. Pintu gerbang ini berada di belakang Masjid Sunan Muria. Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai kompleks pemakaman sekitar 750 meter.

Setelah sampai di pintu gerbang makam, kalian akan menyaksikan 17 batu nisan di halaman kompleks makam. Juru kunci mengatakan bahwa nisan ini adalah nisan dari orang-orang terdekat Sunan semasa beliau hidup. 

Makam Sunan Muria berada di bagian utara kompleks yang terdapat dalam bangunan cungkup dengan atap sirap dua tingkat. Di bagian timurnya terdapat makam dari putri Sunan yang bernama Raden Ayu Nasiki. Sedangkan, pada bagian selatan mihrab terdapat makam dari Panembahan Pengulu Jogodipo, putra Sunan Muria.

Peninggalan Sunan Muria

Sebagai sosok yang berpengaruh tentu beliau memiliki begitu banyak peninggalan. Berikut adalah beberapa peninggalan di antaranya:

Masjid Sunan Muria (sumber; Merdeka)
Masjid Sunan Muria (sumber; Merdeka)

1. Masjid di Puncak Gunung Muria

Masjid ini berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Di dalam masjid terdapat beberapa benda yang pernah biasa dipakai oleh Sang Sunan semasa ia hidup. Untuk mencapai ke sana, kalian harus menaiki jalan sejauh 3 km.

Masjid telah mengalami perubahan berkali-kali, tapi beberapa bagiannya masih dipertahankan sampai saat ini. Salah satu bagian yang dipertahankan adalah tempat pengimanan. Bentuk pengimaman masjid ini menjorok ke dalam. Hal ini memiliki makna bahwa umat Islam harus mementingkan kepentingan akhirat daripada duniawi.

Susunan bangunan juga masih sama seperti keadaan asli masjid. Benda lain yang dipertahankan adalah bedug yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran naga serta ayam jantan.

2. Situs Air Gentong Keramat

Situs air gentong terletak dekat kompleks pemakaman Sunan Muria. Situs ini biasa dikunjungi ketika para pengunjung sudah selesai berziarah. Air dari situs dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit aneh yang secara medis tidak dapat disembuhkan.

3. Pari Joto

Pari Joto adalah buah yang memiliki ukuran sebesar kacang tanah, berwarna merah muda saat masih mentah, berwarna agak hitam saat sudah matang, serta memiliki rasa yang masam. Pari joto memiliki kandungan gizi yang bagus dan cocok untuk ibu mengandung. Buah ini dikatakan sebagai salah satu warisan Sunan Muria. Ibu hamil seringkali mencari pari joto karena percaya bahwa buah ini dapat memberikan kebaikan untuk bayi yang dikandungnya.

4. Pakis Haji

Pakis Haji adalah tumbuhan yang dipercaya berasal dari kesaktian Sunan Muria. Secara umum, tumbuhan ini digunakan untuk mengusir tikus. Saat kalian mengunjungi daerah Makam, kalian dapat melihat tanaman pakis haji dijual di sini.

Pakis haji memiliki motif batik jajar genjang berwarna coklat. Bagian dasar berwarna putih tulang agak kecoklatan. Jika dapat digambarkan, tumbuhan ini sekilas serupa dengan ular python. Masyarakat percaya bahwa pakis haji menyelamatkan sawah yang terancam gagal panen oleh karena wabah tikus. Tikus memakan padi yang ada, sampai para petani mengadu pada Sang Sunan. Sunan Muria kemudian memberi ide untuk menggunakan pakis haji sebagai cara melawan hama tikus tersebut. 

5. Bulusan dan Kayu Adem Jati

Peninggalan lainnya adalah bulusan dan kayu adem jati. Semasa Sunan hidup, terdapat seekor kura-kura atau bulus yang dipercaya sebagai jelmaan manusia. Selain itu, ada juga sebuah pohon bernama kayu adem jati yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai pohon keramat. Kedua peninggalan ini memiliki cerita yang unik karena keduanya sempat hilang tapi kembali lagi dengan sendirinya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Baca juga: Sejarah Sultan Hasanuddin & Perjuangannya Melawan VOC

Demikian biografi Sunan Muria serta sedikit cerita tentang cara dakwahnya di Indonesia. Beliau adalah salah satu panutan karena beliau yang memilih untuk memberikan pengajaran kepada mereka yang tinggal di pelosok dan dari kalangan rendah. Jangan lupa juga untuk menyimak berbagai biografi menarik dan pembahasan seru seputar sejarah lainnya di Museum Nusantara!

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Biografi Sunan Muria, Anggota Wali Songo Termuda Asal Kudus

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Selama berabad-abad, Indonesia telah menjadi rumah bagi keberagaman budaya yang kaya, termasuk seni tari tradisional yang memukau. Tari tradisional Indonesia bukan hanya sekadar gerakan-gerakan artistik yang menakjubkan, tetapi juga mewakili identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat di berbagai daerah. Tari Sirih Kuning adalah salah satu jenis tarian tradisional yang memiliki akar budaya kuat bagi masyarakat Betawi. […]

    Trending

    Apapun yang terkait dengan fashion, terlebih kalau menyangkut kekeluargaan kerajaan pasti menarik untuk diketahui. Termasuk, pakaian kerajaan pada masa lalu yang tentu mengandung nilai bersejarah penting.  Kali ini kami akan mengajak kalian membahas pakaian putri Kerajaan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan berjaya di Nusantara antara abad ke-13 dan ke-16. Penasaran dengan pakaian putri khas […]
    Nekara dan moko ialah contoh artefak perunggu yang terkenal dari zaman prasejarah di Indonesia, tepatnya pada zaman logam. Memang kalau sekilas kita lihat memiliki beberapa kesamaan. Bahkan pada beberapa sumber sering kali menyebutkan kalau moko merupakan nama lain dari nekara. Ternyata, keduanya tidak sama dan terdapat perbedaan. Artikel ini bakal mengulas perbedaan yang signifikan pada […]
    Terdapat ragam seni pertunjukan yang terkenal di Bali, salah satunya adalah tari Topeng Sidakarya yang merupakan bagian penting dari upacara keagamaan Hindu. Tari Topeng Sidakarya adalah salah satu seni pertunjukan di Bali yang dipentaskan dari generasi ke generasi. Biasanya, seni pertunjukan ini ditampilkan sebagai bagian dari upacara sakral kaum Hindu, yaitu upacara Yadnya. Seni tari […]
    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]