1. Kerajaan di Indonesia

Mengenal Kerajaan Pajang : Letak, Raja, & Peninggalannya

Halo anak Nusantara! Pasti kalian tidak asing dengan nama Jaka Tingkir. Nama Jaka Tingkir sering muncul dalam serial kolosal televisi dan cerita rakyat, tapi apakah kamu tahu jika Jaka Tingkir berasal dari nama seorang raja di Indonesia, yaitu Kerajaan Pajang.

Pada kesempatan kali ini, Munus akan membahas tentang Kerajaan Pajang yang awal mulanya didirikan sebagai pengganti Kerajaan Demak. Yuk, cari tahu siapa pendiri dan rajanya serta apa saja peninggalannya di bawah ini!

Sejarah Berdirinya Kerajaan Pajang

Pendiri Kerajaan Pajang adalah Sultan Hadiwijaya atau dikenal juga sebagai Jaka Tingkir dan berdiri 1568 sampai runtuh pada 1587. Kerajaan berdiri 1568 sampai runtuh pada  1587. Pada awalnya, Pajang adalah wilayah dari Kerajaan Demak dan dipimpin oleh Adipati Jaka Tingkir. 

Keturunan raja pajang berasal dari keturunan Pengging, sebuah kerajaan yang dipimpin Andayaningrat. Andayaningrat masih memiliki kekerabatan dengan keluarga kerajaan Majapahit. Pengging masih berdaulat sampai Ki Ageng Pengging dibunuh oleh Sunan Kudus. Anak yang ditinggalkan oleh Ki Ageng Pengging kemudian diangkat anak oleh Nyi Ageng Tingkir. Anak tersebut bernama Mas Karebet atau Jaka Tingkir.

Artikel Terkait

  • Annelida: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi & Peranannya
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 19, 2024 at 4:59 am

    Mempelajari makhluk hidup memang tidak ada habisnya ya guys. Dengan mempelajarinya kalian jadi tahu apa jenis-jenis hewan yang ada di muka bumi ini. Salah satu jenis hewan yang sering kita temui adalah cacing. Hewan yang bikin geli ini dan sering muncul saat musim hujan ini adalah hewan yang akan kita bahas kali ini.  Nah, kalau The post Annelida: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi & Peranannya appeared first on Sma Studioliterasi.

  • Mengenal Hukum Ohm: Definisi, Bunyi dan Soal Pembahasan
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 19, 2024 at 3:48 am

    Halo kawan literasi, bagaimana kabar kalian? aku harap baik-baik saja, ya. Pada pembahasan artikel fisika ini masih berhubungan dengan kelistrikan yaitu hukum ohm. Nah, pasti kalian sedikit banyak mengenal hukum fisika tersebut. Ternyata dalam rangkaian listrik, harus mempunyai hambatan dengan besar tertentu, lho. Mau tau kenapa?  Daripada penasaran, ayo kita belajar hukum fisika ini mulai The post Mengenal Hukum Ohm: Definisi, Bunyi dan Soal Pembahasan appeared first on Sma Studioliterasi.

  • Mengenal Alat Pembayaran Beserta Jenis-Jenisnya
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 16, 2024 at 7:42 am

    Kegiatan transaksi sangat berkaitan dengan alat pembayaran. Semakin bertambahnya zaman, teknologi dan informasi di bidang ekonomi dan perbankan semakin berkembang. Analogi sederhananya adalah keadaan dahulu semaju sekarang, alat pembayaran hanya menggunakan uang logam dan uang kertas.  Ternyata, manusia menemukan beberapa keterbatasan dalam melakukan pembayaran. Jadi, muncullah beberapa metode atau alat pembayaran yang efektif dan efisien The post Mengenal Alat Pembayaran Beserta Jenis-Jenisnya appeared first on Sma Studioliterasi.

  • Mengenal Alat Optik & Jenis-Jenisnya yang Harus Kalian Ketahui
    by Mirza Sufi Kusuma (Sma Studioliterasi) on Februari 15, 2024 at 5:17 am

    Salah satu alat optik yang paling dipakai oleh orang-orang yang di sekitar adalah kacamata. Seperti yang kita tahu, kacamata adalah alat bantu penglihatan untuk melihat objek dengan jelas. Nah, kawan literasi apakah kalian menyadari bahwa kacamata memiliki sistem khusus untuk memudahkan mata melihat benda dari jarak dekat maupun jauh?  Atau sesederhana kamera yang sering kita The post Mengenal Alat Optik & Jenis-Jenisnya yang Harus Kalian Ketahui appeared first on Sma Studioliterasi.

Jaka Tingkir memutuskan untuk mengabdikan dirinya kepada Kesultanan Demak. Setelah itu, Kesultanan Demak mengutus Jaka Tingkir untuk mendirikan kerajaan di wilayah Pajang dan menjadi raja pertamanya dengan gelar Sultan Hadiwijaya. 

Kekuatan dari Kesultanan Demak mulai mengalami kemunduran dan terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Arya Penangsang. Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya menjadi sosok yang menyelamatkan kesultanan Demak. Ia kemudian menjadi pewaris takhta Kesultanan Demak dan memindahkan pusat pemerintahan ke Kerajaan Pajang.

Letak Kerajaan Pajang

Sumber sejarah menyatakan bahwa letak Kerajaan Pajang berada di Pajang, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Kerajaan diapit oleh Sungai Dangke dan Sungai Pepe serta terletak di dataran rendah. Wilayah kekuasaan kerajaan mencakup daerah Boyolali, Klaten, Madiun, Salatiga, Kedu, Pati, Demak, Jepara, Kediri, Bojonegoro, dan kota kota besar di Jawa Timur.

Masa Kejayaan Kerajaan Pajang

Masa kejayaan terjadi pada masa pemerintahan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Sultan memperluas kekuasaan ke beberapa daerah sekitar kerajaan seperti Demak dan Jipang. Pada bagian pesisir utara, Jepara, Pati dan Banyumas juga menjadi wilayah Pajang. Penyebaran kesenian dan kebudayaan mulai menyentuh masyarakat di daerah pedalaman.

Penyebaran agama dan budaya Islam juga mengalami perkembangan pesat dan sudah menyentuh masyarakat di pedalaman. Banyak raja dari kerajaan di sekitar Pajang tunduk pada Sultan Hadiwijaya. Kemudian, Sultan mulai memperluas kekuasaan ke daerah Jawa Timur pada tahun 1581.

Para raja di daerah Jawa Timur membangun hubungan yang baik dengan Sultan Hadiwijaya. Bahkan Panembahan Lemah Duwur dijadikan menantu Raja Pajang karena kepercayaan antar kerajaan yang kuat. Relasi ini menciptakan hubungan yang baik antara para raja di Jawa Timur dan Kerajaan Pajang,

Runtuhnya Kerajaan Pajang

Kemunduran dari kerajaan bermula ketika Sultan Hadiwijaya meninggal pada tahun 1587. Kerajaan Pajang mulai diserang oleh kerajaan bawahannya yaitu Mataram. Raja Pajang hanya menjadi bawahan dari Kerajaan Mataram.

Kedudukan Sultan Hadiwijaya sebagai raja digantikan oleh lima raja. Pengganti pertama adalah Raja di Tuban, Raja d Arisbaya, Raja di Demak, kecuali putranya sendiri Pangeran Benawa, karena masih sangat muda. Sunan Kudus kemudian mengangkat Arya Pangiri untuk menjadi Raja Pajang.

Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kekuatan kesultanan Islam di pulau Jawa pada keturunan Kerajaan Demak. Kekuasaan Arya Pangiri tidak berlangsung lama. Ia dapat disingkirkan oleh Pangeran Benawa dengan dukungan dari Senapati Mataram. 

Oleh karena Pangeran Benawa sudah menganggap Senapati Mataram sebagai kakaknya sendiri, hak waris kemudian diserahkan pada Senapati Mataram. Pangeran Benawa hanya meminta untuk diperbolehkan tinggal di Mataram dan memiliki emas intan Pajang. Setahun setelah Pangeran Benawa memimpin, Ia kemudian meninggalkan kerajaan untuk membaktikan diri kepada Islam. 

Status raja kemudian diserahkan kepada Gagak Bening. Gagak Baning melakukan perluasan istana dan merombaknya. Ia meninggal pada tahun 1591 dan digantikan putra Pangeran Benawa dengan gelar Pangeran Benawa II. Pangeran Benawa II masih sangat muda ketika menjadi raja, tidak ada masalah yang signifikan saat Ia memimpin.

Pemberontakan kemudian terjadi pada tahun 1617-1618 sehingga menghancurkan Pajang. Pemberontakan terjadi karena Pajang ditekan dalam segi ekonomi dari Mataram. Sebagai hukuman, pasukan Matarama membakar habis sawah yang ada di Pajang dan sudah berwarna kuning Para petani yang terlibat pemberontakan juga ditangkap oleh pasukan Mataram. Keberadaan Pajang benar benar sudah menghilang setelah terjadinya pemberontakan tersebut.

Raja Kerajaan Pajang

Berikut adalah daftar dari Raja Kerajaan Pajang :

1. Sultan Hadiwijaya (1563-1583)

Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir memerintah pada tahun 1568 sampai 1583. Ia lahir di Pengging, lereng Gunung Merapi dan merupakan cucu Sunan Kalijaga. Ia memiliki nama kecil Mas Karebet karena kelahirannya tepat terjadi saat ada pertunjukkan wayang beber.

Jaka tingkir menikah dengan Putri Sultan Trenggana. Ia diangkat menjadi menantu karena berjasa dalam menggulingkan Arya Penangsang dan diangkat menjadi Raja Demak. Kekuasaan Demak kemudian dipindahkan ke Pajang. Di Pajang, Sultan Hadiwijaya sukses membangun kerajaan, menyebarkan ajaran Islam, serta memperluas wilayah kekuasaan..

2. Arya Pangiri (1583-1586)

Arya Pangiri adalah raja Pajang yang menggantikan Sultan Hadiwijaya. Arya Pangiri hanya memimpin selama 1583 sampai 1586. Pada masa pemerintahannya, Pajang mengalami kemunduran. Oleh karena Ia adalah raja yang kurang bijaksana, Arya Pangiri digulingkan oleh Pangeran Benawa dengan bantuan Sutawijaya dari Mataram pada tahun 1588, kekuasaan kemudian berada di tangan Pangeran Benawa.

3. Pangeran Benawa (1586 – 1587)

Pangeran Benawa memerintah dari tahun 1586 sampai 1587. Ia berhasil menjadi raja Pajang karena menggulingkan Arya Pangiri. Ia menjalin kerjasama yang baik dengan kerajaan Mataram. Pangeran Benawa kemudian menyerahkan kekuasaan Pajang kepada Sutawijaya, Senapati Mataram. 

4. Gagak Baning (1587-1591)

Setelah kematian Pangeran Benawa. Pajang menjadi kekuasaan Kerajaan Mataram. Gagak Bening menjadi raja Pajang dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. Gagak Bening sendiri adalah seorang pangeran dari Kerajaan Mataram. Ia melakukan perluasan serta perombakan istana Pajang. Masa pemerintahannya berlangsung dari tahun 1587 sampai 1591.

5. Pangeran Benawa II (1591-1618)

Pangeran Benawa II adalah raja Pajang yang menggantikan Gagak Bening. Ia adalah cucu Jaka Tingkir dan anak dari Pangeran Benawa. Pada saat memerintah, Ia masih berada di usia yang sangat muda. Masa pemerintahan Pangeran Benawa berlangsung tanpa masalah. Sampai kemudian Pangeran Benawa II mengerahkan pasukan Pajang untuk menyerang Mataram. Serangan ini menjadi akhir dari Pajang karena kekalahan yang dialami.

Peninggalan Kerajaan Pajang

Pajang memiliki berbagai peninggalan sebagai berikut :

1. Masjid Laweyan Solo

Masjid Laweyan Solo berdiri pada tahun 1546 dan dibangun oleh Jaka Tingkir. Masjid terletak di Dusun Belukan, RT. 04 RW. 04, Kecamatan Pajang, Surakarta. Di sekitar masjid, terdapat banyak makam kerabat raja Pajang dan makam Ki Ageng Henis. Masjid ini memiliki arsitektur bergaya Eropa, Cina, Jawa, dan Islam. Terdapat tiga bagian seperti ruang induk, serambi kanan, dan juga serambi kiri.

