Candi Muara Takus: Peninggalan Kerajaan Budha di Riau

3 min read

candi_muaratakus

Candi merupakan bangunan suci yang digunakan sebagai sarana pemujaan bagi dewa-dewi  pada masa Hindu-Budha. Banyak sekali situs peninggalan kerajaan Hindu-Budha dalam bentuk candi yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Candi Muara Takus yang terletak di kecamatan XII Koto, Kabupaten Kampar, Riau.

Maka dari itu, kali ini Munus telah merangkum informasi seputar candi ini secara lengkap. Yuk, simak penjelasannya dalam artikel ini.

Sejarah Candi Muara Takus

Penampakan Candi Muara Takus
Candi Muara Takus, foto oleh menyapariau,com

Candi ini merupakan satu-satunya peninggalan berbentuk candi dari Kerajaan Sriwijaya. Asal-usulnya sendiri masih menjadi misteri hingga kini dikarenakan belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang kuat. Diperkirakan bahwa candi ini dibangun pada masa kerajaan Sriwijaya antara abad ke-4 hingga abad ke-11 Masehi. Stupa khas Budhisme yang ada secara tidak langsung menjadi bukti bahwa agama Budha pernah berkembang dikawasan tersebut. Namun, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa candi ini merupakan perpaduan antara budaya Hindu-Budha. Hal ini dikarenakan ada bangunan candi yang menyerupai mahligai berupa kelamin laki-laki (lingga) dan kelamin perempuan (yoni).

Asal Usul Nama Candi Muara Takus

Terdapat dua pendapat yang membahas tentang asal usul nama candi ini. Yang pertama menyatakan bahwa nama Takus berasal dari salah satu anak sungai yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan. Dan pendapat kedua menyatakan bahwa nama Takus Berasal dari bahasa Cina yaitu Ta yang artinya besar, Ku yang artinya tua, dan Se yang artinya candi atau kuil. Secara keseluruhan, dalam bahasa Cina nama tersebut dapat diartikan sebagai candi tua yang besar dan terletak di sekitar muara sungai.

Kompleks Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan. Terdapat empat bangunan candi yang yang ada di kompleks tersebut. Berikut ini merupakan penjelasan singkatnya:

Candi Tua 

Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan candi terbesar di kompleks ini memiliki 36 sisi yang tersusun oleh batu pasir dan batu cetak. Terdapat tiga bagian yaitu bagian atap, badan dan kaki dengan ukuran 32.8 meter x 21.8 meter. Bagian kaki dibagi menjadi dua bagian, dimana pada bagian pertama memiliki tinggi 2.37 meter, sedangkan pada bagian dua memiliki tinggi 1.98 meter. Terdapat tangga masuk pada bagian timur selebar 4 meter dan di bagian barat selebar 3.08 meter yang dijaga dengan patung singa. Bentuk dari candi ini merupakan lingkaran dengan diameter kurang lebih 7 meter persegi dan tinggi 2.5 meter.

Candi Mahligai

Candi Mahligai atau disebut juga Stupa Mahligai memiliki bangunan yang paling utuh dibandingkan yang lainnya di kompleks Candi Muara Takus. Stupa mahligai dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari bagian atap, bagian badan, dan bagian kaki. Bangunan ini menghadap ke selatan dan memiliki 28 sisi.

Dalam area ini, terdapat ukiran dengan gambar lotus ganda pada bagian dasar, sedangkan di bagian tengah terdapat menara silinder yang terdiri dari 36 sisi, dimana pada bagian dasar sisi memiliki bentuk kelopak bunga. Dan pada bagian atas candi berbentuk lingkaran. Secara keseluruhan, candi ini memiliki bentuk menara yang mirip seperti yoni.