Masjid Laweyan (Sumber : Muslim Okezone)

2. Kampung Batik Laweyan

Kampung Batik Laweyan terkenal sebagai kampung wisata batik. Kampung ini terletak di Kelurahan Laweyan, Surakarta. Kampung sudah berdiri sejak adanya Kerajaan Pajang pada tahun 1546. Area kampung memiliki luas sekitar 24 hektar dan terbagi dalam 3 blok.

3. Makam Bangsawan Pajang

Pada kompleks makam bangsawan Pajang ini, terdapat 20 makam dari para Kerabat Kerajaan dan juga ada makam dari Ki Ageng Henis. Makam ini sering dikunjungi oleh wisatawan setelah dari Masjid Laweyan. Ki Ageng Henis adalah sosok yang menjadi penasihat kerajaan mendampingi Sultan Hadiwijaya.

4. Pasar Laweyan

Pasar Laweyan juga salah satu peninggalan Kerajaan Pajang. Nama Laweyan berasal dari kata Ngaliyan. Laweyan adalah tempat untuk warga Desa Nusupan menghindari bencana banjir dari Sungai Bengawan Solo.

Cagar Budaya Laweyan ( Sumber : Cagar Budaya Kemdikbud)

5. Bandar Kabanaran

Bandar Kabanaran adalah pelabuhan yang dibangun untuk menghubungkan Pajang, Kampung Laweyan, dan Bandar besar Nusupan. Ide pembangunan pelabuhan ini berasal dari Kyai Ageng yang mengemban tugas untuk menyebarkan Islam. Kyai Ageng Henis mengajari warga Laweyan untuk membuat batik. Untuk mendukung perekonomian masyarakat, banyak pelabuhan yang dibangun di bagian selatan Kampung Laweyan.

Baca Juga : Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon: Silsilah & Arsitekturnya

Demikian penjelasan dari Munus tentang  pendiri, para rajanya serta apa saja peninggalan dari Kerajaan Pajang. Semoga penjelasan ini bermanfaat untuk kalian.

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Mengenal Kerajaan Pajang : Letak, Raja, & Peninggalannya

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Busur panah telah menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia selama berabad-abad. Seni memanah telah diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap menjadi bagian dari budaya dan tradisi bangsa. Artikel ini akan mengenalkan Anda pada berbagai bentuk busur panah yang ada di Indonesia, serta memberikan wawasan tentang pentingnya seni memanah dalam masyarakat Indonesia. Apa Itu Busur […]

    Trending

    Terdapat ragam seni pertunjukan yang terkenal di Bali, salah satunya adalah tari Topeng Sidakarya yang merupakan bagian penting dari upacara keagamaan Hindu. Tari Topeng Sidakarya adalah salah satu seni pertunjukan di Bali yang dipentaskan dari generasi ke generasi. Biasanya, seni pertunjukan ini ditampilkan sebagai bagian dari upacara sakral kaum Hindu, yaitu upacara Yadnya. Seni tari […]
    Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bentuk budaya, salah satunya tari tradisional. Tari Melemang merupakan tarian adat yang berasal dari Tanjungpisau negeri Bentan Penaga, Bintan, Kepulauan Riau. Tari malemang mengisahkan tentang kehidupan kerajaan di Bintan pada zaman dahulu. Tarian ini mengombinasikn unsur tari, musik, serta nyanyian menjadi kombinasi tari yang indah. Ingin tahu lebih […]
    Alat musik gambus adalah salah satu alat musik tradisional Riau yang dimainkan dengan cara dipetik. Menurut sejarah, musik tradisional ini lekat dengan budaya islam. Bentuknya memang sekilas mirip dengan gitar, namun cara memainkan gambus ini sedikit berbeda, Anak Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat musik gambus dan cara memainkannya, simak artikel Museum Nusantara kali […]
    Selama berabad-abad, Indonesia telah menjadi rumah bagi keberagaman budaya yang kaya, termasuk seni tari tradisional yang memukau. Tari tradisional Indonesia bukan hanya sekadar gerakan-gerakan artistik yang menakjubkan, tetapi juga mewakili identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat di berbagai daerah. Tari Sirih Kuning adalah salah satu jenis tarian tradisional yang memiliki akar budaya kuat bagi masyarakat Betawi. […]