Candi Palangka

Candi Palangka dengan panjang 5.10 meter dan lebar 5.7 meter serta tinggi kurang lebih 2 meter terletak 3.85 meter sebelah timur dari area Mahligai. Bangunan ini dibuat dari batu bata merah yang tidak dicetak dan menghadap ke arah utara yaitu area pintu masuk. Diperkirakan candi ini dulunya digunakan sebagai Altar. 

Candi Bungsu

Candi ini dibuat dari batu bata merah dengan panjang 13.2 meter dan lebar 16.20 meter yang terletak di sebelah timur Candi Mahligai. Bentuk dari Candi Bungsu mirip dengan Candi Sulung, namun bagian atasnya memiliki bentuk persegi. Pada bagian timur candi terdapat beberapa stupa berukuran kecil dan tangga yang terbuat dari batu putih. Bagian atas candi memiliki 20 sisi.

Seorang peneliti bernama Yzerman menemukan lubang di bagian pinggiran padmasana stupa yang didalamnya terdapat tanah dan abu. Di dalam tanah tersebut ditemukan tiga keping emas. Sedangkan di dasar lubang ditemukan satu keping lagi emas yang bergambar trisula dan 3 huruf nagari. Ia juga menemukan batu persegi di bawah lubang dengan gambar trisula dan 9 huruf nagari di bagian bawah batu tersebut.

Bangunan ini terdiri dari dua jenis batu, yaitu batu pasir pada bagian utara dan batu bata pada bagian selatan. Diperkirakan bahwa pada awal pembangunannya, candi ini dibuat dari batu pasir, kemudian terjadi pembangunan ulang menggunakan batu bata.

Arsitektur Candi Muara Takus

Candi Muara Takus, Peninggalan Kerajaan Budha di Riau
Candi Muara Takus, peninggalan kerajaan Budha di Riau, foto oleh versesoftuniverse,com

Arsitektur bangunan candi ini bersifat Budha dikarenakan adanya stupa yang merupakan lambang dari Budha Gautama. Berdasarkan fungsinya stupa dibedakan menjadi tiga, yaitu :

  1. Stupa sebagai bagian dari suatu bangunan.
  2. Stupa berdiri sendiri maupun berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.
  3. Pelengkap kelompok sebagai candi perwara.

Berdasarkan fungsi di atas, Candi Muara Takus memiliki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri maupun berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.

Selain itu, arsitektur stupanya memiliki keunikan tersendiri karena tidak dapat ditemui di tempat lain di Indonesia. Bentuk ini memiliki kesamaan dengan stupa di Myanmar, Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa dengan ornamen sebuah roda dan kepala singa.

Terdapat dua bangunan yang memiliki patung singa yakni Candi Tua dan Candi Mahligai. Di Candi Tua, arca singa terletak di depan candi atau di tangga masuk candi. Sedangkan di Candi Mahligai, arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini berdasarkan konsep dari kebudayaan India, yang dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol kekuatan baik.

Akses Menuju Candi Muara Takus

Candi ini terletak cukup jauh yaitu 135 kilometer dari ibu kota Pekanbaru . Hal ini membuat anak nusantara harus menyisihkan kurang lebih sekitar tiga hingga empat jam dari kota Pekanbaru untuk sampai ke lokasi candi.

Maka dari itu, akan lebih baik untuk memulai perjalanan ketika subuh agar bisa tiba di lokasi sebelum siang. Karena pemandangan yang ditawarkan akan terasa sangat indah di pagi hari. Sedangkan jika siang atau sore hari, cuaca akan cukup terik dan sering terjadi hujan.

Akses menuju candi ini dapat ditempuh melalui jalur darat yaitu dari kota Pekanbaru menuju Bukittinggi, hingga sampai di Muara Mahat. Dari Muara Mahat, akan ada jalur kecil menuju Muara Takus. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, anak nusantara dapat menggunakan kendaraan umum seperti angkot, bus kota, ataupun superben (angkutan umum) dari kota Pekanbaru menuju lokasi. 

Last Updated on Oktober 17, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll up